Selasa, 21 Mei 2019


Berkat Gemarikan, Konsumsi Ikan Nasional Meningkat 50,69 Kg/Kapita

04 Apr 2019, 13:33 WIBEditor : Gesha

Ayo kita makan ikan, kaya akan beragam nutrisi ! | Sumber Foto:HUMAS KKP

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Padang --- Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus membangkitkan konsumsi ikan di daerah dengan program Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan). Usaha tersebut tidak sia-sia karena kini angka konsumsi ikan nasional pada tahun 2018 telah mencapai 50,69 kg/kapita/tahun. Angka tersebut merupakan capaian konsumsi ikan per kapita penduduk Indonesia yang relatif tinggi. 

Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) Sjarief Widjaja mengungkapkan, konsumsi ikan per kapita nasional dalam lima tahun  terakhir menunjukkan kenaikan. Pada tahun 2014, konsumsi ikan per kapita tercatat baru sebesar 38,14 kg/kapita/tahun. Kurun berjalannya waktu dan atas kesadaran masyarakat akan pentingnya asupan ikan, konsumsi ikan per kapita terus terjadi peningkatan.

"Untuk mencapainya, salah satu upaya yang dapat dilakukan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dengan mengampanyekan Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan)," kata Sjarief Widjaja, saat kunjungan kerja bersama anggota IV dan V Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI dan Anggota Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Bungus, Pantai Bungus, Kecamatan Bungus Teluk Kabung, Padang,Sumatera Barat (4/4).

Mengapa KKP terus mengampanyekan makan ikan ini? Menurut Sjarief, selain kandungan proteinnya yang tinggi, ikan juga mengandung asam lemak omega 3 yang dibutuhkan untuk pertumbuhan otak, vitamin D, fosfor, vitamin B2, zat besi, zink, yodium, magnesium, dan kalium.

"Jadi, dengan kandungan gizi yang tinggi inilah yang  membuat konsumsi ikan khususnya pada 1.000 hari pertama setelah kelahiran, dapat membantu mencegah stunting dan keterbelakangan mental pada anak," jelas Sjarief.

 Agar kampanye Gemarikan terus menggema, Sjarief mengajak Pemda, para tokoh, dan seluruh lapisan masyarakat untuk terus mengkampanyekan Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan). "Gemarikan ini harus disuarakan di daerah-daerah," ujarnya.

Seperti diketahui,  Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) menetapkan batas toleransi stunting (bertubuh pendek) maksimal 20 persen atau seperlima dari jumlah keseluruhan balita. Sementara, di Indonesia tercatat 7,8 juta dari 23 juta balita adalah penderita stunting atau sekitar 35,6 persen. Dari jumlah tersebut,  sebanyak 18,5 persen kategori sangat pendek dan 17,1 persen kategori pendek. 

"Persoalan ini memang bukan semata-mata tanggung jawab KKP. Namun sebagai salah satu pemangku kepentingan terhadap ketersediaan pangan yang bergizi, KKP melakukan berbagai upaya pencegahan stunting," tegasnya

Reporter : Indarto
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018