Minggu, 18 Agustus 2019


Geliat Cupang di Pameran Ikan Hias Jakarta

01 Agu 2019, 17:23 WIBEditor : Gesha

Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM-KP), Sjarief Widjaja (kanan) bersama Kepala Dinas Ketahapan Pangan, Kelautan dan Pertanian DKI Jakarta, Darjamuni (tengah) saat membuka Pameran Ikan Hias di Jakarta | Sumber Foto:DINI

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta— Dimulai dari usaha rumahan, industri ikan hias seakan tak ada matinya. Melalui event  “Pameran dan Kontes Ikan Hias” yang digelar Dinas Ketahanan Pangan Kelautan dan Pertanian Prov. DKI Jakarta mulai 31 Juli 2019 - 4 Agustus 2019, cupang sebagai ikon ikan hias Jakarta tampak menggeliat kembali. 

Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM-KP), Sjarief Widjaja mengatakan, melalui pameran dan kontes ikan hias tersebut, usaha ikan hias di Jakarta bangkit kembali dan bertransformasi menjadi ikan hias yang berkelas internasional.

“Dulu, usaha ikan hias ini sebagai usaha rumahan yang dikelola secara tradisional. Di era 4.0 pembudidaya ikan hias pun harus mengubah pola pikirnya untuk mengembangkan skala usahanya lebih luas lagi melalui instagram, facebook dan media sosial lainnya,” kata Sjarief Widjaja, di Jakarta, Rabu (31/7).

Menurut Sjarief  Widjaja, di era milenial, pengembangan ikan hias bukan hanya untuk ekspor, tapi ikan hias bisa dikembangkan anak-anak muda (kalangan milenial,red) dan bisa menjadi milik masyarakat. Sehingga, ikan hias nantinya bisa berkembang di akuarium sejumlah mal, rumah, kantor, dan toko.

“Jadi, usaha ikan hias bisa menjadi bisnis anak-anak muda yang nantinya bisa dipublikasikan secara habis-habisan  supaya tak diklaim negara lain. Ikan hias yang ditemukan masyarakat juga bisa dipatenkan menjadi kekayaan nasional,” papar Sjarief.

Sjarief juga mengatakan, di Indonesia ada sekitar 2.500 spesies ikan hias. Dari jumlah tersebut ada sebanyak 4.300 turunannya. Sejumlah ikan hias yang ditemukan di tanah air sebagian sudah bisa dibudidayakan masyarakat, sehingga jumlah ikan hias di masyarakat pun terus berkembang .

“Kalau nilai ekspornya sekitar US$ 10 juta/tahun. Karena itu, kami minta masyarakat terus mengembangkan ikan hias, karena bernilai ekonomi tinggi,” kata Sjarief.

Menurut Sjarief, agar ikan hias asli Indonesia tak diklaim negara lain, diharapkan tiap tahun bisa launching ikan hias produk baru. “Karena itu, kami ke depan akan mendorongnya melalui aplikasi Aquarium Indonesia,  berupa ensiklopedi ikan hias Indonesia. Dalam aplikasi ini masyarakat bisa membuka dan mengisi ikan baru yang ditemukannya. Ke depan, ikan hias di tanah aair semuanya akan terdokumentasi. Saat ini sudah 81 spesies yang masuk,” papar Sjarief.

Hal senada diungkapkan Kepala Dinas Ketahapan Pangan, Kelautan dan Pertanian DKI Jakarta, Darjamuni. Menurut Darjamuni, pelaku utama ikan hias di Jakarta ini memang industri rumahan. Artinya, bukan pengusaha besar.

“Karena itu, pemerintah akan memfasilitasi mereka supaya usahanya terus berkembang.  Kami juga minta dukungan kepada pemerintah pusat agar ikut membantu dalam menggiatkan usaha ikan hias di Jakarta melalui event-event seperti ini dalam skala yang lebih besar lagi,” kata Darjamuni.

Darjamuni juga mengatakan, Jakarta punya potensi ikan hias, khususnya cupang. Melalui kegiatan pameran dan kontes ikan hias ini diharapkan bisa membangkitkan lagi usaha ikan hias yang banyak digeluti masyarakat.

Menurut Darjamuni, kegiatan pameran dan kontes ikan hias ini merupakan perwujudan dan perhatian pemerintah kepada para pelaku usaha ikan hias. Dalam kegiatan ini diharapkan dapat menjadi ajang pertemuan, diskusi, konsultasi, pemasaran dan peningkatan networking antar pelaku usaha.

“Ada 53 stand, dan puuncak acara akan berlangsung pada tanggal 4 Agustus 2019. Dalam kesempatan tersebut Sekolah Tinggi Perikanan (STP) Pasar Minggu juga melaunching Aplikasi “Aquarium Indonesia” yang berisikan dokumentasi semua biota ikan hias dan tanaman hias Indonesia,” pungkas Darjamuni. 

 

 

Reporter : Indarto
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018