Minggu, 18 Agustus 2019


Tingkatkan Produksi, Budidaya Udang di Aceh Tamiang Kian Dioptimalkan

12 Agu 2019, 19:01 WIBEditor : Gesha

Budidaya udang di Aceh Tamiang terus dioptimalkan | Sumber Foto:HUMAS DITJEN PERIKANAN BUDIDAYA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--- Guna mendorong peningkatan produksi udang nasional, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) terus menggalakkan budidaya udang berkelanjutan sepanjang tahun 2019. Budidaya udang sistem klaster tersebut telah dikembangkan di Pantura Jawa, Sulawesi dan sejumlah kawasan budidaya udang lainnya seperti di Aceh Tamiang.

Kabupaten Aceh Tamiang memiliki kawasan tambak udang yang luas. Sayangnya dari luasan kawasan tambak udang tersebut, sekitar 80% -nya belum digarap optimal. “Karena itu, kami mengajak Pemerintah Daerah (Pemda) Aceh Tamiang untuk mengoptimalkan budidaya udang berkelanjutan berbasis klaster,” kata Dirjen Perikanan Buididaya, Slamet Soebjakto, di Jakarta, Senin (12/8).

Menurut Slamet Soebjakto, pengembangan budidaya udang melalui sistem klaster ini memiliki beberapa keuntungan,  seperti efisiensi input produksi sehingga akan meningkatkan daya saing harga di pasar, serta kemudahan dalam hal manajemen dan transfer teknologi.  “Selain itu sistem klaster juga meminimalisir terjadinya penyakit dan memudahkan peningkatan kelembagaan pembudidaya yang terlibat,” ujar Slamet.

Sesuai potensi daerahnya, lanjut Slamet, di daerah Aceh Tamiang tersebut akan dikembangkan budidaya udang vaname berkelanjutan. Selain sesuai dengan kondisi lingkungannya, teknologi budidaya udang vaname  berkelanjutan sudah relatif dikuasai dan mudah diadopsi pembudidaya udang setempat. 

“Kami juga melihat dari sisi pasarnya. Udang vaname punya pasar luas baik domestik maupun ekspor. Khusus untuk ekspor, pasar utama kita adalah Amerika Serikat, Jepang dan Uni Eropa,” kata Slamet.

Menurut Slamet, sistem klaster ini nantinya akan memungkinkan proses produksi dilakukan secara terintegrasi. Mulai penggunaan benih bersertifikat, penggunaan induk berkualitas, penerapan padat tebar yang tidak terlalu tinggi, penggunaan obat dan pakan terdaftar, pengelolaan limbah, sistem biosecurity dan  pengawasan dan pengendalian penyakit. 

“Prinsip ini diperlukan untuk dapat dapat memproduksi udang yang bermutu, aman dikonsumsi, tidak merusak lingkungan dan berkelanjutan,” ujar Slamet.

Nah, untuk mewujudkan budidaya bekelanjutan,  menurut Slamet, diperlukan dukungan lintas sektor seperti penyediaan infrastruktur yang memadai, baik jalan, jalur air maupun listrik, pengalokasian kawasan budidaya dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (RZWP3K). “Selain itu, diperklukan juga kemudahan dan kecepatan layanan perizinan sehingga dapat meningkatkan investasi,” ujarnya.

Dalam mengembangkan budidaya udang berbasis klaster di Aceh Tamiang, Ditjen Perikanan Budidaya, melalui Badan Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya (BLUPPB) Karawang siap melakukan pendampingan teknis dan transfer teknologi kepada masyarakat Aceh Tamiang, khususnya para pembudidaya.

Melalui transfer teknologi yang tepat, diharapkan program ini dapat menjadi salah satu sumber perekonomian terbesar di Aceh Tamiang yang akhirnya akan mensejahterakan masyarakat Aceh Tamiang melalui sektor perikanan budidaya.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Aceh Tamiang, H. Mursil menyambut gembira  optimalisasi budidaya udang berkelanjutan di Aceh Tamian. Apalagi, kalau melihat kondisi geografis yang berbatasan langsung dengan Sumatera Utara,  membuat Aceh Tamiang mendapat keuntungan besar, terutama akses pasar dan penyediaan input produksi yang tidak terlalu jauh. 

 “Aceh Tamiang pernah berjaya dengan budidaya udang windu. Namun, sekarang tambak sudah terpangkas pantai hingga 80%. Dengan nota kesepakatan ini kami harapkan dapat membangkitkan kembali kondisi perikanan budidaya di Aceh Tamiang,” kata Mursil.

Seperti diketahui, sebelumnya Ditjen Perikanan Budidaya juga mengembangkan kawasan budidaya udang semi intensif berkelanjutan berbasis klaster di Desa Sarjo, Kabupaten Pasangkayu Provinsi Sulawesi Barat.

Budidadaya udang di Desa Sarjo ini mengalami peningkatan produktivitas yang semula 50-200 kg/ha menjadi 5.000-10.000 kg/ha. Selain di Sulawesi Barat, pengembangan budidaya udang berkelanjutan juga dilakukan di Desa Paloh, Kabupaten Sambas Kalimantan Barat, dan  Desa Sejoli, Kabupaten Parigi Moutong Sulawesi Tengah. 

Reporter : Indarto
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018