Friday, 07 August 2020


Sayur Hidroponik, Usaha Rumahan Penyokong Ekonomi Rumah Tangga

06 May 2020, 13:48 WIBEditor : Indarto

Sayur hidroponik | Sumber Foto:Dok. Istimewa

Sayur yang ditanam dengan sistem hidroponik ini juga berfungsi untuk mempercantik halaman rumah. Selain itu, bisa dimanfaatkan sebagai usaha rumahan dan menjaga ketahanan pangan keluarga.

 


TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Sejumlah usaha saat ini banyak yang terimbas pandemi corona (covid 19). Namun, ada sejumlah usaha rumahan berskala UMKM yang justru mampu bertahan di tengah pandemi corona.

Salah satu usaha rumahan tersebut adalah budidaya sayur hidroponik yang ditanam di pekarangan. Sayur yang ditanam dengan sistem hidroponik ini juga berfungsi untuk mempercantik halaman rumah. Selain itu,  bisa dimanfaatkan sebagai usaha rumahan dan menjaga ketahanan pangan keluarga.

" Kami mulai budidaya sayur hidroponik di pekarangan rumah sejak tahun 2012 silam. Sayur bisa kami konsumsi sendiri dan sebagian  kami jual secara online. Kalau yang pesan tak jauh dari rumah bisa kami antar sendiri," kata salah satu petani sayur hidroponik Glen Huwoyon, di Jakarta, Rabu (6/5).

Diantara sayur hidroponik yang dikembangkan Glen adalah selada,  bayam merah, bayam hijau, kale dan samhong. Sayur yang ditanam di halaman rumahnya di kawasan Limo, Depok, Jawa Barat (Jabar) , saat ini sudah punya banyak pelanggan.

Menurut Glen, semula usaha sayur hidroponik yang dilakukan di pekarangan rumah seluas 100 m2 ini hanyalah coba-coba. Lantaran hobi bercocok tanam, usaha budidaya sayur hidroponik terus berkembang dan menjadi sumber pendapatan keluarga.

" Saat ini ada 10 unit hamparan tanaman sayur hidroponik. Sayur yang kami tanam setiap minggu bisa panen dan setiap hari pun bisa dijual ke konsumen," kata Glen.

Sebelum pandemi corona, produksi sayur selada mencapai 30 kg-40 kg per minggu. Selada ini umumnya diminati pasar hotel, rumah makan  dan restoran. Karena ada pandemi corona, permintaan dari restoran, rumah makan dan hotel sudah tak ada.

" Karena itu untuk selada yang dulu peminatnya banyak saat ini tak kami produksi. Kami fokus ke sayur lainnya yang banyak diminati kalangan pribadi (rumah tangga)," papar Glen.

Glen mengaku, di tengah pandemi corona ini usaha sayur hidroponik masih berjalan, meskipun tidak seramai sebelumnya. " Saat ini masih jalan. Lumayan juga yang pesan," ujarnya.

Menurut Glen, umumnya yang memesan sayur untuk kebutuhan pribadi (keluarga). Sehingga pesannya tak terlalu banyak.

" Rata-rata 2-4 kg per hari. Kalau ada yang perlu jenis sayur lain yang kebetulan di tempat kami tak produksi , kami ambil dari teman," kata Glen.

Harga sayur hidroponik yang dijual ke konsumen, lanjut Glen dipatok dengan harga Rp 30 ribu-Rp 40 ribu per kg. " Kalau diantar sendiri, konsumen tak dikenakan biaya tambahan. Tapi, kalau dikirim melalui ojek online ada tambahan ongkos kirim. Jadi, konsumen kadang bayar ongkos kirimnya mahal," papar Glen.

Menurut Glen, sayur yang diproduksinya saat ini tak terlalu banyak, hanya berkisar 15 kg per minggu. Ada bayam, kale, samhong, pak coi dan beberapa jenis lainnya.

" Saat ini sudah tak ada permintaan dari hotel dan restoran. Sebab, di saat pandemi corona restoran, hotel dan rumah makan tutup sementara. Sehingga omzet kami juga berkurang. Tapi, kalau di rata-rata masih dapat Rp 2 juta-Rp 2,5 juta per bulan," papar Glen.

Selain pelanggannya berkurang, menurut Glen, usaha sayur hidroponik yang digelutinya sejak 8 tahun lalu juga terkendala untuk mendapatkan bibit sayur. Tentang pengirimannya juga terkendala, karena sebagian besar harus menggunakan ojek online.

" Meskipun ada kendala, usaha sayur hidroponik ini tetap jalan. Sebab, sayurnya bisa kami konsumsi sendiri. Selain itu, kami sudah ada  pelanggan,"  kata Glen.

Persiapan Pensiun

Budidaya sayur hidroponik tak perlu halaman luas. Bahkan, budidaya sayur hidroponik bisa dilakukan siapa saja. Seperti  ibu-ibu rumah tangga hingga
pegawai negeri sipil (PNS) bisa melakukan budidaya sayur hidroponik di pekarangan rumahnya.

Menurut pengakuan Glen,  bertani hidroponik disamping sebagai penyalur hobi, juga untuk persiapan menghadapi masa pensiun kelak. " Budidaya sayur hidroponik ini bisa kami lakukan di tengah-tengah kesibukan menjalankan tugas sehari-hari sebagai PNS," papar Glen.

Glen mengatakan, usaha sayur hidroponik punya prospek cukup bagus. Sebelum pandemi corona, pihaknya melayani permintaan selada secara rutin ke hotel, rumah makan dan restoran.

"Sayur selada merah hidroponik kami jual dengan harga  Rp 25 ribu per kg," ujarnya.

Sayur hidroponik yang diproduknya juga sudah punya pelanggan tetap, mulai dari pengelola kantor pemerintah, swasta, hotel hingga kantin sekolah. “ Sudah ada pembeli rutin seperti Ayam Bakar Dower dan sejumlah komunitas kuliner di kawasan Tangerang,” kata Glen.

“Khusus untuk sayur selada merah banyak dipesan sejumlah hotel. Sedangkan selada hijau sebagian kami jual dalam bentuk rujak sayur,” jelas Glen.

Glen berharap, pandemi corona ini segera berlalu. Sehingga, bisa menanam selada lebih banyak  lagi untuk memenuhi permintaan rumah makan, hotel dan restoran. 

 

Reporter : Dimas
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018