Saturday, 24 October 2020


Gula Cair Lebih Manis dari Gula Tebu, Awasi Penggunaan !

23 Sep 2020, 11:28 WIBEditor : Gesha

Sirup Gula | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Trend konsumsi gula di Indonesia memang belum sampai pada penggunaan gula cair untuk kehidupan sehari-hari. Namun, beberapa produk minuman siap saji kini lebih familiar menggunakan gula cair sebagai perasa manis. Jangan lengah dan harus diawasi penggunaannya untuk konsumsi Anda.

"Dampak negatif dari terlalu banyak mengonsumsi gula cair bisa tidak disadari. Bukan hanya minuman yang jelas-jelas tidak disarankan seperti soda saja, tapi juga jus buah dalam kemasan yang kerap dianggap lebih sehat," ungkap Dokter Umum dari aplikasi sehatq.com, dr.Anandika Prawitri.

Mengapa demikian?Otak manusia tidak memperlakukan sama seperti saat mengonsumsi gula pasir karena teksturnya yang berbeda dari gula . Itulah mengapa mengonsumsi minuman manis tidak memberi sensasi kenyang seperti halnya makan padahal jumlah asupan kalorinya sama.

"Bandingkan ketika orang mengonsumsi kacang-kacangan dengan kalori 450 dan orang lain mengonsumsi minuman soda dengan kalori yang sama. Orang yang mengonsumsi kacang-kacangan akan merasa lebih kenyang. Sementara orang yang mengonsumsi minuman bersoda, pada akhirnya ingin makan lebih banyak lagi yang berarti asupan kalori pun bertambah," bebernya.

Salah satu penelitian telah membuktikan kedua hal tersebut dengan percobaan konsumsi 450 kalori dari jelly bean dan minuman bersoda. Individu yang mengonsumsi makanan manis dalam bentuk jelly bean cenderung merasa lebih kenyang dan memakan makanan lebih sedikit, sedangkan individu yang minum soda tidak merasa kenyang dan lebih banyak dan pada akhirnya lebih banyak mengonsumsi kalori.

Dengan demikian, rasa lapar dan keinginan untuk mengonsumsi kalori lebih banyak lagi juga berbeda saat merespons gula cair dan gula pasir. Akibatnya, konsumsi minuman manis yang mengandung gula cair bisa sulit dihentikan.

Pada kenyataannya hampir setiap minuman kemasan dan sajian di tempat makan memiliki kandungan gula yang cukup tinggi, atau sedikitnya 100 kalori atau sekitar 20-30 gram gula per 350 ml. Gula cair pada minuman biasanya merupakan gula tambahan, namun memiliki kadar yang lebih tinggi dari minuman dengan bahan dasar susu atau buah yang juga sudah memiliki jenis gula laktosa dan fruktosa.

Bahaya Gula Cair

Ada begitu banyak penelitian yang menyebutkan gula cair berdampak negatif bagi jantung. Ketika seseorang mengonsumsi terlalu banyak gula cair, maka molekul lemak di pembuluh darah meningkat. Dalam jangka panjang, hal ini berisiko menyebabkan penyumbatan pembuluh darah hingga serangan jantung.

Minuman dengan pemanis tambahan sebaiknya tidak masuk dalam menu yang dikonsumsi orang yang sedang berupaya mencapai berat badan ideal. Kandungan gula yang tinggi membuat tubuh kelebihan asupan kalori, tidak sepadan dengan kalori yang dibakar. Akibatnya, berat badan pun bisa meningkat. Tak hanya itu, beberapa penelitian juga menemukan keterkaitan antara konsumsi fruktosa berlebih dengan penumpukan lemak di perut. Hal ini bisa menjadi salah satu indikator sindrom metabolik yang berbahaya bagi kesehatan.

Mengonsumsi gula cair berlebih juga bisa meningkatkan kadar gula darah dan resistansi insulin. Dari beberapa penelitian, tingginya konsumsi fruktosa menyebabkan sensitivitas insulin seseorang menurun padahl tugas insulin adalah mengendalikan gula di dalam darah. Tak hanya itu, juga meningkatkan risiko terserang diabetes tipe 2. Terlebih, gula cair dalam minuman membuat seseorang bisa mengonsumsi fruktosa dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Dalam penelitian pada 300.000 orang, mereka yang mengonsumsi 2 minuman dengan pemanis tambahan setiap hari 26% lebih rentan mengalami diabetes tipe 2.

Melihat beberapa dampak negatif gula cair terhadap kesehatan di atas, perlu diingat bahwa ini tidak hanya berlaku bagi orang dewasa atau yang sudah memiliki penyakit bawaan sebelumnya. Justru, anak-anak juga rentan mengalami pre-diabetes hingga obesitas apabila terbiasa mengonsumsi minuman dengan pemanis tambahan.

Idealnya, orang hanya boleh mengonsumsi 143 kalori dari minuman dengan pemanis tambahan. Namun tentu dalam sehari, gula yang dikonsumsi bukan hanya dari sebotol minuman manis saja, tetapi juga setiap makanan atau olahan lain juga tentu mengandung gula.

Terlebih, di luar sana begitu banyak minuman dengan pemanis buatan tersedia, dijual dengan harga terjangkau, dikemas menarik, ditambah pula dengan pemasaran yang menarik.Artinya, “rem” untuk membatasi diri dari konsumsi pemanis tambahan berlebih ada di diri sendiri. Kebiasaan mengonsumsi minuman dengan pemanis tambahan – terutama yang dalam kemasan – mungkin terasa biasa karena di luar sana orang-orang juga banyak yang melakukan hal serupa.

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018