Wednesday, 30 September 2020


Titik Imaginer (19)

30 Aug 2020, 20:40 WIB

Novel Memed Gunawan | Sumber Foto:Ahmad Soim

Bentang telah menemukan dunianya yang mengasyikan, dan dia menikmatinya dengan sepenuh hati sampai tak ada satu pun orang yang bisa mengganggunya.

 

TABLOIDSINARTANI.COM - Bentang berdiri seperti patung,  melihat bulan. Tangannya memegang pensil dan selembar kertas. Mulutnya komat-kamit seperti orang sedang berdoa. Dia baru saja menggambar bulan yang hampir memenuhi kertas yang dipegangnya. Bulan yang bulat yang diberinya warna kuning dan pinggiran garis hitam. Dia asyik dengan lamunan singkat sebelum masuk lagi, lalu duduk di kursi makan dan kembali menggambar, mencoret-coret bulan kuning yang dibuatnya.

Marbun menemaninya dengan penuh kesabaran. Marbun membayangkan lamunan Bentang yang begitu jauh tentang bulan. Bentang jarang bertanya sesuatu pada siapa pun. Pikirannya tersimpan khusus untuk dirinya. Tapi pikirannya terus bergerak menyentuh banyak hal yang tidak pernah dipikirkan oleh orang lain. Marbun tetap bangga dengan anak bungsunya itu. Anak jenius yang perlu dampingannya setiap hari. 

Diperhatikannya gambaran hasil anaknya yang penuh dengan coretan aneh. Tak berbentuk. Tapi begitu ditekuni oleh anaknya. Ada sesuatu yang sangat menarik hatinya sampai anak itu duduk dan meneliti gambarnya dengan sangat serius. Menurut Marbun, Bentang menemukan dunianya yang mengasyikan, dan dia menikmatinya dengan sepenuh hati sampai tak ada orang yang bisa mengganggunya. Tapi dia tidak hanya sangat cerdas tetapi juga tak bisa berhenti melakukan sesuatu. Hanya sedikit tidur sehingga sangat merepotkan orangtuanya. 

BACA JUGA:

Bentang (18)

Bentang (17)

Gila atau Hebat (16)

Indahnya Tekad (15)

Pada umur 8 tahun Bentang sudah menunjukkan kesukaannya pada komputer. Dia bisa duduk terus sambil menggeser-geser mouse dan klak-klik apapun yang dimauinya sampai seringkali Marbun bingung ketika mendapati komputernya sudah berubah settingnya. Akhirnya, hanya untuk menjaga agar settingnya tidak berubah, Marbun membuat password sehingga file-file miliknya aman. Dia sengaja membelikan komputer bekas yang sederhana buat Bentang agar anak ini tidak terlalu banyak mengganggu pekerjaannya. Sejumlah game pun mulai dikutak-katik oleh Bentang sampai dia seakan hafal dengan game yang ada dalam komputernya.

Ketika Bentang menginjak kelas tiga, Marbun dikejutkan oleh keadaan komputernya yang berantakan. Sejumlah gambar dan coretan terpampang di layar monitornya. Ada seseorang yang bisa memecahkan password-nya dan membuka komputernya. Bentang mengakui melakukannya. Yang membingungkan Marbun adalah bagaimana anak sekecil itu bisa memecahkan password-nya. Inilah keanehan sekaligus kejadian yang membuatnya penasaran. Marbun tidak marah, dia hanya menanyakan bagaimana Bentang bisa melakukannya. Tetapi Bentang hanya menggelengkan kepalanya. Marbun gembira melihat kemampuan anaknya. 

“Dia pintar dan sehat, pendiam dan hanya berpikir dan melakukan aktivitas untuk dirinya. Dia tidak menginginkan sesuatu dari hasil kerjanya. Tapi aku bahagia. Setidaknya dia anak pintar, jauh dari yang aku kuatirkan semula,” pikirnya.

Murniasih juga menolak keras ketika Marbun mengutarakan kekuatirannya anaknya autis.

“Tidak, Kang. Anak kita baik-baik saja. Aku yang mengasuhnya tiap hari. Aku tahu tentang anakku,” katanya dengan penuh emosi.

“Dia anak hebat. Aku berjanji akan membuktikannya. Pikiran Akang tidak benar dan hanya membuat aku berang,” katanya.

Marbun diam. Singa betina itu kalau sudah marah sulit untuk dikuasai, oleh sebab itu lebih baik diam. 

Sekarang Marbun semakin yakin bahwa isterinya benar. Bentang adalah anak yang genius. Karena begitu hati-hatinya Marbun menangani Bentang, maka kegiatan sekolah dan belajar tidak segera dipaksakan untuk anaknya. Bentang banyak menggunakan waktunya untuk bermain. Tanpa sadar, sebenarnya Marbun telah memberikan kegiatan sehari-hari yang tepat untuk anaknya. Anak yang mempunyai kesempatan yang cukup untuk bermain secara sehat akan banyak belajar untuk mengembangkan kreativitas dan perilaku dalam kehidupan berkelompok dan kehidupan sosial. 

