Tuesday, 14 July 2020


Wisata Agro dan Multi Fungsi Pertanian, Menghindari Covid-19

28 Jun 2020, 07:08 WIBEditor : Ahmad Soim

Kebun Teh Dempo Sumatera Selatan | Sumber Foto:Memed Gunawan

Oleh Dr. Memed Gunawan

 

TABLOIDSINARTANI.COM - Sore hari di Grojogan Sewu, Tawangmangu. Jalan menurun menuju pintu masuk kawasan hutan begitu curam. Bus kecil yang kami tumpangi, memasang gigi satu mencegah penggunaan rem yang berlebihan.

Di lokasi yang asri, di Kabupaten Karangayar, Jawa Tengah itu, terdapat sumber air yang dijaga bersama agar tetap mengalir deras dan alami. Pengunjung larut dengan suasana hati yang teduh melihat keindahan dan temaram hutan pinus.

Pohon-pohon yang tinggi lurus menjulang  tampak indah dan tenang. Jalan berbatu yang sangat alami berkelok-kelok, air di selokan-selokan kecil gemericik mengalir di sela sela batu dan pohon kering.

Jalan ke air terjun tidaklah dekat, tetapi tak terasa lama, karena sepanjang jalan dihibur keindahan hutan kecil yang begitu memukau.

Berapalah hasil hutan dan pertanian di kawasan itu, pasti tidak banyak, tapi jalannya terpelihara baik, airnya mengalir tak habis-habis, warung dan kesibukan ekonomi terus berlanjut.

Wisata Agro Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah (Memed Gunawan)

Juga di lereng Gunung Dempo, Sumatera Selatan. Hamparan tanaman teh yang berombak mengkuti kontur tanah hijau memukau. Pada pagi yang dingin berembun itu, para pengunjung harus rela antri datang ke sana memesan cottage.  Mereka tak pernah berpikir berapa penghasilan kebun teh yang menghampar indah itu. Pasti berfluktuasi dan dikabarkan kadang merugi akibat gejolak harga di pasar dunia. Yang ada di kepala para pengunjung itu hanyalah keindahan dan ketenteraman.

Lahan-lahan pertanian itu tidak beralih jadi lahan industri atau kegiatan ekonomi lain yang ramai dan panas, melaikan dibiarkan menjadi tempat yang menyenangkan untuk wisata. Gubuk sederhana, jembatan bambu, makanan lokal, yang menawarkan kesederhanaan pedesaan. Investasi tambahannya hanyalah kebersihan dan keramahtamahan. Titik.

Lahan itu jadi sumber pendapatan masyarakat yang jauh dari nilai produk pertanian yang dihasilkannya. Inilah produk pertanian yang memanjakan mata dan hati, bukan hanya mulut dan perut.

Benar sekali konsep multifunctionality of agriculture yang ramai didiskusikan dan kadang tidak ada hasil akhirnya itu. Di tangan petani sederhana yang inovatif, realisasinya berlari lebih dulu, mewujudkannya jadi sesuatu yang riel dirasakan masyarakat. Barangkali situasi yang menyenangkan itu cocok untuk mereka yang selama berbulan-bulan mengurung diri karena patuh menghindari covid-19.  

Issue multifunctionality of agriculture pernah mencuat dan mendapat bahasan positif maupun negatif dari berbagai pihak, terkait dengan proses produksi, pemasaran, lingkungan dan berbagai aspek yang disukai maupun tidak disukai. Soal subsidi, kelangsungan pertanian, perlindungan pertanian, ketahanan pangan sampai kestabilan politik dibahas oleh para pakar dan pengamat. Tidak kurang, debat menyentuh proteksionisme dan ketidakadilan perdagangan dunia. Yang pasti, pertanian bukan hanya penting untuk memenuhi kebutuhan pangan tetapi jauh lebih dari itu: menjangkau berbagai aspek kehidupan manusia

 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018