Tuesday, 14 July 2020


Potensi Pasar Terbuka, KKP Kembangkan Budidaya Ikan Kobia di Tiga Kawasan

29 Jun 2020, 13:56 WIBEditor : Indarto

Ikan kobia | Sumber Foto:Dok. Humas DJPB

KKP berencana mengembangkan komoditas baru ini di tiga wilayah, yakni Kepulauan Seribu, Lampung, dan Kepulauan Riau. Pengembangan kobia di masyarakat ini untuk merespon permintaan pasar domestik maupun ekspor yang diprediksi akan meningkat.

 

 


TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Setelah sukses mengembangkan benih ikan kobia (gabus laut), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersiap mempercepat pengembangan ikan bernilai ekonomi tinggi tersebut di masyarakat.


Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo mengatakan, pada tahun ini KKP berencana mengembangkan komoditas baru ini di tiga wilayah,  yakni Kepulauan Seribu, Lampung, dan Kepulauan Riau. Pengembangan kobia di masyarakat ini untuk merespon permintaan pasar domestik maupun ekspor yang diprediksi akan meningkat.

"Budidaya laut memiliki potensi ekonomi yang besar. Namun, pemanfaatannya hingga saat ini masih dibawah 10 persen. Oleh karenanya, saya berharap komoditas ikan kobia dapat dikembangkan untuk mendorong kontribusi ekonomi masyarakat dan devisa negara," papar Menteri Edhy, di Jakarta, Senin (29/6).

Menurut Menteri Edhy, ikan kobia dengan berbagai keunggulannya punya potensi besar untuk dikembangkan. KKP  akan berupaya untuk mendorongnya, khususnya terkait pemasarannya.

" Saya berharap budidaya ikan kobia  juga memberikan multiplier effect terhadap bisnis ikutan yang bisa berkembang di masyarakat,  mulai perbenihan, sarana prasarana produksi dan usaha lainnya," ujarnya.

Menteri Edhy juga menegaskan komitmen KKP untuk memberikan kemudahan akses guna menumbuhkembangkan usaha di bidang perikanan budidaya.

"Ada 29 regulasi yang sudah dan sedang kita review, ini tentu untuk memastikan agar masyarakat merasa aman dalam berusaha tanpa terkungkung oleh aturan aturan yang memberatkan. Dari sisi permodalan, ayo manfaatkan skema pembiayaan yang dimiliki pemerintah," papar  Edhy.

Potensi Pasar Masih Terbuka

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto mengatakan, kurun lima tahun ke depan pengembangan budidaya laut harus melakukan transformasi ke arah pengelolaan yang berbasis WPP (Wilayah Pengelolaan Perikanan).  Pengelolaan berbasis WPP akan memungkinkan pemanfaatan potensi yang lebih terukur, terintegrasi dan adanya penguatan kelembagaan yang kuat.

" KKP telah melakukan pemetaan potensi berbasis komoditas unggulan di masing-masing WPP," ujar Slamet.

Menurut Slamet,  ada empat pilar yang akan didorong dalam pengembangan budidaya laut nasional. Diantaranya,  teknologi berbasis daya dukung; sosial ekonomi; pengembangan pasar dan lingkungan.

" Saya rasa ini yang akan kita dorong sehingga budidaya laut lebih sustain. Khusus untuk pasar, ini penting sehingga ada suplai yang terukur nantinya," kata Slamet.

Slamet mengatakana, saat ini KKP tengah melakukan pemetaan target kawasan pengembangan kobia dan juga action plan dalam jangka pendek.

Dalam kesempatan tersebut,  CEO Sillyfish Indonesia, Rika Puspita, mengatakan,  selama masa pandemi covid-19 justru market demand komoditas perikanan naik. Upaya yang dilakukan yakni melakukan branding premium pada produk olahan ikan kobia dan membangun link pasar di luar negeri.

" Kami proyeksikan pasar produk ikan kobia akan terus naik seiring meningkatnya preferensi konsumen. Kami optimis market akan terus terbuka dan trendnya akan naik ya. Faktanya selama covid-19 ini justru permintaannya naik," jelasnya.

Rika mengatakan, sangat penting untuk membangun branding premium untuk ikan kobia. Mengingat,  target segmen konsumennya berbeda dengan komoditas lainnya.

" Kita ingin kobia ini tetap premium, sehingga nilai tambahnya juga bisa lebih besar dirasakan pembudidaya. Keunggulan yang menonjol kobia hasil budidaya ini yakni tidak bau amis, daging putih dan rendah kadar histamin. Ini yang akan terus kita kampanyekan," pungkas Rika.

Seperti diketahui, sudah 10 tahun lalu Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung mengembangkan pembenihan kobia yang saat ini sudah bisa dibudidaya di masyarakat. Selain punya nilai ekonomi tinggi, pertumbuhan ikan relatif cepat, tahan terhadap penyakit dan memiliki kualitas daging yang bagus.

BBPBL Lampung saat ini sudah siap untuk suplai benih sekitar 6.000-7.000 ekor per siklus (2-3 bulan). Artinya, dari BBPBL Lampung  minimal mampu menyiapkan benih kobia sekitar 36 ribu ekor/tahun.

Pastinya, untuk pengembangan budidaya ikan kobia di masyarakat, benihnya tak hanya dari balai saja. BBPBL Lampung akan menggandeng pembenih ikan laut dalam rangka pengembangan hatchery skala  rumah tangga di masyarakat. 

 

 

Reporter : Dimas
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018