Tetapi Marbun juga mengamati bahwa Bentang tidak sepenuhnya menyatu dalam kehidupan sosialnya. Dia banyak mengikuti irama kegiatannya sendiri. Dengan bermain, Bentang mulai mempunyai perhatian pada sekelilingnya dan kawan-kawannya. Hanya berbagai model permainan, khususnya yang diiringi lagu-lagu tidak diminati oleh Bentang. Marbun membutuhkan waktu lama untuk mengerti perilaku anaknya. Tetapi berdasarkan logikanya sendiri dia mencari-cari apa yang terbaik buat anaknya. 

Marbun membelikan beberapa permainan yang disukai oleh anaknya. Tak lupa dia membeli banyak buku untuk mencoba mengerti keadaan yang diderita Bentang. Dia mengajari melalui pendekatan cara berpikir. Itulah yang menurut dia lebih penting untuk dipelajari Bentang karena anaknya itu tidak bisa diam dan tekun belajar.

Tuhan menakdirkan Bentang menjadi anak yang tidak banyak mengenal diam. Dia selalu bergerak. Dia tidak tahu kapan harus mengakhiri sebuah pekerjaan. Jadwal yang ada dalam kepalanya tidak pernah ada jeda. Selalu ada yang menarik untuk dikerjalannya walaupun mungkin hanya hal yang tidak diperhatikan orang. Kebanyakan manusia menganggapnya dia mempunyai kelainan, tetapi Marbun menganggapnya punya satu kehebatan karunia Tuhan yang tidak dipunyai anak lain. Ini adalah kekecualian berupa kekuatan dan kehebatan.

Hukuman yang diberikan gurunya karena dia mengacak-acak situs sekolah tidak dirasakan sebagai hukuman. Dia berhenti sebentar, ibarat berhenti di tanda STOP di pinggir jalan yang meminta pengendara untuk melihat sebentar apakah keadaan sekeliling aman untuk meneruskan perjalanan, atau memberi kesempatan kepada pengendara lain yang datang lebih awal. 

Energi Bentang tak pernah habis. Diawali dengan belajar komputer menggunakan komputer tua, Bentang tak bisa dibendung untuk belajar program dan mengutak-atik program. Kepuasan Bentang sesudah mencoba-coba masuk ke dalam situs internet yang diproteksi, Bentang terus melakukannya tanpa tujuan tertentu. Kemampuannya membuat program dan instinknya dalam menelusuri memecahkan sandi sangat istimewa. 

BACA JUGA:

Perjuangan Lanjutan (10)

Perjuangan Marbun (9)

Memed Gunawan dan 13 Karya Buku Novel dan Puisinya

Memasuki SMA kelas satu, Bentang sudah bisa membuat program virus yang menghebohkan karena telah menyerang beberapa komputer  sekolah dan milik teman-temannya. Hanya melalui tangannya, anti virus dapat diciptakan dan komputer kembali normal.

Marbun mulai kebanjiran macam-macam surat dan peringatan. Sebagian menyatakan kekaguman dan pujian pada anaknya, tapi sebagian lagi berupa kecaman.  

Marbun tidak mengerti sedikit pun tentang ilmu untuk menjelaskan keadaan anaknya. Tetapi menurut Marbun, Bentang sangat mudah untuk mengerti dan memecahkan masalah. Hanya saja dia seakan tidak sadar tentang apa yang dilakukan dan untuk apa dia melakukan itu. Bentang seolah-olah tidak memerlukan berpikir lama untuk mulai mengerjakan sesuatu. Langkah-langkahnya dalam memecahkan permasalahan seakan-akan sudah melekat pada tangannya. 

Marbun seperti melihat gairah yang menggebu-gebu ketika Bentang menemukan sesuatu yang harus dipecahkan, khususnya jika ada password atau teka-teki yang harus dipecahkan.

Sejak virus bikinannya menyebar di antara komputer kawan-kawannya di sekolah, nama Bentang jadi pembicaraan orang. Karena dia pula yang membuat anti virus bikinannya. Sesudah itu virus-virus lainnya dia ciptakan dan menyebar melalui internet dan email. Namanya sangat mudah dikenali karena semua nama virusnya berawalan “B”. 

Pengguna internet heboh, karena penyelusup ini terang-terangan mengenalkan dirinya dan memamerkan kebisaannya. Dia jadi bahan pembicaraan di dunia maya, walaupun jarang sekali orang mengetahui siapa Bentang. Dia tetap tinggal di sebuah kamar sederhana di samping bengkel dengan komputer tua second hand yang dibelikan bapaknya.

“Saya tidak mengerti bagaimana dia melakukannya, Pak,” kata Marbun ketika seorang laki-laki berpakaian rapi datang ke rumahnya khusus untuk menemui Bentang.

Bentang sembunyi tidak mau keluar dari kamarnya. Akhirnya laki-laki yang mengaku bernama Albert itu pamitan sambil berjanji untuk datang lagi. Itulah awal yang membawa Bentang ke dunia baru yang sangat banyak digeluti tapi tidak dimengertinya itu.

Albert adalah perwakilan perusahaan security yang bergerak di kawasan Asia. Pelayanan security di bidang data, kantor dan perumahan itu memerlukan seorang ahli yang dapat membangun sistem yang tidak bisa dibobol orang. Jaringan konsumennya mulai dari perorangan sampai dengan perbankan sudah meluas dan memerlukan pengamanan yang ekstra ketat agar data-datanya tidak dapat diakses oleh sembarang orang. Dia datang khusus untuk menemui Bentang. Tapi Bentang tidak tertarik sama sekali.

***

(Bersambung)

 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018