Kamis, 27 Juni 2019


Dicurigai Lakukan Ilegal Fishing, Kapal Ikan Jepang Diperiksa Petugas Pengawas Perikanan

21 Mei 2019, 12:23 WIBEditor : Gesha

kapal perikanan asing (KIA) Jepang FV. Shofuku Maru No.8 (619 GT) di Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia (ZEEI) karena dicurigai melakukan aksi pencurian ikan. | Sumber Foto:HUMAS PSDKP

Kapal perikanan asing (KIA) Jepang FV. Shofuku Maru No.8 (619 GT) dihentikan di Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia (ZEEI) karena dicurigai melakukan aksi pencurian ikan.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--- Kapal Pengawas Perikanan (KP) Hiu 05 milik Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menghentikan dan memeriksa kapal perikanan asing (KIA) Jepang FV. Shofuku Maru No.8 (619 GT) di Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia (ZEEI) pada Jumat (17/5) lalu. 

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Agus Suherman mengatakan, KIA tersebut diberhentikan petugas dan selanjutnya diperiksa karena dicurigai melakukan aksi pencurian ikan di ZEEI Sulawesi.

"Saat dilakukan pemeriksaan awal, kapal ditemukan tidak mengibarkan bendera manapun, baik bendera Jepang maupun bendera Indonesia, sebagaimana ketentuan pelayaran internasional. Selain itu, dibagian depan kapal ditemukan bagian-bagian alat tangkap pancing longline yang tidak disimpan di palka," kata Agus, di Jakarta, Selasa (21/5).

Atas dasar temuan awal tersebut, FV. Shofuku Maru No. 8 kemudian dikawal ke Pangkalan PSDKP Bitung Sulawesi Utara untuk pemeriksaan lebih lanjut. "Saat berada di Pangkalan PSDKP Bitung, KIA tersebut dilakukan pemeriksaan secara mendalam oleh Tim KKP dan Satgas 115," ujar Agus.

Agus juga mengungkapkan, pemeriksaan mendalam dilakukan terhadap Nakhoda FV. Shofuku Maru No. 8, kru kapal, serta perwakilan agen kapal di Indonesia.

Selain itu dilakukan pemeriksaan fisik kapal meliputi alat tangkap, muatan kapal, serta ruang-ruang kapal lainnya.

"Setelah dilakukan pemeriksaan maraton selama 2 (dua) hari, Tim KKP dan Satgas 115 menyimpulkan bahwa tidak terdapat bukti awal yang cukup untuk menduga kapal tersebut melakukan illegal fishing di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia," papar Agus Suherman.

Dalam kesempatan tersebut, Staf Khusus Satgas 115 Yunus Husein mengatakan, untuk kegiatan penangkapan ikan menggunakan kapal pancing longline diperlukan setidaknya 20 orang Anak Buah Kapal (ABK). Saat diperiksa, FV. Shofuku Maru No. 8 diawaki oleh 8 (delapan) orang.

"Selain itu, untuk alat tangkap longline juga dioperasikan di bagian belakang kapal. Sementara saat pemeriksaan di laut, bagian-bagian alat tangkap ditemukan di bagian geladak depan kapal, sehingga tidak terdapat bukti yang cukup adanya peristiwa penangkapan ikan di perairan Indonesia," papar Yunus Husein.

Atas dasar pertimbangan-pertimbangan tersebut, Nakhoda KP. Hiu 05 menyampaikan kepada Nakhoda FV. Shofuku Maru No. 8 untuk melanjukan perjalanan dengan dua catatan penting dalam bentuk peringatan tertulis. (1) harus mengibarkan bendera kapal serta bendera negara yang dilintasi sebagaimana ketentuan pelayaran internasional. (2) menyimpan alat tangkap di dalam palka selama melakukan pelayaran di perairan Indonesia.

"Sesuai UU Perikanan setiap kapal penangkap ikan berbendera asing yang tidak memiliki izin penangkapan ikan selama berada di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia, wajib menyimpan alat penangkapan ikan di dalam palka," kata Agus. 

Reporter : Indarto
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018