Thursday, 02 July 2020


Istianah Dapat Rupiah Setelah Menyulap Pekarangan

24 Jun 2020, 09:35 WIBEditor : Gesha

Pertanan Istianah di pekarangan | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Banyuwangi --- Lahan pekarangan selama ini menjadi lahan yang seringkali diabaikan. Sebab pertanian tidak selalu identik dengan lahan persawahan atau tegalan. Tapi tidak bagi Istianah, seorang ibu rumah tangga dari Dusun Tapaklembu Desa Temuasri Kecamatan Sempu Kabupaten  Banyuwangi.

Dengan telaten setiap pagi Istianah mengurus pekarangannya yang kini disulap menjadi lahan pertanian. Dirinya sukses mengelola pekarangannya menjadi ladang bisnis yang cukup menggiurkan.

Pada tahun 2010, Ahmadi, suami Istianah  diangkat menjadi ketua kelompok tani (Poktan) Tunas Lestari. Hal ini membuat Istianah sering bertemu dengan penyuluh pertanian, sehingga ia sering berbincang tentang pertanian. Dari diskusi-diskusi kecil dengan penyuluh setempat, Istianah kemudian memulai memanfaatkan pekarangannya untuk tanaman sayuran. 

Diawal tahun 2010 Istianah memanfaatkan lahan pekarangan seluas 100m2. Lalu di tahun 2018, ia merubah pola usahanya, sehingga yang separuh lahan tetap digunakan untuk tanaman sayur  seluas  ±50 m2, dan sisanya  dibangun green house untuk usaha perbenihan sayur mayur (cabai, brokoli, kubis, seledri dan lain lain)

Cara  budidaya yang dilakukan Istianah dengan sistem tanam langsung di lahan dan juga menggunakan media polybag.  Sepuluh tahun dari giat berusaha taninya, tanaman yang dihasilkan semakin beraneka ragam. Istianah juga membibitkan tanaman sayuran. Setiap bulan tak kurang dari 10 ribu sampai 15 ribu bibit tanaman bisa dijual. Saat ini jaringan pemasaran sampai ke luar daerah. 

Dari usaha yang dilakukan Ahmadi dan Istianah, anak pertamanya telah lulus menjadi sarjana dan anak kedua anak lainnya masih menempuh pendidikan di bangku kuliah. Dan di tengan pandemi covid ini keluarga ini tidak terdampak dan tetap melanjutkan usahanya tanpa terpengaruh pandemi seperti pada sektor yang lainnya.

 “Dengan memanfaatkan lahan pekarangan secara sungguh-sungguh, kami bisa meningkatkan ekonomi keluarga. Terbukti, dengan memanfaatkan lahan potensial, kebutuhan pangan keluarga tercukupi, perekonomian kami juga stabil,” ujar Istianah.

Cegah Kerawanan Pangan

Upaya Istianah ini merupakan bagian dari cara untuk menanggulangi kerawanan pangan di tingkat keluarga tani.  

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) berkali-kali menegaskan pentingnya mempercepat tanam dan memanfaatkan setiap jengkal lahan kosong untuk ditanami tanaman yang cepat panen di masa pandemi Covid-19.

“Di masa pandemi Covid-19 seperti ini ayo kita tingkatkan pemanfaatan setiap lahan untuk produksi sumber pangan. Bahkan di pekarangan rumah bisa ditanami tanaman pangan pengganti beras. Diversifikasi pangan agar masyarakat memiliki ketahanan pangan selain beras”, ungkap SYL.

Memang, lahan pekarangan selama ini menjadi lahan yang seringkali diabaikan. Sebab pertanian tidak selalu identik dengan lahan persawahan atau tegalan. Masih banyak lahan-lahan yang bukan sawah yang memiliki peluang usaha yang menjanjikan, termasuk lahan pekarangan.

Pemerintah telah menganggarkan banyak program dalam rangka pemanfaatan pekarangan untuk pertanian. Program karang kitri, P2KP, KRPL, dan lainnya telah dilakukan. Program-program pemanfaatan pekarangan bisa semakin sukses jika diiringi niat, semangat dan kesungguhan dari masyarakat tani. 

Sehingga pendampingan dan pengawalan dari para petugas dan penyuluh harus terus ditingkatkan agar masyarakat lebih semangat dalam pelaksanaan pemanfaatan pekarangan pertanian ini.  

Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Prof. Dedi Nursyamsi mengatakan bahwa akibat pandemi Covid-19 saat ini negara pengekspor memberhentikan ekspor bahkan umumnya negara-negara tersebut protektif untuk mengamakan pangan bagi negaranya sendiri. Untuk Indonesia dituntut untuk berdiri dengan hasil produksi sendiri.

"Kita harus memperkuat ketahanan pangan nasional, dan cara yang bisa ditempuh adalah memperkuat diversifikasi pangan lokal dan jangan biarkan sedikitpun lahan kosong. Manfaatkan dengan menanam komoditas pangan,” tutur Prof. Dedi.

Reporter : Lely
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018