Minggu, 18 Agustus 2019


KKP Dorong Pengelolaan Rajungan Berkelanjutan

30 Jul 2019, 18:53 WIBEditor : Gesha

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong pengelolaan rajungan berkelanjutan, khususnya di Kabupaten Demak, Jawa Tengah dengan alat penangkapan ikan (API) ramah lingkungan berjenis bubu. | Sumber Foto:HUMAS KKP

TABLOIDSINARTANI.COM, Demak--- Rajungan merupakan salah satu komoditas perikanan bernilai ekonomi tinggi. Guna menjaga keberlanjutan komoditas perikanan tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)  mendorong pengelolaan rajungan berkelanjutan, khususnya di Kabupaten Demak, Jawa Tengah dengan alat penangkapan ikan (API) ramah lingkungan berjenis bubu. 

 

Selain ramah lingkungan, penggunaan API bubu menjadikan rajungan lebih terjaga kulitasnya sehingga harga jualnya lebih tinggi.  Tercatat, rajungan yang ditangkap dengan API bubu dapat dijual seharga Rp75.000 – 90.000/kg. Sedangkan yang ditangkap menggunakan API arad (jenis alat tangkap tidak ramah lingkungan) dijual dengan harga yang lebih rendah.

“Gunakan API ramah lingkungan supaya rajungan ini terus ada hingga anak cucu kita. Harga jualnya pun bisa lebih tinggi,” ungkap Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti usai mengikuti kegiatan Sedekah Bumi dan Laut dan penebaran benih kepiting sebanyak 100.000 ekor, rajungan 300.000 ekor dan udang windu 100.000 ekor di perairan  pantai Desa Betahwalang, Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak, Jawa Tengah Selasa (30/7).

Menurut Susi, penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan seperti cantrang membuat usaha penangkapan ikan semakin susah. Beberapa modifikasi alat tangkap cantrang seperti arad juga merusak lingkungan. 

“Saya menghimbau agar Bapak Bupati dan Kepala Desa mengganti jika ada nelayan yang masih menggunakan alat tangkap arad dengan alat tangkap ramah lingkungan seperti bubu,” ujar Susi. 

Susi mengatakan,  rajungan telah menjadi komoditas unggulan dan penghidupan utama masyarakat Desa Betahwalang. Sekitar 670 unit kapal perikanan yang melakukan penangkapan rajungan ada di desa ini. Bahkan, Desa Betahwalang telah ditetapkan sebagai kampung rajungan.

Guna menjaga kelestarian sumber daya rajungan yang telah menjadi penghidupan masyarakat,  Susi mengimbau agar rajungan betina yang sedang bertelur tidak ditangkap atau segera dilepaskan kembali ke laut saat tertangkap.

Mengingat, 1 (satu) ekor rajungan bisa menghasilkan lebih 1,3 juta telur. Apabila rajungan yang bertelur ini dibiarkan menetaskan telurnya, dengan asumsi 50%-nya mati saat menetas, kemudian 50%-nya lagi mati saat proses pembesaran, kemudian 50% mati lagi karena faktor alam,  dan 50%-nya mati lagi karena hal-hal lain. Sehingga dari 1,3 juta telur tadi yang selamat menjadi rajungan hanya sekitar 10 ribu saja.

 “Kalau rajungan tersebut kemudian ditangkap setelah menunggu 4-6 bulan, maka dengan berat per ekor 2 ons, kita bisa menghasilkan 2.000 kg. Kalikan saja dengan harga Rp 60ribu misalnya, maka hasilnya sudah seratus juta lebih,” papar Susi. 

Susi juga menyayangkan dengan rajungan betina yang sedang bertelur yang ditangkap selama ini. “ Tidak terbayang besarnya kerugian yang kita dapati selama ini. Oleh karena itu, saya meminta dengan sangat agar masyarakat tidak lagi membuang-buang nikmat Allah ini. Jangan mengkufuri nikmat,” tegasnya.

Berdasarkan data statistik, kontribusi rajungan di wilayah pengelolaan perikanan Negara Republik Indonesia (WPP-NRI) 712 yang meliputi perairan Laut Jawa sekitar 46,6%. Artinya, WPP 712 merupakan penghasil rajungan terbesar di Indonesia. Nah, jumlah rajungan (terbesar) di Provinsi Jawa Tengah terdapat di Kabupaten Pemalang, Demak, Pati dan Rembang.

Data KKP juga menyebutkan, rajungan  merupakan komoditas penting dengan nilai ekspor hasil perikanan terbesar ketiga di Indonesia. Tujuan ekspor rajungan yang utama adalah Amerika. Sedangkan nilai ekspor rajungan Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2018 mencapai Rp 1,36 triliun.

Lantaran permintaannya tinggi, tak tertutup kemungkinan terjadinya penurunan stok rajungan di alam. “Karena itu, KKP mendorong masyarakat setempat untuk melakukan pengelolaan perikanan rajungan yang berkelanjutan agar sumber daya ini tetap lestari,” kata Susi. 

Bangun TPI

Susi juga mengatakan, semakin besarnya produksi rajungan dari Desa Betahwalang sudah semestinya diikuti dengan peningkatan kesejahteraan nelayan. Namun, sangat disayangkan  tingginya harga rajungan tersebut belum banyak dinikmati nelayan. Sebab, harga rajungan masih dikuasai oleh para pengepul. 

“Saya tadi sarankan untuk segera bikin tempat pelelangan (TPI). Supaya apa? Supaya harganya dilelang. Tidak ada main-main harga, tengkulak juga tidak bisa jalan sehingga harga ke masyarakat mungkin tidak Rp 60.000-Rp70.000/kg lagi tapi Rp100.000/kg kan?,” kata Susi.

Menurut Susi, KKP mendorong masyarakat dan pemerintah daerah setempat untuk mencari lahan yang dapat dimanfaatkan sebagai TPI. Selanjutnya, KKP akan membantu untuk memfasilitasi pembangunan TPI, penyediaan air bersih, es, dan keperluan lainnya. 

“Saya pikir ini hal yang sangat bagus. Saya berharap, kabupaten lain pun melakukan hal yang sama,” ujar Susi. 

Reporter : Indarto
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018