Saturday, 19 September 2020


50 Ekor Tukik Hasil Penetasan Alami Dilepasliarkan

09 Sep 2020, 13:51 WIB

Pelepasliaran tukik | Sumber Foto:Dok. Humas PRL

Konservasi tidak hanya untuk perlindungan jenis saja, tetapi juga harus menambah nilai ekonomis bagi masyarakat sekitar sehingga tercapai keseimbangan antara konservasi dan kesejahteraan masyarakat.

 

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---- Pelepasan tukik di perairan umum kembali dilakukan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Kali ini, sebanyak 50 ekor tukik dilepasliarkan Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Makassar , Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (Ditjen PPRL) bersama Lembaga Lingkar Pemuda Peduli Lingkungan Hidup (LPPLH) dan Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Pertamina Pare-Pare,  di Pantai Lowita,  Pinrang Sulawesi Selatan. Tukik yang dilepaskan merupakan hasil penetasan telur dalam sarang alami di Pantai Lowita.

 Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (Dirjen PRL) Aryo Hanggono mengatakan, pelepasliaran tukik pada Rabu 2 September 2020  lalu, sebagai upaya menjaga keberlanjutan sekaligus meningkatkan potensi wisata di sana.  Sebabm kegiatan wisata berbasis konservasi dapat menjadikan mata pencaharian alternatif masyarakat. 

 “Saya berharap konservasi tidak hanya untuk perlindungan jenis saja, tetapi juga harus menambah nilai ekonomis bagi masyarakat sekitar sehingga tercapai keseimbangan antara konservasi dan kesejahteraan masyarakat,”kata Aryo, di Jakarta, Rabu (9/9).

 Dalam kesempatan tersebut, Aryo mengingatkan dalam pelaksanaan wisata berbasis konservasi harus tetap memperhatikan objek konservasinya. Sehingga agar masyarakat tidak mengubah perilaku dan sifat alamiah penyu.

 Sementara itu, Kepala BPSPL Makassar Andry Sukmoputro mengatakan, warga Sulawesi patut berbangga karena dari 6 jenis penyu yang berada di Indonesia, 5 di antaranya ada di Sulawesi, yaitu penyu tempayan, penyu lekang, penyu belimbing, penyu hijau, dan penyu sisik.

 “Menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menjaga dan melestarikannya” ujar Andry saat memberikan sosialisasi di Pinrang.

 Pada kesempatan yang sama, Andry turut menyerahkan poster dan stiker terkait perlindungan penyu dan Jenis-jenis Ikan dilindungi lainnya sebagai informasi kepada masyarakat agar turut mendukung perlindungan biota-biota tersebut.

 “Penyu merupakan biota laut yang dilindungi, sehingga jika terjadi pelanggaran terhadap pemanfaatan jenis ikan yang dilindungi oleh Negara, maka dapat diancam pidana lama 1 tahun,” paparnya.

 Ketua LPPLH Andi Abbas mengatakan hal senada. Menurutnya, Pantai Lowita merupakan tempat naik penyu bertelur. “Pada musim penyu bertelur, frekuensi penyu naik bertelur dapat mencapai 2 sampai 3 kali,” kata  Andi.

 Dengan adanya kegiatan sosialisasi dan pelepasliaran tukik di pantai Lowita tersebut, Andi berharap dapat meningkatkan jumlah kunjungan wisata di Kab. Pinrang, khususnya di Pantai Lowita. 

 “Wisata berbasis konservasi seperti ini, selain dapat melestarikan biota dilindungi yaitu penyu, juga dapat memberikan edukasi dan pendapatan lebih untuk masyarakat,” pungkasnya.

 

 

 

 

 

Reporter : Dimas
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018