Thursday, 30 June 2022


Transformasi Akuakultur di Era Disruptif

01 Oct 2020, 11:42 WIBEditor : Indarto

Budidaya sistem bioflok | Sumber Foto:Dok. Humas DJPB

Pengembangan perikanan budidaya memanfaatkan teknologi 4.0 melalui automatisasi sistem produksi dan inovasi digitalisasi dalam bisnis perikanan. Pemanfaatan teknologi canggih ini akan membuat rantai pasok semakin efisien dan keuntungan pembudidaya m

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta----Di masa pandemi covid 19, tata kehidupan banyak yang  berubah. Tak terkecuali,  di bidang akuakultur pun dituntut untuk melakukan transformasi dalam menghadapi pandemi covid 19.

 Direktur Jenderal (Dirjen) Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto mengatakan, paradigma baru harus terus dibangun dalam rangka menghadapi transformasi akuakultur di era disruptif ini. Saat ini ada perubahan fundamental yang sangat cepat dan merubah pola tatanan lama.

 “Karena itu, diperlukan industrialisasi perikanan budidaya yang efisien, bermutu dan berkelanjutan,” ujar Slamet Soebjakto, di Jakarta, Kamis (1/10).

 Menurut Slamet, strategi industrialisasi perikanan budidaya antara lain inovasi teknologi produksi untuk mendorong peningkatan produksi seperti revitalisasi tambak udang/bandeng dan model kluster sentra usaha. Kemudian,  modernisasi dan digitalisasi dalam sistem produksi dan mendorong rantai pasok industri perikanan budidaya,  pengembangan komoditas unggulan bernilai ekonomis tinggi yang berorientasi pemenuhan kebutuhan pasar domestik dan ekspor. Penerapan, sistem jaminan mutu produk melalui sertifikasi, standardisasi dan traceability serta mendorong keberlanjutan ekonomi, sosial dan lingkungan dan juga integrasi hulu dan hilir serta sinergitas lintas sektor.

  “Kita bangun kawasan kawasan perikanan budidaya berbasis pada teknologi yang sesuai dengan asas-asas keberlanjutan, bukan hanya lingkungannya saja tetapi juga usahanya harus berlanjut, keberlanjutan sosial ekonominya juga harus berlanjut,” papar Slamet.

 Dikatakan, pengembangan perikanan budidaya memanfaatkan teknologi 4.0 melalui automatisasi sistem produksi dan inovasi digitalisasi dalam bisnis perikanan. Pemanfaatan teknologi canggih ini  akan membuat rantai pasok semakin efisien dan keuntungan pembudidaya meningkat.

 “Saya memberikan apresiasi kepada inovasi digital dalam bentuk start up bidang perikanan yang telah berjalan sebagai bentuk implementasi penerapan teknologi, dan berharap dapat terus berkembang dari segi pemanfaatan dan ditingkatkan di berbagai level di era pandemi ini,” kata  Slamet. 

 Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor, Prof. Widanarni mengatakan,  kehilangan produksi akuakultur global akibat serangan penyakit mencapai  6 miliar  dollar ASper tahun. Akibat penyakit infeksi ini menyebabkan kehilangan 40 persen dari total produksi akuakultur global.

“ Peran mikroba untuk akukultur berkelanjutan di era disruptif ini antara lain memanfaatkan mikroba sebagai biokontrol patogen dan stimulan sistem imunitas, memanfaatkan mikroba sebagi promotor pertumbuhan dan memanfaatkan mikroba untuk memperbaiki kualitas lingkungan budidaya,” katanya.

 Dikatakan, keberadaan dan peran mikroba meskipun tidak dapat dilihat dengan kasat mata namun perannya begitu besa. Seperti pemanfaatan probiotik yakni mikroba hidup yang ditambahkan dan memberikan pengaruh menguntungkan bagi inangnya.

 “ Dengan memodifikasi komunitas mikroba, sehingga dapat menghambat pertumbuhan bakteri patogen seperti Vibrio sp. , memperbaiki nilai nutrisi pakan, memperbaiki kualitas  lingkungan dan meningkatkan respon imun,” kata Prof Widanarni.

 Hal senada juga disampaikan oleh Co-Founder JALA, Aryo Wiryawan. Menurutnya, kemajuan teknologi dengan mengandalkan Internet of Things (IoT) yang dikembangkan,  salah satunya menghasilkan digitalisasi data budidaya udang. Melalui teknologi ini, petambak nantinya akan semakin mudah dalam memantau perkembangan tambaknya dalam hal data budidaya darimana saja dan kapan saja.

 Menurut Aryo, data budidayanya dimasukkan ke dalam program aplikasi oleh teknisi di lapangan,  kemudian data tersebut dihubungkan dengan program aplikasi di smartphone pemilik tambak. Kemudahan digitalisasi data budidaya antara lain menghitung jumlah pakan yang digunakan dan estimasi pakan di hari berikutnya. Selain itu dapat menampilkan data pertumbuhan udang di kolam dan monitor kualitas air serta dapat membantu dalam pengambilan keputusan yang cepat dan tepat oleh teknisi di lapangan.

 “Adanya komputerisasi data digital dapat menghasilkan perhitungan yang tepat dan akurat. Kelebihan lain yang didapat dari metode tersebut adalah semua data budidaya tersimpan dengan aman dan rapi tanpa khawatir rusak dan hilang,” katanya.

 Dikatakan, data budidaya dapat dibuka kapan saja dan dimana saja, serta data budidaya dapat disajikan dalam bentuk yang mudah dianalisa. “Berbeda dengan metode konvensional berupa mencatat data budidaya dalam buku catatan yang berpotensi terjadinya data budidaya hilang atau rusak, kesulitan dalam mengakses data budidaya karena data tersimpan di tambak dan tampilan data tidak rapi dan sulit dianalisa,” pungkas Aryo.

 

 

Reporter : Dimas
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018