Friday, 05 June 2020


Di Warung Juwita (16)

22 May 2020, 07:59 WIB

Novel Memed Gunawan | Sumber Foto:ASRains

Novel CATATAN PAIMIN: MANUSIA MANUSIA YANG TERLUPAKAN. Ada fatamorgana yang membutakan hati dan mata. Ada keinginan yang tidak pernah didengar oleh orang-orang yang dipercaya untuk mengurusnya dan kerusakan besar yang tidak dipedulikan.

 

 

TABLOIDSINARTANI.COM - Paimin melangkah pelan ke rumah berpagar besi diikuti Rukanta dan Damiri. Rumah yang agak tinggi di atas jalan itu sedikit berubah.

Bentuknya sama seperti dulu, pemiliknya juga sama. Tetapi kelihatan lebih asri karena bersih dan dihiasi banyak bunga sepanjang pagarnya. Sejak dia kenal Juwita, empatpuluh tahun lalu, Paimin tahu bahwa Juwita sudah tinggal di rumah itu bersama orangtuanya. Sekarang dia tinggal di rumah itu bersama anaknya. Ada warung kecil yang menempel ke bangunan induk. Pintu dan jendelanya lebar, sehingga meja terbuat dari bambu di dalamnya dan segala macam dagangan di atasnya terlihat dari jalan. 

Paimin agak jengah melihat Juwita memandangnya ragu-ragu dari balik pagar rumahnya. Dia tidak mengerti, mengapa tiba-tiba mereka sama-sama merasa malu. Padahal tadi tidak ada sedikit pun ada rasa rindu. Hanya akan bertemu dan bertegur sapa. Itu saja. Tiba-tiba ada perasaan lama yang muncul kembali. Tapi susah untuk menjelaskan perasaan apa itu.

Paimin tertegun. Juwita juga kikuk. Dia tertunduk setiap  kali Paimin memandangnya. Demikian juga sebaliknya. Paimin segera memindahkan pandangannya ketika Juwita menatapnya. Akhirnya keduanya tersenyum. Kecut. Tak tahu mengapa Paimin saat itu seakan tidak merasa dirinya utuh sebagai laki-laki. Persis seperti bait-bait dalam lagu Yesterday yang dinyanyikan John Lennon pertama kali pada tahun 1965. Mungkinkah dia merasakan hal yang sama dengan dirinya seperti pada saat ini?

 
Suddenly I’m not half the man I used to be

There’s a shadow hanging over me 

BACA JUGA: Desa yang Berubah (15)


“Mengapa sekarang aku merasa dia adalah bagian dari hidupku?” katanya dalam  hati.

“Ya, serpihan masa lalu itu sedikit terjahit jadi lembaran kain sejarah hidupku. Ada kenangan kisah cinta, walaupun waktu itu aku tak mengerti apa-apa,” kenangnya.

Paimin melihat wajah perempuan di depannya dengan hatinya. Bukan dengan matanya. Dia mengeluarkan seluruh memori yang ada di dalam kepalanya. Wajah itu ada dalam dadanya. Wajah gadis 15 tahun yang ceria , tapi memerah mukanya setiap kali Paimin memandangnya. Sekarang, di mata Paimin, wajah Juwita sudah dirambahi  garis-garis tanda ketuaan. Ada seraut kelelahan tergambar di dahi dan pipinya. Keriput di bawah matanya menandai kelelahan hidup.

“Raut tua yang pantas saja sesuai umurnya, tetapi sisa kecantikannya masih membayang.”

“Pasti dia melakoni hidupnya dengan berat. Kang Samad sudah mengatakan kalau Juwita hidup sendirian membiayai dua anaknya yang sedang berangkat dewasa.”

“Apa kabar Wita?” tanya Paimin suaranya ragu-ragu agak tersangkut di kerongkongannya.

Paimin menyodorkan tangannya mengajak bersalaman.

“Baik, Kang. Akang gimana?” Juwita menyambut salam.

Suaranya pelan. Pegangan tangannya juga lembek. Paimin harus menggenggamnya lebih kuat agar tidak terlepas.

