Minggu, 20 Oktober 2019


Dinilai Menguntungkan, Orang Afrika Belajar Minapadi di Sukabumi

26 Jul 2019, 15:08 WIBEditor : GESHA

engembangan minapadi di negara berkembang, seperti Afrika sangat cocok untuk diterapkan | Sumber Foto:HUMAS DJPB

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Sukabumi --- Minapadi yang dikembangkan di sejumlah daerah tak hanya diminati masyarakat lokal. Karena dinilai menguntungkan dan mudah diaplikasi, perwakilan lima negara Afrika pun tertarik belajar minapadi di Sukabumi, Jawa Barat (Jabar).

Kelima perwakilan negara Afrika tersebut yakni, Mauritania, Zimbabwe, Zambia, Ghana dan Senegal. Perwakilan negara Afrika ini merupakan delegasi peserta kegiatan Integrated Rice Fish Farming to Support National Food Security and Build Climate Aquaculture Resilience for African Countries.

“Kegiatan ini merupakan rangkaian kerja sama Selatan Selatan Triangular (KSST) yang diadakan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Kementerian Luar Negeri,” kata Dirjen Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, di Sukabumi, (25/7)

Slamet mengatakan, kelima perwakilan negara Afrika tersebut belajar minapadi di lahan percontohan minapadi KKP binaan Balai Besar Budidaya Air Tawar Sukabumi.  “Pengembangan minapadi di negara berkembang, seperti Afrika sangat cocok untuk diterapkan,” ujarnya.

Menurut Slamet, banyak keuntungan  yang didapatkan dalam budidaya ikan sistem minapadi. Karena itu, budidaya minapadi sangat cocok dikembangkan di negara-negara yang sedang berkembang untuk memenuhi kebutuhan protein ikan dan karbohidrat (padi) bagi masyarakat.

Selain menguntungkan, minapadi juga mampu meningkatkan optimalisasi lahan sawah. Dalam budidaya sistem minapadi, penggunaan air dan pupuk akan sangat efisien , sehingga biaya produksinya relatif lebih murah. Begitu juga, produksi padi yang tanpa menggunakan pestisida turut menjadi faktor plus dalam sistem budidaya campuran tersebut.

Kegiatan minapadi yang merupakan tindak lanjut dari rangkaian Our Ocean Conference 2018 ini, kata Slamet, diharapkan mempererat kerjasama Indonesia dengan negara-negara Afrika. Kegiatan tersebut  juga diharapkan bisa meningkatkan kontribusi Indonesia dalam rangka memperkuat ketahanan pangan global.

Transfer Teknologi

Menurut Slamet, budidaya minapadi yang telah dikembangkan di sejumlah daerah di tanah air bisa menjadi contoh perwakilan lima negara-negara Afrika. Sehingga, kegiatan belajar cara budidaya minapadi tersebut merupakan sarana yang bagus untuk melakukan transfer teknologi kepada negara potensial dalam bidang pertanian dan perikanan.

“Di beberapa negara Afrika tidak banyak sawah seperti di Indonesia. Karena itu, dengan luasan sawah terbatas, saya yakin sistem minapadi mampu meningkatkan produksi padi dan juga ikan di negara tersebut,” papar Slamet.

Slamet juga mengungkapkan, pelatihan minapadi sengaja di pilih di Sukabumi agar peserta  paham tentang tata cara budidaya minapadi. Selain itu, peserta juga dapat melihat bahwa kawasan minapadi Desa Cikarutug, Kecamatan Cireunghas, Sukabumi bisa dimanfaatkan sebagai lokasi agrowisata serta wisata edukasi bagi masyarakat.

“Pengelolaan kawasan minapadi dengan multi manfaat ini diyakini dapat semakin meyakinkan negara-negara lain mengadopsi pengembangan minapadi Indonesia di negara mereka,” kata Slamet.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Subdirektorat Kerjasama Teknik Wilayah Afrika dan Timur Tengah Kementerian Luar Negeri, Febrizki Bagja Mukti mengatakan, negara Senegal dan Ghana sudah menerapkan budidaya minapadi, meskipun masih dengan teknologi yang sederhana. “Dengan mengikuti workshop ini diharapkan peserta dapat berbagi pengalaman serta menggali ilmu dari tenaga ahli dari Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar Sukabumi,” kata Febrizki.

Bahkan, salah satu  delegasi dari Zambia, Chiputa Mukwatu, menyatakan sangat antusias mengikuti program tersebut.  Materi yang lengkap mulai dari pemilihan lokasi, persiapan lahan, pengenalan dan pemeliharaan ikan dan padi sampai dengan proses panen dan pengendalian penyakit ikan membuatnya tak sabar mengimplementasikan hasil kegiatan ini di negaranya yang belum ada kegiatan minapadi.

Menurut Chiputa, penduduk Zambia pada tahun 1964 hanya sekitar 3 juta orang. Namun, menurut sensus terakhir yang sedang berjalan, penduduk Zambia pada tahun 2020 diperkirakan mencapai 18 - 20 juta orang. Nah, bertambahnya populasi penduduk ini akan berdampak makin banyak sumber pangan yang dibutuhkan.

“Karena itu, penerapan minapadi merupakan solusi nyata terhadap kebutuhan pangan yang semakin meningkat di negara kami. Sehingga, sangat memungkinkan untuk dilakukan karena kesamaan iklim serta kondisi geografis antara Zambia dengan Indonesia " pungkas  Chiputa.

 

Reporter : Indarto
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018