Saturday, 15 August 2020


Liburan ke Wonogiri, Yuk Mampir ke Agrowisata Barro Tani Manunggal

30 Jul 2020, 14:01 WIBEditor : Yulianto

Dwi Sartono di lokasi Agrowiasata yang dikelolanya | Sumber Foto:BBPP Ketindan

TABLOIDSINARTANI.COM, Wonogiri---Jika Anda sempat berkunjung atau liburan ke wilayah Wonogiri, sebaiknya sempatkan ke Agrowisata Barro Tani Manunggal. Di lahan seluas 5 hektar (ha), kita akan dimanjakan berbagai tanaman sayuran. Bahkan kita bisa memetik sendiri tanaman sayuran yang telah waktunya panen.

Pengelola sekaligus Ketua Gapoktan Subur Makmur Desa Kepatihan Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah, Dwi Sartono mengatakan, di lahan seluas 5 ha tersebut ditanami terong, cabai, labu madu, tomat, pare, mentimun, golden melon, melon hijau, semangka kuning, dan semangka merah.

Bagi pengunjung agrowisata, Dwi Sartono mempersilakan warga atau pengunjung memetik sendiri dari tanaman yang telah waktunya panen. “Dengan cara itu, petani bisa mengatasi harga anjlok saat panen tiba. Pasalnya, mereka bertemu langsung dengan konsumen, tanpa melalui pengepul atau tengkulak,” katanya.

Di lokasi tersebut, menurut Dwi, pengunjung rela merogoh kocek untuk membeli semangka Rp 5.000/kg. Padahal, di pasaran petani terpaksa menjual semangka seharga Rp 2.500/kg kepada tengkulak.

Sebagai seorang milenial, Dwi mempunyai impian membuat agrowisata lebih tertata, untuk memajang produk-produk petani lainnya. "Saya ingin mengajak petani lain sebagai mitra, sehingga produksi selalu kontinyu dan bisa mencukupi permintaan,” katanya.

Apalagi saat ini gerenasi muda di sektor pertanian sudah mulai bertumbuh. bahkan  semakin banyak  peluang yang bisa dikembangkan dalam bidang pertanian. Namun demikian, Dwi mengakui, untuk bisa lebih maju peran pendampingan dari penyuluh pertanian tetap diharapkan. Karena petani dan penyuluh pertanian tidak bisa dipisahkan sebagai mitra,” lanjutnya.

Silvia, penyuluh pendamping di Kecamatan Selogiri mengatakan, adanya petani milenial yang mau terjun khusus ke komoditas hortikultura di Desa Kepatihan, Kecamatan Selogiri membuat penyuluh pertanian bangga dan sangat mengapresiasi langkah seperti Dwi Sartono. Dwi bisa menjadi pioner petani milenial di Kabupaten Wonogiri, yang menarik minat pemuda tani lainnya ikut terjun ke bidang hortikutura,” katanya.

Semenetara itu Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyami berharap, inilah waktu yang tepat bagi petani untuk menjadi pahlawan bangsa. Petani milenial harus mampu menjadikan aktivitas tidak hanya on farm tetapi mampu menuju off farm yang lebih memiliki nilai jual, terutama pasca panen dan olahannya.

Selain itu petani milenial harus mampu membuat terobosan-terobosan baru, dan harus mau berinovasi di jaman Industri 4.0 ini,” katanya.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, generasi milenial adalah penentu kemajuan pembangunan pertanian di masa depan. Ia meyakini tongkat estafet pembangunan pertanian ada pada pundak generasi muda. 

"Generasi milenial terus dijadikan target utama untuk mendongkrak kualitas sumber daya manusia di bidang pertanian," ujar SYL. Atas dasar itulah Kementerian Pertanian menargetkan 1 juta petani milenial ikut tergabung dalam 40 ribu kelompok di masing-masing daerah, yang terdiri atas 20-30 orang.

Menurut SYL, salah satu tantangan terbesar pembangunan pertanian di Indonesia saat ini adalah minimnya minat generasi milenial untuk bertani. Bahkan SYL menaruh harapan besar di bidang pertanian untuk para generasi milenial yang berani mendirikan usaha.

 

 

Reporter : Silvia/ Yeniarta (BBPP Ketindan)
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018