“Alhamdulillah, Akang sehat. Bagaimana kelihatannya? Tidak muda seperti dulu lagi, ya?” Paimin berusaha memecah kebekuan.

“Ya, kelihatan sehat. Akang awet muda. Beda kalau orang kota, ya.”

“Akang tetap orang kampung, Wita.”

Juwita mengatupkan bibirnya dan memandang tepat di mata Paimin. Pandangan yang menembus jantung. Membuat Paimin gelagapan tak bisa berkata-kata. Bibirnya menyunggingkan senyum kosong. Paimin mencoba untuk bersikap biasa. Tapi tetap saja ada getaran di dadanya. Getaran aneh, setelah dia tidak bertemu dengan kawan sepermainannya itu sekian lama.

Sejak lulus SMP, Juwita dikawinkan orangtuanya dengan si Zaini, manajer perusahaan bus angkutan yang melayani jalur angkutan Luragung-Jakarta.   Seorang pemuda yang cukup perlente dan banyak dikenal sejak bus angkutan tersebut mulai beroperasi melayani jalur pengangkutan sampai ke daerah ini. Ketika itu Paimin merasa sedih dan marah. Tidak tahu mengapa dia harus marah. Toh dia tidak akan mengawini perempuan itu. Tapi Paimin menyayangkan. Mengapa perempuan muda, lugu, cantik dan bersih itu kawin dengan orang yang sekelas Zaini. Yang keras, kasar dan penuh dengan kehidupan jalanan. Menurut Paimin, Zaini bukan orang yang bisa dipercaya. Dia terlalu berpengalaman sehingga akan cenderung memperdayakan. Indera ke enamnya mengatakan, Juwita tidak akan bahagia hidup dengan laki-laki itu. Umurnya juga terpaut jauh. Itu pula sebenarnya yang menjadi salah satu alasan mengapa Paimin ingin pindah ke Jakarta.

 Sekarang gadis periang itu sudah jadi perempuan tua yang terlihat berwibawa dan penuh dengan pengalaman hidup. Dia berdiri menyambutnya di depan pintu rumah. Mengenakan kain sarung Cirebonan warna meriah didominasi warna biru, dan kebaya longgar dengan bordiran kecil di sepanjang belahan depannya. Rambutnya disanggul sederhana dan dikuatkan dengan sumpit panjang seperti sanggul perempuan Jepang. Menarik. Tanpa asesoris macam-macam. Tapi justru menunjukkan kesahajaan dan kedewasaan.

Paimin menatapnya dengan penuh kekaguman, sampai tiba-tiba pikirannya buyar ketika seorang anak muda berumur sekitar 20 tahun, ke luar dari pintu rumah. Dia sekilas saja menatap Paimin, lalu mendekat dan menyalaminya tanpa menunjukkan sikap hormat. Paimin sudah menduga bahwa anak ini adalah anaknya Juwita.

“Ini Rifat, anak saya yang pertama. Sudah lepas SMA tapi tidak bisa meneruskan sekolah lagi. Sekarang bekerja di Warnet, Kang,” Juwita mengenalkan anaknya.

“Dia kursus komputer lalu langsung bekerja.”

“Bagus,” kata Paimin sambil tak henti memperhatikan anak muda itu.

Rifat acuh tak acuh. Dia tidak suka dengan kedatangan Paimin ke rumahnya. Ada semacam perasaan curiga yang mengganggu pikirannya. Instink. Paimin berusaha memberikan kesan dan perhatian kepada anak muda ini. Tapi Rifat segera berlalu sebelum Paimin mengatakan sesuatu kepadanya.

“Berapa anakmu, Wita?”

“Dua, Kang. Kakaknya Rifat perempuan. Si Milah. Jamilah namanya. Sekarang dia sudah kawin dan tinggal di desa tetangga.”

“Anak Akang juga dua, kan. Laki-laki semua?”

“Kamu tahu?”

“Ya, Kang Samad cerita.”

(Bersambung)

 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018