Monday, 28 September 2020


Tiru Yuk, Cara KWT Dukuh Mandiri Pasarkan Sayuran Organik

07 Sep 2020, 09:25 WIBEditor : Yulianto

Ibu-ibu anggota KWT Dukuh Mandiri sedang mempersiapkan pengemasan hasil panen | Sumber Foto:BBPP Ketindan

TABLOIDSINARTANI. COM, Pandeglang--- Pemanfaatan pekarangan untuk sayuran organik ternyata sangat menjanjikan, apalagi di tengah pandemi Covid 19 ketika aktivitas menjadi terbatas. Tapi kadang banyak yang terkendala dalam pemasaran. Seperti apa trik agar hasil panen mudah terjual?

Coba tiru trik yang dilakukan KWT (Kelompok Wanita Tani) Dukuh Mandiri Desa Sukajadi, Kecamatan Cibaliung, Kabupaten Pandeglang. Jika melihat kegiatan KWT Dukuh Mandiri membudidayakan sayuran organik di Blok Situ Sadang sebenarnya bisa terbilang baru yakni pada awal tahun 2020. Jumlah anggota KWT Dukuh Mandiri yang memanfaatkan pekarangan ada sekitar 30 orang.

“Tujuan kegiatan ini memang kita harapkan dapat memenuhi kebutuhan gizi keluarga dan meningkatkan pendapatan,” kata Ketua KWT Dukuh Mandiri, Roslena. Selain melakukan pemanfaatan pekarangan dengan tanam sayuran organik, KWT Dukuh Mandiri juga memiliki produk unggulan olahan pangan lokal yaitu kue noga wijen yang sudah diproduksi sejak tahun 2019. Bahkan sudah di pasarkan ke luar wilayah Pandeglang.

Dalam memasarkan produk sayuran organik Roslena mengungkapkan, pihaknya punya trik sendiri. Misalnya dengan cara membuka lapak sayuran di lokasi demplot dan promosi di media sosial facebook. Konsumen juga bisa datang langsung ke lokasi atau sistem COD (Cash On Delivery) untuk yang terjangkau.

Roslena menjelaskan, untuk mendapatkan hasil maksimal dan memberi nilai tambah yang bagus, sayuran organik melalui proses grading yaitu mengklasifikasikan sayuran berdasarkan kualitasnya. Kemudian dikemas bagus dan menggunakan label untuk daya tarik tersendiri.

“Dengan cara ini kami harapkan akan mudah untuk dipasarkan dengan harga bersaing,” tuturnya. Jenis sayuran organik yang ditanam adalah kangkung darat dan bayam merah. Tanaman ini dapat dipanen pada umur 25 hari setelah tanam.

Sementara itu Penyuluh Pertanian Desa Sukajadi, Anah Mulyanah mengatakan, sayuran yang dibudidayakan meliputi kangkung, bayam merah, seledri, bawang daun, pokcoy, caisim, selada bokor, cabai, tomat dan terong. Selain itu tanaman biofarmaka seperti jahe merah.

Tapi menurut Anah, baru kangkung darat dan bayam merah yang sudah bisa di panen. Sebab, umurnya hanya 25 hari, perawatannya mudah dan layak untuk di panen. Sayuran tersebut di tanam di lahan demplot seluas 100 meter persegi dan di tanam di setiap pekarangan rumah anggota KWT.

Anah menambahkan, pemanfaatan lahan pekarangan sebagai upaya mewujudkan program Kostratani. Karena itu ia berharap harus bisa diikuti petani lainnya. Kegiatan ini sebagai dukungan Kostratani Cibaliung kepada kegiatan-kegiatan KWT binaan BPP, serta yang tak kalah penting adalah difasilitasi Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Pandeglang dan DKP Provinsi Banten,” tuturnya.

Sementara itu Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, upaya membangun ketahan pangan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Semua sektor harus mengambil peran. Pemerintah, peneliti, praktisi, pakar pertanian, insan pertanian, penyuluh dan petani harus bersinergi.

“Kita harus memastikan bahwa pertanian tidak boleh terhenti didalam memenuhi kebutuhan pangan 267 juta jiwa penduduk di Indonesia. Bekerjalah dengan semangat mewujudkan kemandirian pangan, saatnya kita menjadi pahlawan bagi bangsa Indonesia” tutur SYL.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Prof. Dedi Nursyamsi mengatakan, untuk mendukung program Kostratani, petani harus terus didorong agar dapat melakukan hilirisasi kegiatan usaha taninya, baik secara on farm maupun off farm. Pertanian merupakan garda terdepan dalam pencegahan infeksi Covid-19 ini,” tegasnya.


Reporter : Anah Mulyanah/Yeniarta (BBPP Ketindan)
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018