Tuesday, 29 September 2020


Titik Imaginer (20)

01 Sep 2020, 14:56 WIB

Novel Memed Gunawan | Sumber Foto:Ahmad Soim

 

TABLOIDSINARTANI.COM - Lagi-lagi Murniasih membuktikan ketajaman nalurinya ketika akhirnya Bentang menemukan jalan raya yang lurus dan lebar setelah dia terjebak di gang kecil yang becek dan penuh kerikil.

Walaupun Bentang tidak punya banyak impian dan harapan, tetapi perjalanannya terus dipagari oleh bimbingan cinta Murniasih sehingga membawa dia ke sebuah lapangan indah yang banyak diimpikan oleh banyak orang. Sebuah surga, walaupun dibatasi oleh dinding kamarnya, bagi Bentang adalah surga sebenarnya seperti yang sering dibicarakan oleh Kyai Zainuddin guru ngajinya. Surga yang indah dikelilingi panorama berupa gambar macam-macam garis yanng rumit hasil rekaannya yang dibubuhi warna-warna aneh yang tidak dimengerti oleh siapa pun kecuali dirinya.

BACA JUGA:

Titik Imaginer (19)

Perjuangan Lanjutan (10)

Perjuangan Marbun (9)

Memed Gunawan dan 13 Karya Buku Novel dan Puisinya

Kini sebuah komputer Apple keluaran paling mutakhir, dengan monitor berukuran besar yang jernih dan beresolusi tinggi bertengger di meja kerjanya. Ruangan kerja berpendingin dan dilengkapi fasilitas untuk komunikasi canggih itu menjadi teman hidupnya sehari-hari. Menara terbuat dari besi menjulang keluar dari samping rumahnya. Semuanya disediakaan oleh Mr. Albert yang memberinya pekerjaan dengan gaji yang cukup besar untuk ukuran keluarga Marbun. Pekerjaannya tidak jelas bagi siapa pun yang melihatnya. Waktu kerjanya tidak juga jelas. Tak ada aturan apalagi disiplin yang diterapkan. Semuanya hanya berupa komunikasi lewat komputer.

Tak ada orang sehebat Bentang,” kata Marbun dengan bangga ketika melihat peralatan yang dimiliki anaknya.

Tak ada,” isterinya menimpali.

Gajinya besar, pekerjaannya gampang, tidak usah bersusah payah pergi ke kantor.”

Hey, Kang, pekerjaan itu gampang bagi Bentang, tapi buat kita seumur-umur gak bakalan bisa ngerjainnya,” sela Murniasih dengan suara keras.

Iya….. Maksudku buat Bentang. Kan kita sedang cerita tentang dia,” Marbun menyambut kata-kata isterinya dengan senyum.

Sekarang boleh dibilang kita sedang menumpang hidup sama dia. Dia tak memikirkan uang, hanya bekerja. Lagipula sebenarnya dia bukan sedang bekerja, tapi menyalurkan kesukaannya. Dia sangat ceria karena merasa tidak ada yang menyuruh dan mengawasi. Kita yang harus mengawasi agar dia tetap sehat dan gembira. Jaga makanannya dan ajak dia berolahraga agar selalu gembira dan sehat,” kata Marbun.

Ya, Kang. Aku selalu menjaga dia. Tidak hanya sekarang, tapi sejak dulu ketika semua orang mengira si Bentang anak yang kurang waras.”

Akang gak pernah berpikir begitu, hanya takut dia autis. Harus diperiksa supaya kita bisa menjaganya dengan benar.”

Dari dulu aku gak percaya sama dokter itu. Mungkin aku lebih pintar dari dokter itu, ya Kang?” katanya sambil tertawa.

Memang demikian. Kan kamu ibunya. Pasti kamu tahu semuanya tentang Bentang karena setiap saat menjaganya,” kata Marbun lagi.

Aku sangat beruntung punya ibu anak-anakku seperti kamu, Muy.”

Perlu berbelas tahun bagi Marbun dan isterinya untuk meyakini bahwa Bentang bisa menjalani hidupnya sendiri.

Masih perlu dampingan tetapi dia bisa menjalani hidupnya dengan baik. Dia anak hebat, jauh lebih hebat dari yang kita pikirkan.”

Dan kehebatannya terus bertambah setiap saat,” tambah Murniasih.

Alhamdulillah.”

Angin semilir masuk ke dalam rumah ketika tiba-tiba Bentang membuka pintu. Dalam seragam SMA yang sederhana Bentang terlihat berseri-seri. Matanya cerah dan mukanya penuh keringat.

Kamu kelihatan gembira sekali,” kata Marbun dan Murniasih hampir bersamaan.

Bentang tertawa keras.

Di sekolah orang sedang gempar. Semua komputer terkena virus,” kata Bentang sambil terus tertawa.

(Bersambung ke Batas Tipis)

 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018