Saturday, 24 October 2020


Udang Jerbung, Spesies Udang Lokal Siap Dikembangkan

15 Oct 2020, 11:53 WIBEditor : Indarto

Udang jerbung | Sumber Foto:Dok. Humas DJPB

Khusus udang merguensis dan indicus akan terus dikembangkan teknologinya. Apabila memungkinkan dimaksimalkan hingga semi intensif.

 

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--- Pada era membangun produksi udang nasional seperti saat ini, diperlukan diversifikasi produk udang untuk mendongkrak peningkatan produktivitas udang nasional.  Selain tetap mengembangan budidaya udang (vaname), pembudidaya atau petambak bisa mengembangkan spesies udang lokal, seperti udang jerbung (Penaeus merguensis) dan udang putih (Penaeus indicus).

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto mengatakan, pemerintah telah mencanangkan target peningkatan nilai ekspor udang nasional sebesar 250 persen hingga tahun 2024. Guna mencapai target tersebut, berbagai teknologi dan inovasi terus dikembangkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara. UPt dibawah Ditjen Perikanan Budidaya ini akhirnya  berhasil melakukan domestikasi jenis udang putih lokal asli Indonesia jenis merguensis dan indicus.

“Dengan potensi lahan yang masih sangat luas atau baru sekitar 20-30 persen yang termanfaatkan, KKP akan menjalankan strategi untuk membangun kawasan-kawasan tambak udang sesuai dengan karakteristik spesies udang. Misalnya udang windu yang cocok untuk dikembangkan di kawasan tradisional organik dan semi intensif atau udang vaname yang cocok dengan karakteristik kawasan tradisional plus hingga intensif,” papar Slamet, dalam sebuah webinar, di Jakarta, Kamis (15/10).

Slamet mengatakan, khusus udang merguensis dan indicus akan terus dikembangkan teknologinya. Apabila memungkinkan dimaksimalkan hingga semi intensif. Apalagi Indonesia juga memiliki lahan yang masih luas untuk dapat dikembangkan.

Menurut Slamet, dengan hasil kajian pertumbuhan maksimal dari para ahli dan strategi penataan kawasan yang baik, Indonesia dapat menjadi pusat merguensis dan indicus di dunia.  Bahkan, Indonesia merupakan penginisiasi budidaya udang merguensis dan indicus.

“Dengan status merguensis dan indicus sebagai indigenous species atau spesies asli, harus dapat kita manfaatkan untuk menggenjot performa keseragaman agar terbentuk sejak awal. Kita memiliki sumber daya genetik dari alam Indonesia serta sumber daya manusia yang mumpuni untuk dapat meningkatkan performa tersebut menjadi semakin baik,”  kata Slamet.

Menurut Slamet, untuk menggenjot budidaya udang, pihaknya akan bekerjasama dengan dinas perikanan daerah untuk mengembangkan kawasan khusus budidaya udang merguensis dan indicus. Sebelumnya telah dilakukan uji coba multilokasi untuk pengembangan kawasan merguensis seperti di daerah Gresik, Pemalang, Brebes dan Demak.

“ Selain itu, dukungan sarana dan prasarana pada National Shrimp Broodstock Center (NSBC) di BBPBAP Jepara juga akan terus ditingkatkan guna meningkatkan performa induk dan benih yang dihasilkan,” ujarnya.

Kepala BBPBAP Jepara, Sugeng Raharjo mengatakan,  budidaya udang dan mendorong produksi udang nasional, pengembangan udang jenis merguensis dan indicus dapat menjadi sumber pendapatan baru bagi pembudidaya. Selain itu, udang putih lokal memiliki ketersediaan induk yang tinggi, toleransi salinitas yang lebar, siklus reproduksi yang lebih singkat dibandingkan dengan udang windu dan teknologi produksi benih yang telah dikuasai.

“ Ketersediaan lahan potensial yang masih luas termasuk tambak idle yang dapat dimanfaatkan serta mayoritas pembudidaya tradisional di Indonesia juga turut menjadi nilai ekonomis yang menjanjikan bagi usaha budidaya udang putih,”  jelas Sugeng.

BBPBAP Jepara telah melakukan sosialisasi dan pendampingan teknis langsung di lokasi percontohan tambak masyarakat dengan pola pemeliharaan berbasis klaster. Dengan pendampingan ini diharapkan dapat membangun kebersamaan antar pembudidaya dalam menerapkan kaidah budidaya yang baik, serta pemahaman akan pola budidaya serta pencegahan penyakit pada komoditas udang.

Sugeng mengatakan, antusiasme pembudidaya untuk mengembangkan budidaya udang putih lokal cukup besar.  Khususnya untuk di daerah Gresik, dimana Dinas Kelautan dan Perikanan setempat telah memberikan respon yang cukup positif dengan menyiapkan lahan seluas 1.336 ha yang tersebar di 14 desa untuk dapat dikembangkan menjadi kawasan khusus budidaya udang merguensis.

“ Semoga dengan semakin memasyarakatnya udang putih lokal ini dapat terus mendorong kemajuan budidaya udang nasional,” ujar Sugeng.

Hal senada juga dikemukakan oleh Guru Besar Bidang Akuakultur Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Negeri Diponegoro, Budi Prayitno. Menurut Budi, udang merguensis memiliki potensi untuk dapat menjadi komoditas prospektif bagi pasar dalam negeri maupun ekspor.

“Laut Indonesia merupakan habitat asli dari Udang Jerbung, dan tersebar hampir di seluruh perairan laut di Indonesia, sehingga sudah tidak asing bagi masyarakat. Pendekatan dari BBPBAP Jepara melalui tahapan domestikasi, ujicoba di multi lokasi yang merupakan etalase untuk showcase teknologi sudah sangat tepat, namun terkait pemassalan dan komersialisasi, jumlah benih yang dihasilkan oleh BBPBAP Jepara sebanyak 20 juta/tahun hanya mencukupi untuk showcase saja,” papar Budi.

Menurut Budi, ada  beberapa strategi yang perlu dilakukan guna pemenuhan tahapan pemassalan tersebut. Diantaranya, kelembagaan, strategi pengembangan, dan mata rantai produksi, yang melibatkan institusi lain.

“Ke depan, yang tidak kalah penting adalah perlu dihasilkan banyak penyuluh dan teknisi untuk pengembangan udang putih” pungkas Budi.

 

 

 

Reporter : Dimas
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018