Thursday, 23 September 2021


Bandeng Kartini, Branding KKP untuk Produk Lokal Jepara

02 Jul 2021, 09:50 WIBEditor : Gesha

Bandeng kini menjadi andalan Jepara | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jepara --- Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara kembali melakukan terobosan untuk mendorong pemberdayaan ekonomi lokal. Salah satunya dengan branding Bandeng Kartini sebagai produk lokal unggulan Jepara. 

"Jepara ini punya potensi tambak yang cukup luas, terutama tambak-tambak idle dan ini bisa kita optimalkan lebih produktif. Komoditas bandeng saya kira jadi alternatif yang akan kita inisiasi pengembangannya, " ungkap Kepala BBPBAP Jepara, Sugeng Raharjo. 

Sebelumnya, KKP melalui BBPBAP Jepara menetapkan Kabupaten Jepara sebagai salah satu sasaran program prioritas nasional di bidang perikanan budidaya bandeng. 

"Tahun ini kita akan mulai fokuskan dengan penerapan model klaster di Kecamatan Donorojo. Saat ini sudah mulai on progres terutama terkait dengan perencanaan baik teknis maupun kajian model bisinisnya," jelas Sugeng.

BBPBAP Jepara tengah menginisiasi pengembangan produk lokal berbasis bandeng. Melalui pengembangan klaster budidaya bandeng, pihak Balai juga tengah merancang sebuah model bisnis yang terpadu untuk mengoptimalkan nilai tambah pada masing masing segmen bisnis dari hulu ke hilir.

Dikatakan Sugeng, untuk di hilir, pihaknya akan menginisiasi sebuah brand image yang diberi nama "Bandeng Kartini" sebagai produk lokal khas Jepara.

Karakteristik kualitas bandeng Jepara khususnya di desa Clering yang lebih baik disinyalir akan memiliki daya tarik tersendiri. Munurutnya, pengembangan produk unggulan lokal ini akan menumbuhkan usaha penghela yakni UMKM pengolahan produk bandeng khas Jepara ini.

"Jadi, ke depan orang akan mengenal Jepara dengan Bandeng Kartini-nya. Jika ini berkembang saya rasa akan tumbuh UMKM yang menggerakkan ekonomi, " imbuhnya

Oleh karenanya, ke depan nanti akan elaborasi untuk bagaimana strategi pengembangan produknya mulai dari diversifikasi olahan sebagai produk yang siap saji (ready to eat) hingga pemasaran produk baik secara konvensional maupun secara online. 

Klaster Pengembangan

Sugeng menargetkan dari awal pengembangan klaster 5 hektare dapat dihasilkan produksi minimal 10 ton dengan nilai ekonomi mencapai minimal Rp180 juta per siklus, dalam 1 tahun bisa dua kali siklus. Ini jika dijual dalam bentuk fresh.

Menurut Sugeng, ke depan akan dirancang bagaimana melakukan diversifikasi produk sehingga ada added value minimal 50 persen. Disamping itu, nantinya ada mata rantai bisnis yang terlibat dan ini akan memperluas kesempatan berusaha bagi masyarakat.

"Potensi pengembangan lahan masih luas, jadi nilai ekonominya nanti bisa lebih besar. Ada perputaran uang sehingga memicu ekonomi lokal bergerak. Untuk lebih detail, nanti kami akan petakan rantai nilainya sehingga tahu persis nilai keekonomian tiap-tiap segmen usaha," pungkas Sugeng.

Sementara itu, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Tb Haeru Rahayu yang biasa disapa Tebe, dalam berbagai kesempatan menegaskan akan fokus pada upaya upaya pengembangan yang secara langsung berdampak pada pergerakan ekonomi lokal dan masyarakat dan penciptaan devisa ekspor.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018