Wednesday, 15 July 2026


KKP Perkenalkan Model Kampung Budidaya Masa Depan di PENAS XVII Gorontalo

22 Jun 2026, 11:32 WIBEditor : Gesha

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memperkenalkan model Kampung Budidaya Tematik masa depan di PENAS XVII Gorontalo sebagai inovasi penguatan sektor perikanan berkelanjutan, terintegrasi, dan berbasis teknologi.

TABLOIDSINARTANI.COM, Gorontalo – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memperkenalkan model Kampung Budidaya Tematik masa depan di PENAS XVII Gorontalo sebagai inovasi penguatan sektor perikanan berkelanjutan, terintegrasi, dan berbasis teknologi.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BPPSDM KP) memperkenalkan konsep Kampung Budidaya Tematik sebagai model pembangunan perikanan masa depan pada ajang Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII di Sport Center Limboto, Kabupaten Gorontalo.

Konsep ini menjadi salah satu sorotan utama KKP dalam pameran tersebut karena dinilai merepresentasikan arah baru pembangunan sektor kelautan dan perikanan Indonesia yang tidak lagi hanya bertumpu pada peningkatan produksi, tetapi bergerak menuju sistem yang lebih terintegrasi, modern, dan berkelanjutan.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Dr. I Nyoman Radiarta, menegaskan bahwa pendekatan Kampung Budidaya Tematik dirancang untuk menghadirkan ekosistem perikanan yang menyatu dari hulu hingga hilir.

“Kami ingin menunjukkan bahwa pembangunan perikanan tidak lagi berjalan parsial, tetapi terintegrasi dari pembenihan, pembesaran, pengolahan, hingga pemasaran sehingga nilai tambah bisa dinikmati masyarakat,” ujar Nyoman di Gorontalo dalam Podcast KARLOTA (Kanal Obrolan Kita) yang diproduksi oleh BPPP Bitung. 

Ia menambahkan, setiap daerah di Indonesia memiliki potensi yang berbeda-beda dan dapat dikembangkan menjadi sentra produksi unggulan berbasis komoditas lokal.

“Setiap daerah punya keunggulan masing-masing. Tugas kita adalah memperkuat ekosistemnya agar tumbuh menjadi pusat ekonomi baru yang berdaya saing dan berkelanjutan,” katanya menegaskan.

Pada ajang PENAS XVII di Gorontalo, KKP menghadirkan Kampung Budidaya Tematik sebagai etalase inovasi perikanan yang dikemas secara interaktif dan edukatif. 

Berbagai kegiatan ditampilkan mulai dari gelar teknologi akuakultur, pameran kelautan dan perikanan, coaching clinic, mini seminar, hingga layanan publik dan literasi kelautan.

Kegiatan ini tidak hanya bersifat pameran, tetapi juga dirancang sebagai ruang belajar terbuka bagi masyarakat.

Pengunjung dapat melihat langsung penerapan teknologi budidaya modern seperti bioflok, sistem Yumina-Bumina, hingga konsep budidaya terintegrasi berbasis kawasan.

KKP juga menghadirkan mini bazaar produk perikanan, hiburan edukatif, serta podcast interaktif yang menjadi sarana diskusi antara pelaku usaha, penyuluh, dan masyarakat.

Area pameran dibuat menyerupai klaster kampung perikanan dengan kolam budidaya, taman tematik, serta saung edukasi dan saung konsultasi. 

Saung edukasi berukuran 8 x 4 meter difungsikan sebagai ruang diskusi, coaching clinic, pelatihan, hingga podcast, sementara saung konsultasi berukuran 10 x 2,5 meter digunakan untuk layanan publik dan literasi perikanan.

KKP menilai PENAS XVII juga menjadi momentum penting untuk memperkenalkan sektor kelautan dan perikanan kepada generasi muda sebagai peluang ekonomi masa depan.

“Perikanan budidaya hari ini sudah berkembang sangat pesat. Ini bukan lagi aktivitas tradisional, tetapi sektor strategis yang didukung teknologi dan inovasi,” ujar Nyoman.

Ia menegaskan bahwa dengan perkembangan teknologi, sektor ini kini menjadi lebih efisien, produktif, dan memiliki nilai ekonomi tinggi. 

Karena itu, KKP ingin mendorong generasi muda untuk tidak ragu masuk ke sektor ini.

