Monday, 28 September 2020


Budidaya Cacing Sutera, Pacu Produktivitas Benih

05 Aug 2020, 11:52 WIBEditor : Indarto

Budidaya cacing sutera | Sumber Foto:Dok. Indarto

Usaha perbenihan lele, patin dan juga gurame tak bisa lepas dari keberadaan cacing sutera. Keberadaan cacing sutera sebagai pakan alami tak bisa dihilangkan. Mengingat, cacing sutera sangat esensial dan penting bagi pembudidaya.

 



TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Keberadaan pakan alami sangat penting dalam proses perbenihan ikan. Kendati begitu, pakan alami ini kerap dilupakan atau dikesampingkan, karena tak semua orang telaten membudidaya pakan alami. Padahal, pakan alami menjadi satu kunci sukses saat melakukan budidaya ikan ataupun udang.

Keberadaan pakan alami jangan dianggap sepele. Sebab, dengan pakan alami inilah kunci  utama suksesnya usaha pembenihan ikan atau udang. Nah, salah satu pakan alami yang sudah populer bagi pembudidaya adalah cacing sutera.

" Tubifex atau cacing sutera, merupakan limiting faktor. Artinya, kalau tanpa tubifex, produksi benih akan terganggu," ujar Dirjen Perikanan Budidaya, Slamet.Soebjakto, dalam sebuah webinar, di Jakarta, Rabu (5/8).

Slamet mengatakan, usaha perbenihan lele, patin dan juga gurame tak bisa lepas dari keberadaan cacing sutera. Keberadaan cacing sutera sebagai pakan alami tak bisa dihilangkan. Mengingat, cacing sutera sangat esensial dan penting bagi pembudidaya.

Menurut Slamet, selain tubifex, pakan alami seperti, rotifera, artemia, moina ataupun daphnia  merupakan kunci untuk budidaya ikan ataupun udang.  “Orang jarang sekali melihat padahal pakan alami punya peranan sangat penting atau bahkan dianggap sebagai pondasi dalam berbudidaya ikan,” kata Slamet.

Lantaran keberadaannya cukup esensial, Slamet menekankan agar kegiatan budidaya pakan alami terus dikembangkan di UPT Perikanan Budidaya, Badan riset dan lainnya. Tubifex dan juga pakan alami lainnya seperti daphnia, cladosera, kedepannya punya potensi bisnis menarik, bahkan bisa menjadi skala industri.

Menurut Slamet, pihaknya tak sekadar mengembangkan tubifex saja. Namun, ke depannya  akan ada spesialisasi pengembangan jenis-jenis pakan alami.

" Kalau kita ingin membangun industri benih, maka industri pakan alami juga harus dibangun. Sehingga nanti akan ada spesialisasi orang khusus membangun rotifera saja, memproduksi tubifex saja, ada yang memproduksi chlorella saja. Dengan begitu industrialisasinya dapat dibangun  kokoh," paparnya.

Guna mencapai tujuan tersebut, lanjut Slamet, pihaknya akan menempuh dengan sejumlah strategi. Pertama,  yaitu input produksi, jelas diperlukan secara berkesinambungan.  Kedua, volume sesuai seperti  yang diperlukan. Ketiga, kualitas harus dijamin dan dijaga dengan sebaik mungkin. 

Slamet memberi contoh, kalau  produksi tubifex biasanya dapat di saluran, kolam-kolam  irigasi, sehingga biosecurity serta higienismenya kurang terjamin.

“Saya melihat BBPBAT Sukabumi sudah berhasil dengan metode apartemennya, dan BPBAT Tatelu sudah berhasil dengan kolamnya," ujarnya.

Slamet juga mengatakan, beberapa pengusaha juga sudah ada, termasuk dulu di Sleman yang produksi cacing sutera disawah. Namun, budidaya cacing sutera tersebut  belum bisa dijaga kebersihan dan kualitasnya.

" Karena tubifex yang  akan kita berikan adalah tubifex yang betul-betul murni tidak membawa penyakit. Sehingga dalam berbudidaya, kita harus menggunakan wadah yang terkontrol," tegas Slamet.

Seperti diketahui,  artemia dan tubifex harganya mahal. Sebab, dalam membudidayakannya membutuhkan keahlian. Meski begitu budidaya pakan alami ini bisa dipelajari.

" Jadi, tinggal kemauan dan keuletan kita semua untuk menjalaninya. Pakan alami mempunyai nilai ekonomi yang tinggi, makanya kalau digarap dengan baik, akan mempunyai nilai tambah, dan baik juga untuk kesejahteraan pembudidaya," jelas Slamet.

Ajak Stakeholder

Menurut Slamet, melihat pentingnya pakan alami ini, pihaknya mengajak seluruh stakeholder, baik UPT yang ada pusat maupun daerah dan juga di Litbang serta semuanya yang terlibat dalam produksi ikan ini khususnya pembenihan, mengembangkan pakan alami ini secara berkesinambungan. Pengembangan pakan alami akan mendorong produktivitas perikanan budidaya meningkat.

" Pengembangan pakan alami juga berdampak positif dalam memajukan perekonomian nasional dan kesejahteraan pembudidaya ikan," ujarnya.

Sementara itu, Direktur Pakan dan Obat Ikan DJPB, Mimid Abdul Hamid mengatakan, budidaya pakan alami seperti cacing sutera adalah salah satu pakan alami yang sangat strategis untuk mendukung produksi benih ikan nasional. “Target produksi  ikan pada tahun 2020 kurang lebih sebanyak 6,2 juta ton.  Target tersebut   mustahil tercapai apabila kita tidak mempunyai benih yang berkualitas. Sementara untuk mendapatkan benih yang berkualitas, harus didukung juga dengan pakan alami yang berkualitas," papar Mimid.

Mimid mengaku, saat ini jumlah kebutuhan cacing sutera sangat besar, seiring kebutuhan  benih yang terus meningkat. Sedangkan  harga cacing sutera  di luar Jawa berkisar  Rp 80 ribu rupiah per liter.

Praktisi Pakan Alami, Didik Iwak Banyu, mengatakan, pakan alami ini sangat penting guna menjaga pasokan benih, terutama di musim hujan. Pakan alami  sangat menjaga keberlangsungan dari produksi benih.

" Kalau benih tersedia, produksi juga tidak terganggu, maka volume produksi perikanan budidaya nasional akan terus naik,” pungkasnya. 

 

Reporter : Dimas
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018