Saturday, 24 October 2020


Kembali Sehat, Berbagi Tips dengan Penyintas Covid-19

10 Oct 2020, 21:44 WIBEditor : Yulianto

Bincang bincang bersama penyintas Covid-19 | Sumber Foto:ARM HA IPB

TABLOIDISNARTANI.COM, Jakarta---Positif Covid-19. Mendengar kabar tersebut, seperti hidup ini sudah diujung akhir dan kematian sudah di depan mata. Bukan hanya itu, terpapar virus corona bagi seseorang ibarat aib bagi keluarga. Pandangan itu menghantui benak sebagian besar masyarakat.

Namun phobia tersebut tak seharusnya terjadi. Memang banyak kasus orang yang terinfeksi virus corona, harus kembali ke pangkuan ilahi. Tapi tak sedikit penderita dapat sembuh dan kembali beraktivitas.

Dalam Bincang-bincang Aksi Relawan Mandiri (ARM) HA-IPB yang berlangsung Sabtu (10/10), para penyintas Covid-19 berbagi cerita dan memberikan tips keluar dari lubang jarum Covid-19. Siapa saja mereka?

Penyintas Lely Pelitasari

Lely Pelitasari Soebakty bisa menjadi salah seorang yang bisa sembuh dari Covid-19.  Wakil Ketua Ombudsman RI ini bercerita, awal terdeteksi positif Covid-19 dirinya tidak merasakan ada terkena Covid-19. Pada malam sebelum diketahui positif, dirinya memang merasakan demam, tapi tidak terlalu berat.

“Tapi setelah dicek di rumah sakit ternyata positif. Saat itu memang belum ada kriteria OTG (orang tanpa gejala),” ujarnya saat Bincang-bincang ARM HA-IPB (BBA) bersama Penyintas Covid-19, Sabtu (10/10).  

Mantan Direktur Pengadaan Perum Bulog itu termasuk angkatan pertama penderita Covid-19. Bahkan saat dinyatakan positif pada 20 Maret 2020, Wisma Atlet yang menjadi pusat penampungan penderita Covid-19 belum dibuka. “Informasi juga belum banyak, pasien juga belum banyak. Kasus di kementerian lembaga pun baru sedikit,” katanya.

Bagaimana Angkatan 27 IPB ini bisa terjangkit virus Covid-19? “Bisa jadi karena ritme kerja saya dalam dua minggu sebelum positif. memang lagi tinggi. Ke rumah sakit hampir 3-4 kali, kemudian bertemu orang banyak. Bahkan pulang kerja tiap hari paling cepat jam 10 malam, pagi saya harus berangkat lagi,” tuturnya.

Lely mengakui, saat terpapar virus corona yang paling dirasakan adalah tenggorokan. Karena itu selama perawatan dirinya selalui menyediakan air mineral di ruangan, minum air hangat plus madu dan sering berkumur dengan air garam. “Padahal sebelumnya saya tidak suka madu, tapi sekarang tiap pagi saya mengonsumsi madu. Ini sugesti atau bukan? saya tidak tahu,” ujarnya.

Dari runtutan kejadian tersebut, Lely mendapat pelajaran berharga bahwa kita tidak boleh lengah, meski gejala ringan. Orang yang terkena bisa jadi bukan karena fisiknya, tapi faktor pikiran yang kemudian berdampak pada fisik. Untuk itu ia mengingatkan jika ada gejala, maka jangan menganggap enteng, tapi jangan panik.  “Jika panik, kita tidak bisa perpikir jernih, bahkan berpengaruh besar pada fisik,” katanya.

Hal lain yang Lely pesankan kepada setiap orang adalah care and share. Ketika pergi sebaiknya selalu membawa masker lebih. Ketika di jalan melihat orang lain tidak memakai masker, kita bisa memberikan atau berbagi.

Kemudian jangan lupa menjaga raga dan jiwa. Menjaga raga dengan berolahraga pagi-sore dan mengurangi berada di ruangan ber-AC. Menjaga jiwa dengan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. “Saya sekarang sebelum tidur mendengarkan murotal. Dengan cara itu, pagi hari terasa bisa lebih tenang,” ungkapnya.

Lely mengakui, salah satu yang masih menjadi pekerjaan rumah, khususnya pemerintah adalah bagaimana orang yang terpapar Covid-19 ini bukan menjadi suatu yang aib. Stigma negatif terhadap Covid-19 yang melekat pada sebagian masyarakat membuat banyak yang terkena justru menutupi, padahal lebih baik transparan sehingga bisa terdeteksi.

Penyintas Dr. Imam T. Saptono

Pengalaman berharga juga bisa didapatkan dari penyintas Covid-19 lainnya, Direktur Utama Trihamas Syariah Finance, Dr. Imam T. Saptono. Kondisi kesehatan Wakil Badan Wakaf Indonesia saat terpapar Covid-19 terbilang lebih mengkhawatirkan, karena sempat dirawat di ICU dan menggunakan ventilator.

Sebelum dinyatakan positif Covid-19, seperti Lely, awalnya Imam juga tidak merasakan ada gejala, termasuk batuk, meski ada demam. Bahkan dirinya sempat mengisi webinar. “Tapi setelah acara tersebut badan saya menggigil tanpa sebab, malam juga tidak bisa tidur, selera makan hilang karena mual,” tutunya.

Namun setelah diperiksa dan swab, hasilnya positif Covid-19. Setelah itu kemudian, Imam mengakui, mulai sesak nafas, meski tidak berat. Kondisi ternyata makin kurang parah. Enam hari di ruang perawatan dengan bantuan oksigen. Bahkan pemasangan oksigen hingga full drat 5 tidak cukup membantu.

Apalagi empat hari sebelum masuk ICU, Imam mangku sempat diare, sehingga membuat dirinya sulit tidur. “Saat masuk ICU badan saya sudah cukup lemah, bahkan hampir pingsan dan tidak kuat mengankat tangan. Akhirnya dokter memutuskan untuk memasang ventilator,”  ujar Dewan Pembina ARM HA IPB itu.

Apa yang membuat Imam bisa kembali sehat? Ternyata salah satu ‘obatnya’ adalah ketenangan dalam pikiran. Pada hari kedua berada di ICU, istrinya memberikan MP3 player yang berisi video dan voice kumpulan dari sahabatnya saat SD hingga S3, termasuk teman sekantor waktu di BNI dan BNI Syariah.

“Saat itu saya kembali optimis kembali. Bahkan pada hari keempat, ventilator sudah dicopot. Ini rekor penggunaan ventilator tercepat. Padahal biasanya pasien Covid-19 lebih dari seminggu, ada juga yang sampai dua minggu,” ungkapnya.

Faktor lain yang membuat cepat pulih, Imam mengatakan, adalah sejauh kondisi fisik seseorang kuat dan sering mengonsumsi vitamin akan membantu proses penyembuhan. “Sebelum terkena Covid-19, kebetulan saya sering minum probiotik, vitamin, madu dan habatussaudah,” ujarnya.

Selain itu Imam juga mengingatkan, jangan terlalu khawatir dan paranoid. Namun jangan juga terlalu menganggap ringan. Protokol kesehatan adalah bagian dari ungkapan syukur dari rahmat kesehatan. “Kalau kita anggap kesyukuran dampaknya adalah sebagai sebuah ibadah dan perubahan gaya hidup untuk lebih banyak berbagi,” tegasnya.

Reporter : Julian
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018