Kamis, 18 Juli 2019


Keberlanjutan Sumberdaya Perikanan Jadi Bahasan Utama SEAFDEC

20 Mar 2019, 15:40 WIBEditor : Gesha

Dengan menjadi lead pada SEAFDEC COUNCIL MEETING, Indonesia menekankan pentingnya pengelolaan perikanana secara berkelanjutan | Sumber Foto:HUMAS BRSDMP

 

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Surabaya ---  Sebelas negara anggota Southeast Asian Fisheries Development Center (Seafdec) konsen membahas masalah keberlanjutan sumber daya perikanan di Asia Tenggara.

SEAFDEC bersama mitra kerja yang terdiri dari Food and Agriculture Organization (FAO); United States Agency for International Development, Regional Development Mission for Asia (USAID RDMA); Coral Triangle Initiative on Coral Reefs Fisheries and Food Security (CTI-CRFS) juga membahas  pentingnya penanganan isu kelautan dan perikanan terkait dengan pemberantasan Illegal, Unregulated, and Unreported (IUU) Fishing di kawasan Asia Tenggara.

Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM), Sjarief Widjaja bertindak sebagai Pimpinan Sidang (Chair) Seafdec Council Meeting ke-51 mengatakan negara anggota menyepakati untuk memperkuat kerja sama pencegahan dan pemberantasan IUU Fishing di kawasan Asean melalui prinsip ketertelusuran (traceability) dan transparansi.

"Indonesia sebagai lead country Asean, untuk kegiatan pemberantasan IUU Fishing berperan signifikan dan berkontribusi besar dalam pembahasan isu tersebut," kata Sjarief Widjaja, di Surabaya, Selasa (19/2).

Dalam pertemuan berskala internasional tersebut juga menyetujui usulan untuk melanjutkan pengembangan dan peningkatan kapasitas bagi negara anggota melalui pelatihan dan bantuan teknis.

“Kita perlu melakukan pelatihan dan bantuan teknis untuk meningkatkan mutu dan kualitas perikanan kita agar sesuai dengan standar yang ditetapkan. Dengan demikian diharapkan produk perikanan negara-negara anggota dapat bersaing di pasar global maupun internasional,” kata Sjarief.

Di sektor perikanan tangkap,lanjut Sjarief, aspek keberlanjutan menjadi sorotan dan bahasa  utama. Seafdec diharapkan mampu mengidentifikasi kebutuhan negara anggota dalam pelaksanaan ratifikasi Port State Measures Agreemfent (PSMA) sebagai suatu upaya pemberantasan IUU Fishing.

"Sekarang semakin banyak negara yang meratifikasi PSMA. Namun sebagian lainnya masih menemukan hambatan yang perlu untuk dicarikan solusinya,” tutur Sjarief.

Dalam pertemuan ini juga dibicarakan rencana aksi regional untuk Management of Fishing Capacity, rencana aksi regional untuk pengelolaan dan pemanfaatan Neritic tunas, dan panduan regional untuk manajemen rantai dingin produk seafood.

SEAFDEC juga akan meningkatkan kerja sama teknis untuk mengembangkan kapasitas negara anggota agar dapat mengelola sumber daya perikanan secara berkelanjutan sesuai standar global.

Di sektor perikanan budidaya juga dibahas sistem budidaya berkelanjutan. Sejumlah anggota menaruh perhatian besar pada pengelolaan dan konservasi sidat (Tropical Anguillid Eel), kesiapsiagaan darurat, dan sistem tanggap akuatik untuk manajemen yang efektif dari wabah penyakit lintas batas di Asia Tenggara.

"Kami juga mengusulkan agar SEAFDEC meningkatkan capacity building dan bantuan teknis kepada anggota untuk memperkecil kesenjangan terkait pelaksanaan PSMA," ujar Sjarief.

Indonesia juga menilai perlu adanya riset lanjutan terkait pengelolaan dan pemanfaatan neritic tunas dan sidat. Diharapkan, melalalui riset tersebut pengelolaan budidaya sidat bisa berkelanjutan. (idt)

Reporter : Indarto
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018