“Kami ingin generasi muda melihat bahwa sektor kelautan dan perikanan adalah peluang usaha masa depan yang sangat menjanjikan,” tambahnya.

Selain itu, KKP juga menekankan pentingnya hilirisasi produk perikanan agar tidak berhenti pada produksi bahan mentah. 

Produk hasil budidaya perlu diolah dan diberi nilai tambah agar manfaat ekonomi yang diterima masyarakat menjadi lebih besar.

“Jangan berhenti di produksi saja, tetapi bagaimana hasil budidaya bisa diolah dan dipasarkan lebih luas agar nilai ekonominya meningkat,” pesannya.

Melalui Kampung Budidaya Tematik, KKP memiliki sejumlah tujuan strategis, antara lain meningkatkan literasi masyarakat mengenai akuakultur dan pangan biru, memperkenalkan inovasi teknologi budidaya, serta memperkuat sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan pelaku usaha.

Program ini juga diarahkan untuk mendorong minat generasi muda, memperkuat layanan publik, serta menjadi media promosi program prioritas KKP seperti Kampung Nelayan Merah Putih, modernisasi kapal perikanan, hingga pengembangan budidaya udang terintegrasi.

Menurut BPPSDM KP, konsep ini diharapkan mampu menjadi katalis lahirnya sentra-sentra budidaya unggulan di berbagai daerah yang tumbuh sesuai potensi lokal masing-masing.

“Dari kampung, inovasi tumbuh. Dari budidaya, kesejahteraan dibangun,” menjadi salah satu semangat yang diangkat dalam pengembangan program ini.

KKP berharap Kampung Budidaya Tematik tidak hanya menjadi konsep pameran, tetapi dapat direplikasi secara luas di seluruh Indonesia sebagai model pembangunan perikanan masa depan yang inklusif dan berkelanjutan.

“Harapannya, akan lahir lebih banyak sentra budidaya unggulan di berbagai daerah yang mampu berkembang sesuai potensi lokalnya masing-masing,” kata Nyoman.

Ia menegaskan, pembangunan sektor perikanan ke depan harus mampu menyeimbangkan antara produktivitas dan keberlanjutan lingkungan.

“Kami mengajak masyarakat yang datang ke PENAS 2026 untuk tidak hanya melihat pameran, tetapi juga belajar, berdiskusi, dan membawa pulang inspirasi untuk diterapkan di daerah masing-masing,” tuturnya.

Dongkrak Peran SDM KP

Selain memperkenalkan Kampung Tematik Budidaya, BPPSDM KP juga menyoroti peran penting sumber daya manusia (SDM) sebagai fondasi utama pembangunan sektor kelautan dan perikanan. 

Seperti diketahui, saat ini BPPSDM KP menjalankan berbagai program mulai dari penyuluhan, pendidikan vokasi, pelatihan, hingga sertifikasi kompetensi.

Program penyuluhan dilakukan melalui sekitar 4.000 penyuluh KP yang tersebar di seluruh Indonesia, yang secara langsung mendampingi pelaku utama dan pelaku usaha perikanan di lapangan. 

Pendampingan ini menjadi bagian penting dalam memastikan teknologi dan inovasi dapat diterapkan hingga tingkat masyarakat.

Sementara itu, pendidikan vokasi KKP juga terus diperkuat melalui politeknik, akademi komunitas, dan Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM). 

Sistem pendidikan yang diterapkan berbasis praktik dengan komposisi 70 persen praktik dan 30 persen teori, sehingga lulusan tidak hanya memiliki ijazah, tetapi juga sertifikat kompetensi yang diakui dunia industri.

Dalam transformasi jangka panjang, BPPSDM KP juga tengah menyiapkan Ocean Institute of Indonesia (OII) sebagai pusat pendidikan kelautan modern yang akan segera diluncurkan.

“Transformasi ini penting agar SDM kita tidak hanya siap kerja, tetapi juga mampu bersaing secara global,” sebutnya.

Selain pendidikan, pelatihan teknis juga terus diperluas melalui Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BPPP) serta Corporate University KKP, yang mencakup berbagai bidang seperti penangkapan ikan, budidaya, pengolahan, pemasaran, hingga konservasi.

Reporter : Nattsya
Sumber : KKP
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018