Monday, 28 September 2020


Produksi Tinggi, Petambak Mulai Budidaya Udang Secara Intensif

15 Sep 2020, 11:51 WIBEditor : Indarto

Tambak udang intensif | Sumber Foto:Dok. Humas DJPB

Tambak udang yang dikelola secara intensif ini dibagi dalam 43 kolam. Luas masing masing kolam 1.000 m2 dan diisi benih udang vaname dengan kepadatan 200 ekor/m2 . Luas lahan kolam budidayanya hanya kurang lebih 4,3 ha.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Muaragembong----- Usaha budidaya udang secara intensif saat sudah dilakukan sejumlah kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan). Salah satunya adalah Pokdakan Mina Mekar Sejahtera, di Kecamatan Muaragembong, Kabupaten Bekasi , Jawa Barat (Jabar). Melalui budidaya udang secara intensif, diharapkan mampu meningkatkan produksi udang sebanyak 70 ton/tahun dan diperkirakan omzetnya sekitar Rp 5,6 miliar/tahun.

 Ketua Pokdakan Mina Mekar Sejahtera, Ikhsan mengatakan, melakukan  revitalisasi model tambaknya dari konvensional menjadi tambak intensif, pada awal tahun 2020. Alasannya melakukan revitalisasi tambak, dikarenakan usaha budidaya udang vaname secara konvensional yang ditekuninya sejak tahun 2018 kerap kali mengalami kegagalan panen.

 “ Selama 2 tahun, kami mengalami banyak kegagalan produksi. Selama usaha budidaya tambak udang vaname dengan sistem konvensional, produktivitas yang kami peroleh 100-200 kg/ ha,’ ujar Ikhsan, di Muaragembong, Bekasi, Jabar, Selasa (15/9).

 Menurut Ikhsan, dengan melakukan revitalisasi tambak di lahan seluas 10 ha hasilnya akan lebih baik. Tambak udang yang dikelola secara intensif ini dibagi dalam  43 kolam. Luas masing masing kolam 1.000 m2 dan diisi benih udang vaname dengan kepadatan 200 ekor/m2 . Luas lahan kolam budidayanya hanya kurang lebih 4,3 ha.

 “Sisal ahan kami buata untuk kolam treatment dan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Jumlah anggota sebanyak 75 orang yang mayoritas merupakan penduduk asli Muaragembong,” katanya.

 Setelah melakukan usaha budidaya udang secara intensif (padat tebar tinggi), Ikhsan selalu menerapkan   standar operasional prosedur (SOP). Dengan budidaya udang secara intensif ini, ia optimistis bisa berhasil meningkatkan produktivitas dan mendapatkan keuntungan berlipat. Diharapkan, produksinya  bisa mencapai berkisar 70 ton/ tahun, sehingga diperkirakan akan memperoleh omzet sekitar Rp 5,6 miliar/tahun.

 Ikhsan mengaku,  memilih usaha budidaya tambak udang, karena udang merupakan komoditas yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan peluang pasar ekspor yang tinggi. Meski pandemi Covid-19 masih terus berlangsung, namun usaha budidaya tambak udang tetap menjadi andalan usaha budidaya di Indonesia.

 “ Selain itu menjadi petambak udang vaname adalah usaha yang menjanjikan dan ikut berkontribusi pada upaya penyerapan tenaga kerja apalagi saat ini banyak orang di PHK akibat terdampak Covid-19,” papar Ikhsan.

 Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto mengapresiasi usaha budidaya tambak udang yang dilakukan Pokdakan Mina Mekar Sejahtera. Usaha budidaya tambak udang Mina Mekar Sejahtera ini merupakan kegiatan lanjutan dari kagiatan yang pernah dihadiri oleh Bapak Presiden RI di Kecamatan Muaragembong sebelumnya.

 “ Beliau berharap lahan-lahan di Muaragembong bisa terus dioptimalkan manfaatnya bagi kepentingan ekonomi masyarakat dan tentunya pengembangan selalu diarahkan pada usaha budidaya yang berbasis sustainable aquaculture,” kata Slamet.

 Diharapkan, usaha budidaya tambak udang yang dilakukan Pokdakan Mina Mekar Sejahtera bisa ditiru oleh petambak udang lainnya di Kecamatan Muaragembong yang masih menerapkan sistem konvensional. “Dengan selalu menerapkan Best Management Practices (BEP) dalam usaha budidaya tambak udangnya, maka usahanya akan berhasil,” ujarnya.

 Tingkatkan Produksi Udang

 Komoditas udang diharapkan bisa sebagai prioritas produksi perikanan budidaya terhadap perekonomian nasional dengan tetap mengacu pada prinsip produksi yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. Kementerian Kelautan dan Perikanan  (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) menyiapkan strategi peningkatan produksi udang nasional yakni melalui intensifikasi teknologi.

 KKP akan mendorong tambak konvensional untuk di up-grade sehingga memiliki produktivitas optimal. Dari yang semula kurang dari 1 ton per ha per siklus dalam pengelolaan tambak konvensional, dinaikkan sedikit menjadi tambak semi intensif maka hasilnya diperkirakan bisa mencapai berkisar 5-6 ton per ha per siklus.

 Pemilihan udang juga didasari pertimbangan, salah satunya potensi lahan produktif yang luas yakni sekitar 2,96 juta ha. Dari luas lahan tersebut, saat ini baru dimanfaatkan sekitar 0,6 juta ha.

 Slamet juga mengatakan, pemerintah akan mendorong kemudahan terhadap berbagai akses mulai dari informasi teknologi, input produksi yang efisien seperti induk/calon induk, benih bermutu, pakan dan sarana produksi lainnya, serta pasarnya. Terkait pembiayaan selain perbankan yang memegang dana Kredit Usaha Rakyat (KUR), di KKP sendiri ada Badan Layanan Umum Lembaga Pengelola Modal Usaha Kelautan dan Perikanan (BLU LPMKP) dengan bunga hanya sebesar 3 persen.

 

 

Reporter : Dimas
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018