Sabtu, 25 Mei 2019


Penting ! Kolaborasi Riset Ikan Hias Untuk Perikanan Indonesia

08 Mar 2019, 15:39 WIBEditor : Gesha

Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) melakukan kolaborasi riset kerjasama dengan swasta | Sumber Foto:HUMAS BRSDM

Menyatukan inovasi yang telah dihasilkan dari beberapa bidang keilmuan menjadi sebuah produk yang mempunyai nilai jual lebih yang siap hilirisasi, sebagai solusi dalam menghadapi adanya keterbatasan sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam melakuka

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Depok --- Memiliki potensi ribuan spesies ikan hias, Indonesia ternyata masih tertinggal jauh dari negara lainnya. Inilah yang menjadi tantangan riset untuk bisa menghasilkan inovasi teknologi perikanan di Indonesia. 

“Kita perlu kembangkan untuk komoditas andalan bangsa Indonsia dan jadi sumber pendapatan, sumber ekonomi serta dijadikan inovasi baru. Kita mulai dengan komitmen, dan siap untuk melaksankan. Target saya, akan ada 100 spesies baru di tahun 2019 yang dapat kita kembangkan dari Balai Riset Budidaya Ikan Hias (BRBIH),” tegas Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) Sjarief Widjaja dalam Peresmian Laboratorium Uji  BRBIH dan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama Riset dengan pihak swasta di Balai Riset Budidaya Ikan Hias, Depok.

Berdasarkan laporan Global Innovation Index tahun 2017, peringkat Inovasi negara Indonesia di dunia berada pada urutan ke 88 dari 128 negara. Untuk Asia Tenggara, peringkat inovasi Indonesia pun masih di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand.

"Kolaborasi riset antara berbagai sektor di dalam membangun inovasi teknologi penting adanya. Namun hal ini masih belum terbiasa dilakukan sehingga hasil riset masih terkesan sepenggal-sepenggal dan belum begitu menggiurkan bagi kalangan industri untuk mengembangkannya,” papar Sjarief.

Menyatukan inovasi yang telah dihasilkan dari beberapa bidang keilmuan menjadi sebuah produk yang mempunyai nilai jual lebih yang siap hilirisasi, sebagai solusi dalam menghadapi adanya keterbatasan sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam melakukan riset dan mempercepat teraplikasinya hasil riset kepada pengguna.

“Disaat mengembangkan ikan hias, tidak hanya komoditasnya saja tetapi segala sesuatunya yang berkaitan dengan perkembangan ikan hias. Seperti induk, benih, proses domestikasi, pakan vaksin, teknologi produksi, teknologi pascapanennya dan lain sebagainya. Ini jadi bagian dari bisnis proses yang harus dikembangkan ikan hias,” beber Sjarief.

Kepala Pusat Perikanan Waluyo Sejati Abutohir menambahkan kerjasama dengan swasta perlu dilakukan agar bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. Apalagi, riset perikanan merupakan core utama dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

“Ditjen Perikanan Budiadaya bisa jembatani teknologi dan menggunakan inovasi teknologinya tersebut di UPT daerah, termasuk penyuluh juga menggunakannya. Perlu publikasi juga agar masyarakat bisa tahu dan menggunakannya (inovasi teknologi),” tutur Waluyo.

Dalam rangka mewujudkan kolaborasi riset, BRSDM melaksanakan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama dengan berbagai instansi yaitu :

  1. Pusat Riset Perikanan dengan PT. Biomagg Sinergi Internasionaluntuk pengembangan hasil riset pakan ikan alternative dari magot dan turunannya.
  2. Balai Riset Budidaya Ikan Hias  dengan Politeknik Negeri Semarang, untuk pengembangan hasil riset Smart Aquaculture: smart barcoding tanaman hias air
  3. Pusat Riset Perikanan dengan Badan Pengelola Waduk Cirata, untuk pemanfaatan hasil riset dengan aplikasi Smart KJA (keramba jaring apung).

 

Laboratorium Uji

Tidak hanya secara konseptual mengembangkan budidaya ikan hias, tapi bagaimana praktik di lapangan, karena itu BRBIH melekati dirinya dengan segala fasilitas terbaik. Salah satunya dengan Laboratorium Uji Balai Riset Budidaya Ikan Hias (BRBIH).

"Dengan penguatan sarana riset  seperti laboratorium, diharapkan dapat memberikan sejumlah manfaat dan kemajuan IPTEK dalam bidang ikan hias, diantaranya yakni memberikan kemajuan dalam bidang penelitian, keberadaan laboratorium mendukung para peneliti untuk berkarya menghasilkan inovasi, paten dalam bidang ikan hias dan menghasilkan publikasi yang beriputasi sehingga ikan hias Indonesia menjadi dikenal secara luas," jelas Sjarief.

Penguatan sarana riset laboratorium pun turut memberikan manfaat bagi pelaku ikan hias dalam mengembangkan budidaya ikan hias. Di mana laboratorium BRBIH juga menjadi rujukan untuk meningkatkan kapasitas sumberdaya manusia dibidang ikan hias baik dari instansi pemerintah maupun swasta.  

Kepala Balai Riset Budidaya Ikan Hias, Idil Ardi menuturkan nilai jual dari ikan hias ada pada keunikan (warna dan bentuk), karenanya keberadaan lab genetik menjadi penting untuk meningkatkan kualitas ikan hias cepat tumbuh dan unik.

Kini, BRBIH telah memiliki 5 Laboratorium untuk mendukung pelaksaan fungsi penelitian dan memberikan pelayanan publik, yaitu, Laboratorium Genetik, Laboratorium Nutrisi, Laboratorium Kualitas Air, Laboratorium Pakan Alami, hingga Laboratorium Biologi.

KKP saat ini tengah mengajukan pengusulan akreditasi laboratorium bersertifikasi KAN (Komite Akreditasi Nasional) 17 025 tahun 2017. “Kami berharap proses ini bisa selesai ditahun 2019 ini, sehingga laboratorium ikan hias bisa memberikan jaminan mutu dan pelayanan yang prima kepada pengguna,” terangnya.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018