Friday, 10 July 2020


Petugas Selamatkan Penyu Belimbing Terjerat Jaring

25 Jun 2020, 16:37 WIBEditor : Indarto

Penyu belimbing | Sumber Foto:Dok. Humas PSDKP

Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea) tersebut berukuran cukup besar dengan panjang total 210 cm. Sedangkan panjang karapas 145 cm, dan lebar karapas 88 cm. Kemudian tungkai depan 80 cm dan tungkai belakang 45 cm.

 


TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--- Seekor penyu belimbing (Dermochelys coriacea) yang terjerat jaring insang seorang nelayan di Flores Timur. Berkat kesigapan petugas, penyu yang kerapasnya memiliki garis-garis seperti buah belimbing ini berhasil diselamatkan dan dilepasliarkan di alam bebas.

Penyu belimbing yang diselamatkan petugas Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan-KKP bersama  Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Flores Timur,  serta salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Wildlife Conservation Society (WCS) merupakan salah satu hewan laut yang dilindungi.

Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP), Tb. Haeru Rahayu mengatakan,  petugas Ditjen PSDKP-KKP bertindak sigap seteleh menerima informasi yang diberikan oleh masyarakat terkait adanya penyu belimbing yang terjerat oleh jaring nelayan tersebut.  ”Alhamdulillah berkat kesigapan petugas di lapangan, penyu belimbing yang terjerat oleh jaring nelayan di Flores Timur dapat diselamatkan dan dilepasliarkan ke alam," kata  Tb Haeru Rahayu, di Jakarta, Kamis (25/6).

Keberhasilan penyelamatan penyu tersebut, lanjut Tb, tak lepas dari peran masyarakat yang sangat concern dengan perlindungan penyu. Begitu melihat ada penyu yang terperangkap, mereka segera melaporkan kepada Satwas SDKP Flores Timur yang kemudian bersama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan serta WCS melakukan langkah-langkah penyelamatan.

Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea) tersebut berukuran cukup besar dengan panjang total 210 cm. Sedangkan panjang karapas 145 cm, dan lebar karapas 88 cm. Kemudian tungkai depan 80 cm dan tungkai belakang 45 cm.

"  Penyu tersebut kemudian dilepasliarkan dalam keadaan hidup di perairan Desa Nurabelen, Kec. Ilebura, Flores Timur," ujarnya.

Direktur Pengawasan Pengelolaan Sumber Daya Kelautan, Matheus Eko Rudianto mengatakan, penyu belimbing ini merupakan salah satu jenis ikan yang dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Penyu juga masuk dalam Appendix 1 CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna). Karena itu, siapa saja yang melakukan perdagangan terhadap penyu bisa dipidana.

”Berdasarkan Undang Undang No 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, pelaku perdagangan (penjual dan pembeli) satwa dilindungi seperti penyu itu bisa dikenakan hukuman penjara 5 tahun dan denda Rp 100 juta," papar Eko.

Eko juga menekankran pentingnya menjaga kelangsungan spesies penyu karena jumlahnya semakin menurun dan memiliki peran penting sebagai pengendali ekosistem laut.

Penyu termasuk satwa langka yang dilindungi secara internasional. " Langka karena banyak dieksploitasi oleh manusia dan juga secara alami kita tahu bahwa hanya 1persen penyu yang bisa bertahan hidup dari sejumlah telur yang dihasilkan”, ujar Eko

Menurut Eko, penyu dapat menjadi indikator kesehatan perairan. Sebab, penyu ditengarai suka  makan gulma dan tumbuhan di sekitar terumbu karang.  Keberadaan penyu di wilayah tertentu akan membantu kelestarian terumbu karang yang diperlukan sebagai rumah bagi ikan. Itulah sebabnya keberadaan penyu harus dijaga.

Data Ditjen PSDKP menyebutkan,  selama masa pandemi covid 19, ada sembilan kasus yang ditangani oleh Ditjen PSDKP bersama dengan instansi terkait di berbagai wilayah di Indonesia. Beberapa ikan dilindungi seperti fugong, penyu dan paus berhasil diselamatkan dalam kurun waktu tersebut. 

 

Reporter : Dimas
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018