Minggu, 20 Oktober 2019


Kelompok Pengolah Pakan Mandiri Kian Dibutuhkan Pokdakan

03 Sep 2019, 10:16 WIBEditor : Gesha

Ketua Kelompok Pakan Ikan Mandiri Berkah Siongan asal Desa Banjarsari, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Wahyudiono sudah mampu memproduksi pakan mandiri ikan air tawar sebanyak 5 – 6 ton/bulan. | Sumber Foto:INDARTO

TABLOIDSINARTANI.COM, Probolinggo --- Setelah Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Ditjen Perikanan Budidaya mengembangkan pakan mandiri berbahan baku lokal di sejumlah sentra perikanan, saat ini sejumlah kelompok masyarakat pengelola pakan mandiri mulai menuai hasil. Bahkan kian dibutuhkan oleh Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan).

Seperti yang diungkapkan pembudidaya ikan asal Probolinggo, Ahmad Fatoni. Dirinya mengaku setelah menggunakan pakan mandiri, biaya pakan bisa ditekan hingga 50%. "Kami saat ini mengandalkan pakan mandiri. Sehingga keuntungan yang kami peroleh mencapai 30 – 50% untuk memproduksi lele ukuran 9 – 12 ekor per kg dalam waktu 3 – 4 bulan," kata Ahmad Fatoni.

Dia juga mengatakan, berkat pakan mandiri, pembudidaya ikan skala kecil sangat terbantu. Mengingat, harganya relatif murah dengan kualitas tidak kalah dari pakan pabrikan.

Pendapat serupa juga diungkapkan oleh Ketua Kelompok Pakan Ikan Mandiri Berkah Siongan asal Desa Banjarsari, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Wahyudiono yang sudah mampu memproduksi pakan mandiri ikan air tawar sebanyak 5 – 6 ton/bulan.

Wahyudiono mengatakan, pembudidaya yang menggunakan pakan mandiri, margin keuntungannya naik hingga 50%. Artinya kalau sebelumnya keuntungan per kg hanya Rp 4 ribu, sekarang keuntungannya meningkat Rp 6 ribu/kg.

"Pakan mandiri produksi kami dijual ke pembudidaya dengan harga terjangkau antara Rp 6 ribu-Rp 7 ribu/kg," tuturnya. Hingga sekarang, produksi pakan mandiri sudah dimanfaatkan pembudidaya ikan di Kecamatan Sumberasih Probolinggo dan daerah sekitarnya. 

Wahyudiono menuturkan dirinya berkecimpung dengan dunia pengolahan pakan mandiri sejak 2012 menggunakan mesin penggiling daging. "Kemudian tahun 2015 dapat bantuan dari KKP berupa mesin pellet, sejak saat itulah kami berinovasi dalam mengembangkan formulasi pakan," kata Wahyudiono, di Probolinggo kepada tabloidsinartani.com, Selasa (3/8).

Bahan baku pakan mandiri karyanya 100?han baku lokal yaitu tepung ikan rucah, dedak halus, bungkil kopra, tepung jagung, ampas kecap, tepung biskuit dan probiotik herbal yang diracik sendiri. "Penggunaan pakan mandiri membuat daya cerna ikan lele menjadi lebih baik. Nilai FCR (konversi pemanfaatan pakan) lele dari 1,5 (dari pakan pabrikan red), setelah menggunakan pakan mandiri FCR nya turun menjadi 1,2," paparnya.

Kendala Bahan Baku

Wahyudiono mengakui permasalahan dari pengolahan pakan mandiri adalah keberlanjutan bahan bakunya. Kelompok Berkah Siongan terus mencari solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Akhirnya kelompok pakan mandiri ini menggunakan ikan rucah di Probolinggo yang melimpah pada musim-musim tertentu.

"Kami kemudian beli ikan rucah yang kadar airnya masih sekitar 30%, kemudian diolah kembali dengan cara pengeringan supaya kadar airnya jadi 0%, sehingga bisa digiling menjadi tepung ikan," kenang Wahyudiono.

Wahyudiono mengatakan, untuk menciptakan formulasi pakan perlu uji coba berulang-ulang agar formulasi nutrisi sesuai kebutuhan ikan. Setelah Balai Perikanan Budidaya KKP mengajari cara memformulasikan pakan dengan berbagai metode, akhirnya Kelompok Berkah Siongan bisa memproduksi pakan mandiri secara berkelanjutan.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto mengaspresiasi keberhasilan pengembangan pakan mandiri yang dilakukan Kelompok Berkah Siongan. "Memang, ketersediaan bahan baku masih jadi hambatan tersendiri dalam produksi pakan sehingga solusi yang paling tepat adalah mencari alternatif bahan baku berbasis lokal," kata Slamet.

Menurut Slamet, ada beberapa kriteria bahan baku lokal yang dapat dimanfaatkan untuk memproduksi pakan mandiri. Diantaranya, bahan baku tersebut tidak bersaing dengan peruntukan industri lain misalnya peternakan maupun makanan manusia. Selain itu, kandungan gizi tinggi, tersedia sepanjang tahun, mudah diolah dan terpenting tidak beracun.

“ Yang dilakukan kelompok Berkah Siongan menjadi contoh sukses gerakan pakan mandiri, karena mereka benar-benar mandiri baik dalam mencari bahan baku lokal alternatif sampai memproduksi pakan dengan formulasi yang dibuat berdasarkan pengalaman dan ujicoba," papar Slamet.

Slamet menuturkan, dulu kelompok ini bingung karena mesin ada, tapi bahan baku susah didapat. Bahkan, kalapun ada harganya relatif mahal bagi pembudidaya kecil. Tetapi sekarang dengan memanfaatkan bahan lokal dan formulasi tepat, pakan bergizi bagi ikan bisa dibuat.

Reporter : Indarto
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018