Kamis, 27 Juni 2019


Tangkap Peluang Ekspor ke Timur Tengah, Pemerintah Dorong Pengembangan Budidaya Patin

27 Mei 2019, 14:33 WIBEditor : Gesha

Info dari Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia (APCI), tentang peluang ekspor patin ke Saudi Arabia. menyusul penetapan ikan patin sebagai menu makanan haji Indonesia tahun 2019 oleh Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umroh, Kementerian Agama. | Sumber Foto:HUMAS DITJEN BUDIDAYA

Info dari Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia (APCI), tentang peluang ekspor patin ke Saudi Arabia. menyusul penetapan ikan patin sebagai menu makanan haji Indonesia tahun 2019 oleh Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umroh, Kementerian Agama.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Menangkap peluang pasar ekspor ke Timur Tengah, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Ditjen Perikanan Budidaya mendorong budidaya patin di sentra-sentra produksi patin. Dengan terbukanya pasar ekspor patin ke Timur Tengah akan berdampak positif terhadap geliat usaha budidaya pati  di sejumlah daerah.

Dirjen Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto mengatakan, pembudidaya ikan selama ini mengeluhkan masalah pasar. “Kalau pasarnya terbuka, kami optimis nilai tambah akan lebih banyak dirasakan para pembudidaya patin,” ujar Slamet Soebjakto, di Jakarta (27/5).

Slamet juga mengamini apabila mendapat info dari Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia (APCI), tentang peluang ekspor patin ke Saudi Arabia. menyusul penetapan ikan patin sebagai menu makanan haji Indonesia tahun 2019 oleh Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umroh, Kementerian Agama.

“Ini merupakan peluang ekspor produk patin ke Saudi Arabia. Tentunya, ekspor patin tersebut sangat positif, dan menambah optimisme kami, bahwa komoditas patin mulai jadi unggulan ekspor dan bisa meningkatkan devisa negara. Karena itu, kami akan mendorong masyarakat giat membudidaya patin,” papar Slamet.

Slamet juga mengatakan optimis memenuhi kebutuhan ekspor dan memberikan suplai yang besar. Bahkan, Ditjen Perikanan Budidaya telah menyiapkan strategi yakni melalui industrialisasi budidaya patin berkelanjutan.

“Industrialisasi budidaya patin ini harus dibangun dengan kesiapan rantai sistem produksi khususnya benih dan pakan. Industrialisasi perbenihan juga penting dikembangkan untuk mendukung industri budidaya patin berkelanjutan,” tegas Slamet.

Menurut Slamet,  Ditjen Perikanan Budidaya akan mendorong industrialisasi perbenihan untuk memenuhi kebutuhan benih unggul dan adaptif melalui breeding program danperbaikan genetik.

 “Disamping itu, kita juga akan bangun sistem logistiknya, sehingga ada konektivitas yang efisien mulai dari broodstock center, larva center, UPR dan pembudidaya di sentral sentral produksi. Apabila pembudidaya sudah memanfaatkan  benih berkualitas, akan berdampak positif terhadap efisiensi pakan juga,” papar Slamet.

Pakan Mandiri

Slamet juga menuturkan, selain penguatan induk dan benih, Ditjen Perikanan Budidaya juga melakukan pengembangan pakan mandiri. Khususnya untuk ikan-ikan air tawar, seperti patin. “Hal ini untuk menekan biaya produksi patin, sehingga produk semakin berdaya saing,” ujar Slamet.

Ditjen Perikanan Budidaya, lanjut Slamet juga terus fokus mendorong penerapan cara budidaya ikan yang baik (CBIB) atau yang juga dikenal dengan Sertifikasi Indo-GAP (Indonesian Good Aquaculture Practices) yang diakui secara internasional. “Sertifikasi Indo-GAP akan terus didorong untuk menjamin produk patin nasional bisa diterima dunia internasiona,” kata Slamet.

Hal yang hampir sama juga dikatakan,  Ketua Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia (APCI), Imza Hermawan. Menurut Imza,  aktivitas budidaya patin sampai saat ini berjalan dengan cukup baik.

Meski sudah berjalan dengan baik, Imza menekankan pentingnya mendorong kualitas induk dan benih.  “Jadi,  induk dan benih berkualitas ini faktor utama penentu kesuksesan budidaya, utamanya dalam meningkatkan efisiensi produksi. FCR bisa ditekan, jika benih yang digunakan berkualitas,” papar Imza.

Data APCI menyebutkan, produksi ikan patin nasional tahun 2018 sebesar 391.151 ton, atau naik 22,25%  dibanding tahun 2017 sebanyak 319.966 ton. Diharapkan, dengan adanya benih unggul, produksi patin pada tahun 2019 bisa meningkat signifikan. 

 

Reporter : Indarto
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018