Sabtu, 01 Oktober 2022


Bekal dari Abah Nasrudin, Eko Beternak Lele dengan Green Water System  

21 Sep 2022, 08:43 WIBEditor : Yulianto

Eko, milenial asal Cilacap ini beternak lele sangkuriang dengan Green Water System | Sumber Foto:Dok. Eko

TABLOIDSINARTANI.COM, Cilacap---Lele merupakan komoditas perikanan yang permintaannya cukup tinggi. Peluang itulah yang ditangkap  Eko Aji Priyono, milenial asal Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

Berbekal dari sang abah Nasrudin yang tinggal di Gadog, Bogor, Eko beternak lele sangkuriang menggunakan teknik budidaya green water system. Cara ini cocok untuk pemula karena mudah, murah dan menghasilkan.

“Saya sudah dibekali beternak dengan metode dari abah Nasrudin dari Bogor, karena saya juga alumni dari Bogor,” ujar Eko yang sudah beternak lele sejak 2 tahun yang lalu.

Eko menilai, banyak kelebihan yang dimiliki sistem ini yaitu kebersihan air terjaga, tidak bau dan tidak amis. Airnya juga dapat digunakan berulang kali, bahkan dapat dikonsumsi setelah 3 tahun.

Menggunakan kolam terpal ataupun plastik uv sebagai tempat budidaya, Eko mengaku, modalnya sangat relatif tergantung besar kolam budidaya. “Untuk modal sendiri itu relatif tergantung budidaya seperti apa. Kalau saya sendiri untuk pemijahan tidak sampai Rp 10 juta dan kolam pembesaran tidak sampai Rp 1 juta,” ujarnya.

Eko menjelaskan, teknik pemijahan dilakukan selama 30 hari sampai benih berukuran 5 cm. Setelah itu, lele dipindahkan ke dalam kolam pembesaran. Lele konsumsi dapat di panen setelah 60 hari.

Untuk pakan larva lele sangkuriang, ia mengatakan, biasa menggunakan cacing sutra, prima feed (pf) 500 dan pf 1000. PF dibuat dari bahan baku kualitas premium dengan nutrisi yang efektif untuk pertumbuhan ikan lebih cepat. Sedangkan saat pembesaran menggunakan full pelet.

Selain menjual lele berukuran siap konsumsi, ia juga menjual benih ikan sangkuriang berukuran 3-5 cm seharga Rp 120 per ekor, sedangkan yang ukuran 8 cm seharga Rp 550 per ekor. Sementara, ikan lele konsumsi biasanya dijual langsung ke konsumen dan juga tengkulak (bandar) dengan harga Rp 16.000- Rp 24.000/kg.

Dari penjualan itu Eko menyebutkan, keuntungan bersih dari pembenihan dalam satu siklus minimal Rp 5 juta-an. Adapun omset tergantung produksi. Jika jumlah benih yang terjual sebanyak 100 ribu per 30 hari, maka dikali Rp 100 akan mencapai Rp 10 juta.

“Dari omset itu, keuntungannya sekitar 50 perse. Artinya setiap siklus, Eko akan mendapatkan Rp 5 juta.000. “Kalau di kolam pembesaran per seribu ekor lele keuntungannya sekitar Rp 400.000-600.000,” ungkapnya.

Seperti diketahui, lele sangkuriang sudah ada sejak tahun 2000 yang merupakan hasil perkawian khusus dari f2 dan f6 dari Jawa Timur dan Sukabumi. Lele jenis ini memiliki kelebihan tersendiri yaitu pertumbuhan lebih cepat, rasanya gurih dan budidayanya secara organik.

Eko Aji Priyono saat ini bergabung dibeberapa komunitas budidaya ikan lele sangkuriang. Diantaranya Komunitas Sangkuriang Lele Organik Indonesia Jawa Tengah (SLOI Jateng), Kelompok Budidaya Ikan Argo Mina Makmur, dan ESAM Farm.

Reporter : Ni'matun
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018