Monday, 09 February 2026


Inovasi CUKAR Bikin Nelayan Pantai Mekar Bisa Melaut Lebih Aman dan Efisien

20 Aug 2025, 06:59 WIBEditor : Gesha

Nelayan Pantai Mekar kini tak lagi hanya mengandalkan firasat saat melaut. Hadirnya CUKAR, inovasi pemantau cuaca karya mahasiswa IPB, bikin mereka lebih aman dan efisien menentukan waktu berlayar.

TABLOIDSINARTANI.COM, Bekasi -- Nelayan Pantai Mekar kini tak lagi hanya mengandalkan firasat saat melaut. Hadirnya CUKAR, inovasi pemantau cuaca karya mahasiswa IPB, bikin mereka lebih aman dan efisien menentukan waktu berlayar.

Nelayan Desa Pantai Mekar kini punya “teman baru” dalam menghadapi ganasnya lautan.

Namanya CUKAR (Cuaca Pantai Mekar), sebuah inovasi alat pemantau cuaca sederhana tapi efektif, karya mahasiswa Himpunan Mahasiswa Ilmu dan Teknologi Kelautan (HIMITEKA) IPB University.

Teknologi ini resmi diluncurkan pada Rabu, 6 Agustus 2026, lewat program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa).

Acara peresmian yang digelar di Gedung Wisata Pantai Mekar itu dihadiri lebih dari 25 peserta, mulai dari para nelayan, perwakilan ibu-ibu pesisir, Kepala Kecamatan Muaragembong, hingga jajaran Dinas Perikanan dan Dinas Perhubungan Kabupaten Bekasi.

Kehadiran beragam pihak ini menunjukkan semangat kolaborasi untuk memperkuat desa pesisir lewat teknologi.

Tak Lagi Andalkan Insting

Bagi masyarakat pesisir, cuaca adalah faktor hidup dan mati. Satu kesalahan prediksi bisa membuat nelayan kehilangan hasil tangkapan, bahkan nyawa. Di sinilah CUKAR hadir sebagai jawaban.

Lewat data yang ditampilkan, nelayan Pantai Mekar tak lagi perlu menebak-nebak kondisi laut. Mereka bisa memilih waktu berangkat dengan risiko lebih kecil, sekaligus menghemat biaya bahan bakar karena perjalanan melaut lebih efisien.

“Dengan CUKAR, kami merasa lebih tenang. Tidak was-was lagi ketika melihat langit mendung, karena ada data yang bisa kami cek langsung,” ungkap salah satu nelayan yang mengikuti sosialisasi.

Radar Mini

CUKAR dilengkapi dengan sensor kelembaban, sensor suhu udara, dan sensor arah angin.

Alat ini merekam data cuaca secara real-time yang bisa langsung diakses nelayan lewat pantai-mekar.com, sebuah platform digital sederhana dengan tampilan ramah pengguna.

Dengan sekali klik, nelayan bisa membaca suhu udara, kecepatan angin, arah angin, hingga potensi hujan.

Informasi inilah yang menjadi semacam “radar mini” bagi nelayan sebelum mereka memutuskan kapan waktu terbaik dan paling aman untuk melaut.

“Kalau dulu nelayan hanya mengandalkan insting atau tanda-tanda alam, sekarang mereka punya data konkret. Jadi keputusan untuk melaut lebih aman, dan hasil tangkapan pun bisa lebih optimal,” jelas Aishi, salah satu anggota tim PPK Ormawa HIMITEKA.

Yang membuat CUKAR istimewa bukan hanya teknologinya, melainkan juga proses kolaboratif di baliknya.

HIMITEKA IPB University merancang alat ini, sementara pemerintah daerah hadir memberi dukungan regulasi dan pendampingan, sedangkan masyarakat menjadi pengguna utama yang akan merasakan manfaat nyata.

“Ini contoh sinergi yang bagus. Desa pesisir tidak hanya mengandalkan sumber daya laut, tapi juga memanfaatkan teknologi demi keberlanjutan,” ujar perwakilan Dinas Perikanan Kabupaten Bekasi.

CUKAR baru pertama kali hadir di Pantai Mekar, tapi potensinya sangat besar. Jika berhasil diadopsi secara luas, teknologi serupa bisa dikembangkan di desa-desa pesisir lain di Indonesia.

Dengan lebih dari 2,7 juta nelayan tradisional di seluruh nusantara, alat ini bisa menjadi terobosan penting dalam mendukung keamanan dan produktivitas mereka.

Program PPK Ormawa HIMITEKA IPB University juga berencana terus melakukan pendampingan, termasuk perawatan alat dan pelatihan lanjutan agar nelayan semakin mahir membaca data cuaca.

Reporter : Syifa Nada
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018