Minggu, 14 April 2024


Kisah Istimewa dari Desa Linau: Gurita Kering dan Transformasi Menjadi Desa Perikanan Cerdas

03 Okt 2023, 13:41 WIBEditor : Gesha

Gurita kering yang dipamerkan sepanjang jalan di Kabupaten Kaur | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Kaur -- Di Provinsi Bengkulu, terbentang sebuah cerita menakjubkan dari Desa Linau. Di sini, pesona pantai yang memukau bertemu dengan seni mengolah gurita kering, menciptakan kisah istimewa. Namun, yang membuatnya lebih memukau adalah transformasi Desa Linau menjadi sebuah Desa Perikanan Cerdas.

Di sebuah sudut terpencil di Provinsi Bengkulu, tepatnya di Desa Linau, Kecamatan Maje, Kabupaten Kaur, terdapat sebuah dunia yang begitu memikat. Desa ini adalah perpaduan harmonis antara pesona alam pantai yang memukau dan tradisi nelayan yang kaya, menciptakan cerita yang tak terlupakan.

Desa Linau, dengan pasir putihnya yang lembut dan ombaknya yang menggulung dengan pelukan lembut, telah menarik perhatian para wisatawan dari seluruh penjuru. Pantai indah ini menjadi saksi bisu dari pagi yang tenang hingga senja yang memukau, menciptakan kisah romantis yang menceritakan cinta antara laut dan langit.

Namun, pesona alam yang memukau bukanlah satu-satunya hal yang membuat Desa Linau begitu istimewa. Desa ini juga terkenal sebagai salah satu produsen gurita terbesar di Kabupaten Kaur.

Setiap pagi, ketika matahari mulai menampakkan sinarnya di ufuk timur, para nelayan Desa Linau memulai perjalanan mereka ke laut, bersama perahu tradisional mereka yang kokoh. Mereka tidak hanya mencari ikan, tetapi juga mencari gurita, harta laut yang menjadi kebanggaan dan mata pencaharian utama desa ini.

Desa ini juga menjadi tempat penampungan gurita basah dari desa-desa tetangga, seperti Desa Merpas di Kecamatan Nasal. Setiap harinya, perahu-perahu nelayan kembali ke pelabuhan desa dengan tangkapan gurita segar yang mereka dapatkan dari lautan biru yang luas.

Namun, keunikan desa ini tidak hanya terletak pada penangkapan gurita basah oleh nelayan lokal. Wanita-wanita tangguh di desa ini, yang mayoritas adalah ibu rumah tangga, memiliki peran penting dalam mengolah hasil tangkapan laut tersebut. Mereka mempraktikkan seni mengeringkan gurita untuk menciptakan produk unggulan desa: gurita kering.

Proses pengolahan gurita ini dilakukan dengan hati-hati dan teliti. Para ibu rumah tangga membersihkan gurita dengan cermat sebelum mengeringkannya dengan sinar matahari yang hangat. Gurita-gurita yang telah kering kemudian dijual sebagai produk unggulan desa ini. Kegigihan mereka dalam memproduksi gurita kering telah menciptakan suatu industri rumahan yang berkembang pesat di desa tersebut.

Sementara gurita basah biasanya dijual kepada penampung atau toke dari Desa Linau dan desa-desa lainnya, gurita kering memiliki pasar yang lebih luas. Para pengelola usaha ini tidak hanya menjual produk mereka secara lokal, tetapi juga mulai menerima pesanan dari luar desa. Gurita kering desa ini terkenal karena kelezatannya dan telah mendapatkan pengakuan dari para penikmat kuliner di berbagai wilayah.

Keberhasilan pemasaran gurita kering tidak terlepas dari peran aktif wanita-wanita di desa ini. Mereka menggunakan kreativitas dan keuletan untuk memasarkan produk tersebut. Beberapa di antara mereka bahkan membuka kios kecil di pinggir jalan, menawarkan gurita kering desa ini kepada para wisatawan yang singgah. Selain itu, mereka juga menggunakan media sosial untuk memperluas jangkauan pasar produk mereka.

Saat melintasi Jalur Lintas Barat (Jalinbar) dan sampai di Desa Linau, Anda akan disambut oleh pemandangan yang tak biasa. Di hampir setiap teras rumah warga, terhampar jemuran Gurita kering yang menghiasi pemandangan desa ini. Tampaknya, masyarakat di sini telah menjadikan seni mengolah Gurita kering sebagai bagian dari kehidupan mereka. Dan ini bukan tanpa alasan.

Gurita kering bukan hanya sekadar hasil kerja keras para nelayan, tetapi juga sebuah investasi berharga. Harganya jauh melampaui Gurita segar yang masih basah. Terbayarlah jerih payah mereka, karena gurita kering ini tidak hanya lebih tahan lama, tetapi juga memiliki potensi besar untuk diubah menjadi berbagai produk makanan yang lezat, seperti kerupuk.

Harga Gurita kering yang tinggi, berkisar antara Rp 80.000 hingga Rp 130.000 per kilogramnya, dapat bervariasi tergantung pada ukuran Gurita yang dijual. Ini adalah angka yang mengesankan, terutama jika dibandingkan dengan harga Gurita segar yang biasanya hanya dijual sekitar Rp 25.000 hingga Rp 50.000 per kilogramnya. Perbedaan harga yang signifikan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat Desa Linau untuk terus mengembangkan produksi Gurita kering mereka.

Smart Fisheries Village

Keunikan Desa ini telah menarik perhatian Kementerian Kelautan dan Perikanan, terutama Badan Riset dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM), untuk mengubahnya menjadi SMART Fisheries Village (SFV) atau Desa Perikanan Cerdas yang menarik perhatian banyak orang.

Pemimpin BRSDMKP, I Nyoman Radiarta, menjelaskan bahwa pengembangan SFV merupakan langkah penting dalam mendukung program ekonomi biru yang menjadi prioritas. Selain itu, SFV juga akan memberikan perhatian khusus pada aspek sosial dan kelembagaan, dengan tujuan meningkatkan daya saing desa dan meningkatkan kapasitas Sumber Daya Manusia.

Nyoman Radiarta juga menekankan bahwa kesuksesan SFV tidak terlepas dari inti BPPSDM, yaitu kolaborasi berbagai fungsi seperti pendidikan, pelatihan, penyuluhan, dan Inkubasi Bisnis/UMKM Modern.

Semua ini berperan penting dalam menciptakan ekonomi yang berkelanjutan, menciptakan peluang kerja bagi masyarakat, menjaga lingkungan, dan memanfaatkan teknologi digital. Dengan pendekatan yang komprehensif ini, diharapkan SFV akan menjadi pionir dalam menggerakkan perekonomian di desa dan menginspirasi desa-desa lainnya untuk mengikuti jejaknya.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan  meningkatkan kemampuan para pengolah gurita di Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu agar produk yang dihasilkan lebih beragam dan berdaya saing tinggi di pasar. Selama ini mereka masih mengolah hewan dengan tentakel tersebut dengan cara sederhana, dan produk olahan yang dihasilkan pun terbatas jenisnya berupa kerupuk, sate dan rendang saja.

Dengan pelatihan yang dilakukan KKP, pengolah gurita diedukasi mengenai pentingnya sanitasi, hygiene perikanan, hingga penanganan ikan segar. Kemudian dilatih mengolah gurita menjadi bakso, sambal, dimsum, serta nugget gurita. Selanjutnya pelatihan cara pengemasan produk yang baik dan benar.

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018