Kamis, 14 November 2019


Tingkatkan Kesadaran Petambak, KKP Sosialisasi Pencegahan EMS di Sentra Tambak

16 Mei 2019, 14:20 WIBEditor : Gesha

Sosialisasi pencegahan penyakit yang menyerang komoditas udang tersebut akan diintensifkan bersama stakeholder perikanan budidaya seperti Shrimp Club Indonesia (SCI), Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), dan industri pengolahan. | Sumber Foto:HUMAS KKP

Sosialisasi pencegahan penyakit yang menyerang komoditas udang tersebut akan diintensifkan bersama stakeholder perikanan budidaya seperti Shrimp Club Indonesia (SCI), Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), dan industri pengolahan.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Makassar --- Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Ditjen Perikanan Budidaya mulai April-Mei 2019 melakukan sosialisasi pencegahan penyakit penyakit Early Mortality Syndrome (EMS) yang disinyalir memiliki kemiripan dengan penyakit Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease (AHPND) ke sejumlah sentra tambak udang.

Dirjen Perikanan Budidaya KKP, Slamet Soebjakto mengatakan, road show sosialisasi pencegahan penyakit EMS akan terus dilakukan di Aceh, Sumatera Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Kalimantan Utara, dan Nusa Tenggara Barat.  

Selain itu, KKP juga membentuk dan mengintensifkan peran tim taskforce (gugus tugas) pencegahan penyakit AHPND beranggotakan unsur pemerintah, pelaku usaha, akademisi dan pakar,” kata Slamet Soebjakto, di Makassar, Kamis (16/5).

Sosialisasi pencegahan penyakit yang menyerang komoditas udang tersebut akan diintensifkan  bersama  stakeholder perikanan budidaya seperti Shrimp Club Indonesia (SCI), Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), dan industri pengolahan.

Sosialisasi juga merupakan bagian dari tindaklanjut hasil surveilan EMS/AHPND yang dilakukan oleh Ditjen Perikanan Budidaya dan BKIPM tahun 2018 lalu serta 12 poin kesepakatan bersama antara pelaku usaha dan pemerintah saat pertemuan tanggal 20 Februari 2019 di Surabaya tentang upaya pencegahan EMS/AHPND.

Sedangkan pemilihan lokasi sosialisasi didasarkan pada pertimbangan bahwa daerah-daerah tersebut secara tradisional merupakan sentra penghasil udang utama di Indonesia.

“Jadi 12 kesepakatan perlu kami sosialisasikan kepada suluruh pembudidaya dan stakeholder lainnya. Namun demikian, yang lebih penting lagi adalah bagaimana hasil dari sosialisasi ini kita implementasikan ke seluruh tambak maupun hatcehry masing-masing,” papar Slamet.

Slamet juga mengatakan, segenap stakeholder dan petambak udang harus sama-sama memiliki komitmen yang kuat mencegah penyakit yang mematikan tersebut. Artinya,  masing-masing stakeholder harus tahu perannya sesuai dengan 12 butir kesepakatan tersebut.

“Kami akan terus melakukan surveilance atau pengawasan terhadap cara budidaya ikan yang baik, penggunaan induk, dan memonitor residu,” ujarnya.

Sebagai langkah tindak lanjut di lapangan, Ditjen Perikanan Budidaya akan menerjunkan pengawas pembudidaya ikan untuk memonitor kegiatan budidaya di masyarakat. Sebab, monitoring ini perlu dilakukan sebagai langkah awal antisipasi terjadinya penyakit.

Kerugian Besar

Seperti diketahui,  EMS/AHPND merupakan penyakit serius yang dapat menyebabkan kerugian fisik dan finansial pada industri budidaya udang di beberapa negara. Sehingga, kalau tak diantisipasi berpotensi mengancam produksi udang.

Penyakit ini ditimbulkan oleh infeksi Vibrio parahaemolyticus (Vp AHPND) yang mampu memproduksi toksin. Pada umumnya, AHPND rentan menyerang udang windu (Penaeus monodon) dan udang vaname (Penaeus vannamei) dengan mortalitas mencapai 100% pada stadia postlarvae (PL) umur 30-35 hari dan udang usia < 40>

Penyakit tersebut pertama kali ditemukan di Republik Rakyat China pada tahun 2009 dengan sebutan Covert Mortality Disease.  Pada Tahun 2011, AHPND dilaporkan telah menyerang Vietnam dan Malaysia, disusul Thailand (2012), Mexico (2013) dan Philipina (2015). 

Nah, saat ini penyakit udang yang mematikan tersebut diduga menyerang sejumlah tambak di India. Namun, dari dugaan tersebut belum ada notifikasi pihak pemerintah India.

FAO mencatat, akibat serangan AHPND, kurun waktu 3 (tiga) tahun produksi udang di Thailand mengalami penurunan produksi yang sangat drastis dari 609.552 ton pada tahun 2013 menjadi 273.000 ton  pada tahun 2016. 

Sementara itu, serangan penyakit AHPND di Vietnam berdampak terhadap kerugian ekonomi selama kurun waktu 2013 – 2015  sebesar US$ 216.23 miliar, atau rata—rata sebesar US$ 72  miliar/tahun.

 

 

 

Reporter : Indarto
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018