Thursday, 06 August 2020


Pasar Luas, Masyarakat Minahasa Utara Budidaya Nila

16 Jun 2020, 17:02 WIBEditor : Indarto

Budidaya nila | Sumber Foto:Dok. Biro Humas dan KLN

Produksi ikan nila di Sulawesi Utara kurun waktu 2015-2019 mengalami peningkatan sebesar 16,98 persen. Sedangkan kurun waktu yang sama untuk produksi ikan nila nasional juga mengalami kenaikan sebanyak 5,45 persen.

 


TABLOIDSINARTANI.COM, Minahasa Utara-- Industri sektor kelautan dan perikanan akan menjadi andalan pada masa yang akan datang. Meski dilanda pandemi covid 19, harga udang mencetak rekor tertinggi, dan  menjadi bukti pasar global memiliki permintaan yang tinggi terhadap produk perikanan Indonesia. Begitu juga budidaya air tawar seperti nila yang dikembangkan masyarakat Minahasa Utara juga diminati pasar.

“Saya yakin hal yang sama juga akan terjadi pada produk ikan air tawar," ujar Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo, di Minahasa, Selasa (16/6)

Diantara komoditas air tawar yang menjanjikan itu adalah nila. Masyarakat di Desa Tetey, Kecamatan Dimembe, Kabupaten Minahasa Utara, sudah sejak lama membudidaya nila.

Data sementara dari KKP menyebutkan, produksi ikan nila di Sulawesi Utara  kurun waktu 2015-2019  mengalami peningkatan  sebesar 16,98 persen. Sedangkan kurun waktu yang sama untuk produksi ikan nila nasional juga mengalami kenaikan sebanyak 5,45 persen.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto mengatakan,  nila termasuk komoditas favorit untuk dibudidayakan  masyarakat, khususnya di wilayah Sulawesi . Sebab, permintaan pasar yang cukup banyak.

" Untuk memfasilitasi kebutuhan pembudidaya akan teknologi budidaya, benih bermutu serta pakan berkualitas, KKP memiliki Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Tatelu yang siap untuk memenuhi kebutuhan pembudidaya di Sulawesi serta wilayah Timur Indonesia," kata Slamet.

Slamet mengaku, ikan nila banyak dibudidayakan masyarakat karena memiliki berbagai kelebihan seperti dapat tumbuh dengan cepat, lebih resisten terhadap penyakit, dan dapat bertahan pada perubahan lingkungan. Selain itu media pemeliharaan yang dapat digunakan juga beragam, mulai dari kolam tanah, kolam beton, kolam terpal,  keramba maupun di tambak untuk komoditas nila salin.

Menurut Slamet,   pemahaman pembudidaya akan keseluruhan proses budidaya mulai dari pemilihan lokasi dan sumber air yang baik sangat diutamakan. Begitu juga pemakaian benih berkualitas, manajemen pemberian pakan, monitoring kualitas air, kesehatan ikan dan lingkungan merupakan hal esensial yang perlu dicermati agar keuntungan yang didapat lebih maksimal.

Sedangkan untuk mendukung suplai benih berkualitas di masyarakat, KKP akan fokus pada program industrialisasi benih nasional.  Termasuk penataan sistem logistik di sentral produksi budidaya.

"  Teknologi pembenihan ikan nila yang mampu menaikkan produktivitas benih seperti Recirculation Aquaculture System (RAS) maupun Hatchery Skala Rumah Tangga (HSRT) akan terus didorong untuk dapat dikuasai dan diadopsi oleh masyarakat pembenih di berbagai daerah di Indonesia," papar Slamet.

Data KKP menyebutkan, pada tahun 2019 BPBAT Tatelu berhasil mencatatkan produksi benih ikan air tawar sebanyak 10,8 juta ekor. Benih tersebut sebagian besar diantaranya diserahkan kepada masyarakat dalam bentuk bantuan kepada kelompok pembudidaya maupun kegiatan restocking.

Total sebanyak 6,4 juta ekor diantaranya merupakan benih ikan nila. Sedangkan untuk tahun 2020, hingga bulan Mei 2020 BPBAT Tatelu telah menyerahkan bantuan benih ikan nila sebanyak 1,93 juta ekor kepada masyarakat.

Salah seorang pembudidaya di Desa Tetey, Robert Oni Wagiu mengatakan, budidaya ikan nila di desa Tetey sudah berlangsung lebih dari 20 tahun. Ada sekitar 30 pemilik kolam dengan potensi total luas lahan sekitar 60 ha. Sehingga,  Desa Tetey menjadi kawasan budidaya ikan nila. 

 

Reporter : Dimas
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018