Friday, 22 January 2021


Menteri Edhy Ditangkap KPK, Netizen : Kami Ingin Bu Susi Kembali

25 Nov 2020, 13:40 WIBEditor : Gesha

Meme Susi Pudjiastuti yang diupload netizen | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Rabu dini hari (25/11) menangkap Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo atas kasus ekspor benih lobster. Netizen Indonesia langsung meramaikan linimasa media sosial dengan berbagai permintaan agar mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti kembali menjabat menjadi nakhoda Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Netizen Indonesia berkomentar macam-macam mengenai kasus yang menjerat Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo ini. Pantauan tabloidsinartani.com di twitter, tagar "Bu Susi" menjadi trending 5 besar sejak berita penangkapan Menteri KP Edhy Prabowo dicokok KPK. Tagar serupa juga sempat muncul seperti Menteri KKP dan Edhy Prabowo sejak pagi. 

Sebagian besar dari mereka mengaku menginginkan Bu Susi, sebutan akrab Susi Pudjiastuti untuk kembali menjabat nakhoda Kementerian Kelautan dan Perikanan. Seperti akun @sataneverdie yang mencuit we need you back Bu Susi. I remember you says Saya mungkin tidak berpendidikan tetapi saya profesional. Yaa that you, indonesia need you, not the other (Kami menginginkan Anda kembali Bu Susi. Saya ingat Anda pernah berkata Saya mungkin tidak berpendidikan tetapi saya profesional. Ya itulah Anda, Indonesia membutuhkanmu bukan yang lain).

Begitu pula akun @Rizlsh yang mengungkapkan hal serupa bahkan memberikan foto Susi Pudjiastuti tengah bersantai ngopi di atas kano yang ikonik. "This time Bu Susi for comeback. Kuatkan Ombak Nusantara (Ini waktunya Bu Susi untuk kembali. Kuatkan Ombak Nusantara)," tulisnya.

Susi Pudjiastuti sendiri di akun @susipudjiastuti belum berkomentar apa-apa semenjak penangkapan Menteri KP Edhy Prabowo ditangkap KPK. Dirinya hanya me-retweet beberapa berita yang berkaitan tentang ekspor benih lobster yang disangkakan kepada Menteri KP Edhy Prabowo.

Protes-Protes Susi

Seperti diketahui, Susi Pudjiastuti menjadi salah satu yang frontal menentang ekspor benih lobster yang dilegalkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan. Berbagai alasan berbasis riset budidaya dan sosial budaya kerap diungkapkannya. Namun, Kementerian Kelautan dan Perikanan yang dipimpin Edhy Prabowo ini tidak bergeming dan malah mengeluarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 12 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Lobster (Panulirus spp.), Kepiting (Scylla spp.), dan Rajungan (Portunus spp.) di Wilayah Negara Republik Indonesia.

Regulasi tersebut menjadi dasar yang kuat untuk menetapkan kegiatan ekspor benih benih Lobster (BBL) yang sebelumnya dilarang untuk dilakukan selama masa kepemimpinan Menteri KP sebelumnya, Susi Pudjiastuti.  Penerbitan Permen KP tersebut kemudian dinilai menjadi biang persoalan kegiatan pemanfaatan Lobster di Indonesia, karena ada perusahaan yang melaksanakan ekspor walau belum melaksanakan budi daya, seperti syarat yang disebutkan dalam Permen KP 12/2020.

Susi Pudjiastuti bahkan sampai bercucuran air mata memperjuangkan protes soal ekspor benih lobster ini. "Mereka adalah plasma nutfah. Agama dan negara harus lindungi karena itu keberlanjutan kita sebagai manusia. Di negeri kita tidak ada kepedulian itu. saya menangis karena saya tahu. Di Pangandaran dulu (produksi) lobster 2 ton, ikan 30 ton sehari. (Sekarang) di tengah laut ikannya diambilin, bibit lobsternya diambilin, ya hilang. Kita mau ke mana?" kata Susi Pudjiastuti sambil mengusap air mata yang menetes, dalam diskusi 'Rembug Nasional Muhammadiyah: Ancaman Atas Kedaulatan Sumber Daya Laut'.

Dirinya bahkan dengan tegas menolak inhouse breeding lobster yang akan dilakukan, padahal kemampuan peneliti di KKP belum sampai kesana. "Belajar baru omong! Lobster belum bisa dibreedingkan in house, semua bibit alam. Vietnam budi daya hanya membesarkan dan hanya dari Indonesia mereka bisa dapat, lewat Singapura atau yang langsung. Negara lain yang punya bibit tidak mau jual bibitnya kecuali kita, karena bodoh," kata Susi Pudjiastuti dalam twitternya.

Bahkan Susi Pudjiastuti memiliki ketakutan tersendiri akan nasib benih lobster yang diekspor. "Jika penangkapan benih lobster secara besar-besaran terus dilakukan lama-lama ekosistem akan habis. Nanti sama seperti bawang putih, seperti beras, dijual murah. Tapi (kemudian) kita harus impor,” kata Susi Pudjiastuti dalam webinar 'Telaah Kebijakan Ekspor Benih Lobster' yang diselenggarakan PBNU.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018