Sabtu, 14 Desember 2019


IOCT : Tangkapan Tuna Indonesia Meningkat 181 Ribu Ton

12 Agu 2019, 18:56 WIBEditor : Gesha

Hasil Tangkapan Tuna Indonesia kian menggembirakan | Sumber Foto:HUMAS DITJEN PERIKANAN TANGKAP

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--- Nelayan kecil di tanah air sudah selayaknya bergembira. Mengingat, SDI di sejumlah wilayah penangkapan ikan, khususnya tuna cukup melimpah. Bahkan, data yang dilansir IOTC, tangkapan tuna pada tahun 2018 mengalami peningkatan sebesar kurang lebih 181.000 ton ( angka sementara) atau sekitar 18%, dari total produksi tuna di IOTC yang sebesar 1 juta ton. Hasil tangkapan tuna yang dilakukan nelayan Indonesia ini volume paling besar dibandingkan dengan negara-negara anggota IOTC lainnya. 

Representatif  IOTC, James E. Geehan mengemukakan,  sesuai pemantauan, pendataan, dan pelaporan Indonesia ke Indian Ocean Tuna Commission (IOTC) terhadap penangkapan tuna yang dilakukan nelayan kecil pada tahun 2018 mengalami peningkatan signifikan dibandingkan tahun 2017.

“Hasil tangkapan kelompok sumber daya ikan tuna dan sejenis tuna Indonesia di Samudera Hindia (WPPN RI 571, 572, dan 573) pada tahun 2017 berjumlah sekitar 336.000 ton, dengan kurang lebih 151.000 ton adalah kelompok tuna,” kata James, di Jakarta, Senin (12/8)

Menurut James E. Geehan, implementasi kebijakan sistem one data, e-logbook, program observer, dan port sampling adalah langkah maju yang dilakukan oleh Indonesia. Hanya dalam 2 tahun sistem ini sudah bisa diterapkan secara elektronik, terintegrasi, dan juga bisa digunakan untuk memantau dan mendata hasil tangkapan dari perikanan skala kecil.

James E. Geehan mengatakan, saat melakukan kegiatan pemantauan dan asistensi pendataan ikan tuna (IOTC Technical Assistance Mission) dilaksanakan di Indonesia pada tanggal 1-8 Agustus 2019 lalu, salah satunya adalah mereview pelaksanakan pemantauan, pengumpulan, dan pelaporan data ke IOTC sudah dilakukan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.  “Pemantauan dan asistensi juga dilaksanakan di 21 negara pantai (Coastal State) anggota IOTC,” ujarnya.

Seperti diketahui, IOTC adalah salah satu organisasi perikanan tuna regional atau Tuna Regional Fisheries Management Organization (TRFMO) yang mempunyai kewenangan untuk mengelola sumber daya ikan tuna di perairan Samudera Hindia. 

Anggota IOTC tidak terbatas pada negara yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia, namun juga negara lain (Distant Water Fishing Nation) yang sudah sejak bertahun-tahun turut menangkap tuna di laut lepas perairan tersebut. Keanggotaan Indonesia dalam IOTC sendiri sudah dimulai sejak 2007.

Dalam kegiatan yang dilakukan IOTC, pihaknya juga memberikan pendampingan dan rekomendasi teknis yang diperlukan agar data perikanan tuna yang disampaikan oleh negara-negara anggota IOTC memiliki tingkat validitas yang baik dan dapat dipergunakan dalam penghitungan stok tuna di IOTC.   

“Pendampingan kunjungan kerja tim IOTC di Indonesia bertujuan untuk melihat langsung bagaimana cara pengambilan data ikan tuna di lapangan, khususnya pada perikanan skala kecil (small scale fisheries). Perikanan skala kecil ini termasuk perikanan rakyat (artisanal fisheries),” kata  Direktur Jenderal Perikanan Tangkap, M. Zulficar Mochtar.

Zulficar juga mengungkapkan, Samudera Hindia, khususnya di bagian selatan Jawa hingga sebelah selatan Nusa Tenggara, Laut Sawu, dan Laut Timor bagian barat yang masuk dalam wilayah pengelolaan perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) 573 dikenal memiliki potensi sumber daya ikan yang melimpah, terutama ikan tuna tongkol dan cakalang. 

“Tim IOTC melihat langsung di lapangan, bagaimana ikan tuna di Indonesia didaratkan di pelabuhan perikanan dan tempat pendaratan ikan. Mereka melihat cara pendaratannya dan menilai apakah sistemnya sudah benar dan apakah cara pelaporannya sudah sesuai standar IOTC,” papar  Zulficar. 

Menurut Zulficar, sistem pemantauan dan pendataan yang baik  pada perikanan skala kecil ini sangat diperlukan mengingat 67% hasil tangkapan tuna IOTC merupakan hasil tangkapan nelayan skala kecil (small scale fisheries).

Dalam kesempatan tersebut, tim ahli IOTC juga akan memberikan rekomendasi teknis berupa metodologi pendataan yang tepat untuk perikanan skala kecil. “Kolaborasi ini akan bagus, apalagi KKP telah menerapkan sistem e-logbook penangkapan ikan,” ujar Zulficar.

Terkoneksi dalam Satu Data

Tim IOTC yang bertandang ke Indonesia berjumlah 3 orang yaitu James E. Geehan, (Statistic and GIS Specialist of IOTC), David A. Feary  (Marine Resources Assessment Group IOTC), dan Sachiko Tsuji (Overseas Fisheries Cooperation Foundation Expert of Japan) mengunjungi beberapa lokasi pendaratan tuna di Bali. Diantaranya,  PP Kedonganan dan PPN Pengambengan, serta  Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap, Jawa Tengah untuk melihat situasi bongkar ikan dan pendataan ikan.

“Kami persilakan tim IOTC untuk meninjau cara pengisian logbook penangkapan ikan yang terkoneksi dalam satu data KKP, melihat aktivitas bongkar ikan tuna kapal >10 GT, melihat dermaga bongkar, dan mengunjungi kios pemasaran ikan untuk melihat hasil perikanan kapal <10>

Menurut Zulficar, secara umum tim IOTC puas dengan pencapaian Indonesia dalam 2 tahun terakhir, terutama terhadap peningkatan sistem metodologi dan akurasi pelaporan berbagai jenis data yang dibutuhkan IOTC. Data dimaksud berupa data tangkapan ikan per satu kali penangkapan (CPUE-Catch Per Unit Effort) dari beberapa jenis alat penangkapan ikan dengan menggunakan data logbook elektronik.

Zulficar mengatakan, IOTC juga menyampaikan sejumlah rekomendasi  teknis untuk perbaikan ke depan yang dibutuhkan terkait dengan pemantauan dan pendataan nelayan skala kecil. Rekomendasi teknis tersebut antara lain, agar KKP terus melanjutkan kebijakan one data dengan peningkatan metodologi, khususnya pada proses validasi dengan melibatkan hasil pengolahan data e-logbook, port sampling, serta hasil riset.

Data IOTC menyebutkan, tingkat kepatuhan Indonesia di IOTC pada tahun 2018 lalu sebesar 77%, atau sama dengan score kepatuhan Uni Eropa.  KKP menargetkan, pada tahun 2020 tingkat kepatuhannya sudah di atas 80%.

Reporter : Indarto
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018