Friday, 10 July 2020


Sensasi Sunrise dan Sunset di Bumi Rencong yang  Tak Pernah Kalah

30 Jun 2020, 15:14 WIBEditor : Ahmad Soim

Sunset di Pantai Lampuuk Aceh | Sumber Foto:Memed Gunawan

Oleh: Dr Memed Gunawan

 

 TABLOIDSINARTANI.COM - Saat sunset dan sunrise di Banda Aceh adalah satu sensasi. Di pinggir jembatan menuju ke Pantai Lampuuk, bersebelahan tak jauh dari Masjid Baiturrahim, tersedia tempat strategis untuk menembakkan kamera ke arah laut untuk menangkap sunset.

 

Allah memberikan tanah yang   indah dan subur di provinsi Nangroe Aceh Darussalam. Semua bidang usaha dan kekayaan alam ada di sini. Pertanian, perkebunan, pertambangan, kelautan, perdagangan dan apa pun yang bisa dipikirkan oleh manusia tentang sumber kehidupan.

Pantainya yang menghubungkan muara sungai dengan lautan Hindia sangat memukau. Tambak yang dibangun pasca tsunami berwarna gelap dengan batu-batu besar melekat tersusun membentuk hiasan alam yang tak bosan dipandang mata.

Tanaman bakau memang tak ada di sepanjang pantai, mungkin sudah lama punah dipakai untuk usaha dan perumahan. Gantinya adalah bangunan pelabuhan, terusan-terusan untuk tempat kapal nelayan bersandar dan restoran kecil bertebaran yang menawarkan  ikan bakar yang begitu lezat.

Aceh yang indah dan subur (photo: Memed Gunawan)

Tonggak-tonggak di pinggir sungai yang berwarna hitam ketika sinar matahari meredup memperindah lukisan di lensa kamera.

Rumah-rumah di seberang sungai dan kapal kecil lalu-lalang melewati kolong jembatan jadi sasaran tembak kamera yang tak henti-hentinya. Sementara itu kursi plastik lebar dan meja kecil menyediakan tempat yang sempurna untuk menikmati sore itu ditemani pisang goreng kipas khas Aceh,

 Tak Pernah Kalah

Aceh itu unik dan menarik. ACE Hardware dipelesetkan oleh orang kreatif penjual kaos menjadi ACEH Hard War. Unik dan menarik, karena sejarah Aceh memang dicirikan oleh perjuangan yang tak mengenal kalah.

 Aceh tidak juga  menyerah walaupun dengan strategi pendekatan Islam Snouck Horgronje, seorang  penasehat J.B. van Heutsz, yang mengambil peran aktif dalam bagian akhir (1898-1905) Perang Aceh (1873-1913).

Snouck Horgronje menggunakan pengetahuannya tentang budaya Islam merancang strategi untuk membantu memadamkan perlawanan penduduk Aceh dalam upaya memberlakukan kekuasaan kolonial Belanda di Aceh.

Perang selama 40 tahun yang memakan korban sekitar 50.000 -100.000 penduduk tewas dan sekitar satu juta terluka tidak pernah berakhir.

Pemimpin perang Aceh boleh saja tertangkap dan dibuang Belanda, tapi masyarakat Aceh terus melawan. Upaya Belanda menaklukan Aceh berujung pada terbunuhnya 4 Jenderal dan sejumlah besar pasukannya itu meninggalkan makam Belanda besar yang sekarang masih tertata rapi di kawasan kota Banda Aceh. 

Demikian juga konflik yang panjang dengan pemerintah pusat di Jakarta yang tak pernah usai sehingga sangat melelahkan baik dari segi anggaran, militer maupun diplomatik. Akhirnya bencana Tsunami yang meluluhlantakan Banda Aceh dan sekitarnya, berbuah indah, yaitu terciptanya Persatuan, Perdamaian, Persaudaraan dan Pembangunan menyeluruh dalam segala aspek di seluruh Tanah Rencong ini. Aceh menjadi Daerah Istimewa, di mana hukum Syariah berlaku di provinsi yang dikenal dengan Serambi Mekah ini.

 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018