Selasa, 23 April 2019


Pernah Populer, Stunting Bandeng Lebih Menguntungkan

19 Mar 2019, 12:43 WIBEditor : Yulianto

petambak sedang panen bandeng | Sumber Foto:A. Salam

Teknik stunting atau mengkerdilkan ikan bandeng sebelum dibudidayakan di tambak pembesaran merupakan teknik lama, namun baru sebagian kecil petembak yang menerapkan

TABLOIDSINARTANI.COM, Pinrang---Teknik stunting budidaya bandeng pernah populer sekitar tahun 1990-an. Namun cara tersebut sepertinya tidak diwariskan kepada petambak generasi zaman now. Kini, penyuluh perikanan di Desa Waetuoe, Kecamatan Lanrisang, Kabupaten Pinrang mempopulerkannya  kembali melalui petak percontohan (dempond).

Ikan bandeng (Chanos-chanos Forks) masih menjadi komoditas andalan pembudidaya tambak di Kabupaten Pinrang. Sejak udang windu banyak dilanda masalah, beruntunglah petambak masih bisa panen bandeng. Selama ini bandeng dibudidayakan secara polikultur dengan udang windu. Banyak pembudidaya masih bertahan di usaha tambak karena ditopang ikan bandeng.

Sejak dahulu bandeng memang sudah menjadi ikan peliharaan di tambak air payau. Selain tidak mudah terserang penyakit, cara budidayanya pun tidak sulit. Teknologi budidaya bandeng  selama ini dilakukan tradisional secara turun-temurun. Hal inilah yang menyebabkan produksi belum meningkat secara signifikan.

Sejak pertengahan tahun 2018, kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan) Cempae, Desa Waetuoe, Kecamatan Lanrisang, Pinrang mencoba budidaya bandeng teknologi tradisional plus dengan penerapan teknik stunting (pengerdilan). Teknik stunting atau mengkerdilkan ikan bandeng sebelum dibudidayakan di tambak pembesaran merupakan teknik lama, namun baru sebagian kecil petembak yang menerapkan.

Padahal cara ini sangat menguntungkan pembudidaya. Selain produksi meningkat, waktu budidaya yang digunakan juga singkat. Sehingga dalam setahun petambak bisa melakukan panen 3-4 kali.

Pemilihan lokasi

Pemilihan lokasi tambak budidaya bandeng merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan budidaya. Dalam memilih lokasi tambak paling tidak mudah dijangkau pasang surut air laut, bebas dari banjir dan tanah untuk pematang tambak tidak mudah bocor.

Dalam rancang bangun tambak minimal ada satu petak pendederan dan satu petak pembesaran. Petak pendederan atau penggelondongan inilah untuk mengerdilkan pertumbuhan nener bandeng sebelum dipindah masuk ke petak pembesaran.   Pada lahan tambak percontohan di Pokdakan Cempae memiliki luas petak penggelondongan sekitar 1.500 m⊃2; ditebar 10.000 ekor nener langsung dari hatchery (pembenihan).

Mempersiapkan lahan tambak sebelum ditebar nener bandeng seperti hal yang sudah biasa dilakukan petambak pada umumnya. Lebih dahulu kita lakukan pengeringan dasar tambak agar dapat melepas gas beracun dan mematikan hama. Selama masa pengeringan yang berlangsung sekitar 15-20 hari juga dilakukan bersamaan perbaikan pematang dan pintu air tambak dari bocoran.

Paling penting dalam mempersiapkan petak tambak adalah pemupukan dasar untuk merangsang tumbuhnya makanan alami seperti lumut, klekap dan plankton. Sambil mempersiapkan petak pembesaran yang luasnya sekitar 1 ha, proses penggelondongan sudah berjalan di petak pendederan. Ketika makanan alami sudah tumbuh maka gelondongan bandeng sudah dapat dipindahkan ke petak pembesaran.

Untuk menyuburkan makanan alami di tambak dipupuk dengan Urea, SP36 dan petroganik. Pada pemupukan dasar digunakan dosis 200 kg urea, 100 kg SP36 dan 300 kg petroganik. Ketiga jenis pupuk tersebut dicampur rata kemudian disebar dibagian dasar pelataran tambak. Pemupukan dasar dilakukan pada kondisi dasar tambak berair setinggi mata kaki lalu dibiarkan mengering sebelum dilakukan pemasukan air kembali.  Hal ini agar proses tumbuh klekap berjalan cepat.

Siklus pertama tambak ujicoba budidaya bandeng teknik stunting ditebar 3.200 ekor gelondongan bandeng yang berasal dari petak pendederan. Setelah dipelihara sekitar 60 hari bisa menghasilkan panen bandeng sekitar 825 kg. Selama masa pemeliharaan yang selalu dipertahankan adalah kualitas air dan pertumbuhan makanan alami berupa plankton dan lumut.

Memasuki bulan kedua jelang panen dipacu pertumbuhan dengan memberikan makanan tambahan berupa pellet sebanyak 30 kg/hari. Setelah panen, petakan tambak  langsung dikeringkan dan persiapan untuk siklus kedua. Seperti halnya siklus pertama, persiapan tambak meliputi peneringan, perbaikan bocoran pematang dan pintu air tambak, pemberantasan hama dan penumbuhan makanan alami.

Penebaran anakan bandeng dari petak pentokolan sebanyak 3.000 ekor. Anakan bandeng tersebut berukuran panjang 7-10 cm, namun kerdil. Kerdil karena selama di petak penggelondongan makanannya tidak mencukupi dan ruang geraknya terbatas. Begitu di lepas di petakan tambak yang lebih luas dan padat makanan alami, maka otomatis rakus makannya, sehingga pertumbuhan drastis dan cepat panen.

Tambak percontohan yang ditebar pada 19 Desember 2018 sudah panen pada 19 Februari 2019 lalu. Hasilnya mencapai sekitar 700 kg. Kini petambak sedang melakukan persiapan lahan untuk siklus ketiga kalinya. Jadi dalam setahun petambak dapat melakukan budidaya  sebanyak 3-4 siklus. Setiap siklus, petambak dapat peroleh pendapatan sekitar Rp 10-15 juta. Jauh lebih besar dari cara biasa yang selama ini dilakukan petambak yang hanya Rp 5-7 juta/panen atau 4-6 bulan/panen.

Reporter : Abdul Salam
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018