Wednesday, 21 October 2026


Topang Ekonomi, 17 Lokasi Jadi Sasaran Agroeduwisata, Dimana Saja?

14 Dec 2020, 12:57 WIBEditor : Yulianto

Agrowisata Situ Bolang di Indramayu

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian menggencarkan program agroeduwisata. Setidaknya ada 17 lokasi yang akan menjadi sasaran. Dimana saja?

Data Ditjen Hortikultura, agrowisata tersebut diantaranya, Situ Bolang di Kabupaten Indramayu; Agrowisata di Kabupaten Toba Samosir yang akan dikelola Poktan Maduma, TTP Cigombong di Kabupaten Bogor, Agrowisata Jeruk Eptilu di Kabupaten Garut, Kawasan Salak di Kabupaten Sleman, DIY; P4S Citra Muda Kopeng di Kabupaten Semarang.

Ada juga yang berada di kebun buah Borobudur di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah; Poktan di Kota Agung (Kabupaten Tanggamus, Lampung, lahan milik Poktan Rahayutani dan Mekar Setia. Selain itu ada juga agrowisata di lahan milik UPT Kementerian Pertanian yakni  BBPP Lembang, Balitsa Lembang di Kabupaten Bandung, Jabar, TSP Balitjestro di Kota Batu, kawasan Balingtan di Kabupaten Pati. Di Jakarta ada Kebun Cilangkap dan kebun bibit Cibubur dan Ciganjur di DKI Jakarta.

 

Situ Bolang

Agrowisata Situ Bolang di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, menjadi satu dari 17 lokasi pelaksanaan Agroeduwisata. Usaha yang dirintis Kelompok Tani (Poktan) Agrimania secara swadaya ini dipilih karena terbukti mampu menghidupkan perekonomian masyarakat sekitar, khususnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Meski baru diresmikan Oktober 2019, Agrowisata Situ Bolang yang berdiri di atas lahan seluas 15 hektare (ha) mampu mendatangkan 500 pengunjung saat Sabtu dan naik 3-4 kali lipat pada Minggu. Berbagai varietas buah yang dibudidayakan serta produk olahan mangga hasil industri kecil dan menengah (IKM), seperti kerupuk mangga, kopi biji mangga, jus buah mangga dalam kemasan, dan dodol, menjadi daya tarik tersendiri.

Selain beragam tanaman buah yang memikat mata dan lidah, Agrowisata Situ Bolang telah dilengkapi berbagai fasilitas dan wahana, baik yang dikelola Poktan Agrimania maupun masyarakat sekitar. Misalnya, kolam renang untuk anak, berkeliling lokasi dengan ATV atau kuda, kegiatan memanen dan membeli benih atau buah segar, hingga saung bambu untuk beristirahat.

Menurut Retno, kini pengelola Agrowisata Situ Bolang tengah membangun gedung pertemuan berkapasitas 150 orang dan disiapkan mess di sekitarnya. Fasilitas tersebut kelak dimanfatkan peserta pelatihan atau magang untuk beristirahat. Pihaknya, akan segera menerjunkan tim pakar Balitbangtan hingga perguruan tinggi untuk meningkatkan kapasitas tim pengolah buah mangga menjadi beragam produk turunan yang memiliki nilai tambah bagi masyarakat.

“Ini bagian dari hilirisasi, terutama peningkatan mutu, tata kelola produksi, pengemasan, dari labeling," ucapnya. Selanjutnya, ungkap Retno, pemerintah juga akan mendorong Agrowisata Situ Bolang menjadi pusat pelatihan pertanian dan pedesaan swadaya (P4S).

Hal ini lantaran budidaya mangga sudah dilakukan secara modern dan sering memberikan edukasi kepada berbagai pihak. Upaya yang telah dilakukan adalah dengan memberangkatkan salah satu anggota Poktan Agrimania sekaligus petani milenial, ke Taiwan untuk menimba ilmu selama setahun.

Hidupkan Ekonomi Daerah

Dirjen Hortikultura Kementan, Prihasto Setyanto, menyatakan, agroeduwisata dipilih karena tren pariwisata Tanah Air sedang naik daun dalam beberapa tahun terakhir. Namun, terpuruk saat pandemi karena penerapan pembatasan interaksi. Di sisi lain, sektor pertanian juga tumbuh pesat saat naik.  “Kalau ini kita combine, tentu dampaknya akan besar, baik terhadap perekonomian nasional maupun peningkatan kesejahteraan petani," tutur Anton, sapaannya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan rata-rata pertumbuhan kunjungan turis, terutama wisatawan mancanegara (wisman), mencapai 14 persen pertahun pada 2014-2018. Angka itu lebih tinggi daripada periode 2009-2013 yang rata-rata 9 persen pertahun.

Masih menurut BPS, kunjungan wisman pada 2009 mencapai 6,32 juta orang. Jumlahnya meningkat pada tahun-tahun berikutnya, 8,8 juta orang pada akhir 2013 dan 2018 menembus 15,81 juta orang. Lonjakan jumlah wisman ini turut meningkatkan devisa dari sektor pariwisata.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), 10,761 miliar dollar AS pada 2015, 11,206 miliar dollar AS pada 2016, dan 13,139 miliar dollar AS pada 2017, dan 16,426 miliar dollar AS pada 2018 (angka sementara).

Llaju sektor pariwisata melesu seiring terjadinya pandemi Covid-19. BPS mencatat, hanya 160.000 wisman yang mengunjungi Indonesia pada Juni 2020 atau turun signifikan hingga 88,82 persen dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar 1,43 juta wisman. Secara kumulatif, sebanyak 3,09 juta wisman berlibur pada semester I 2020. Artinya, turun 59,96 persen dari periode sama 2019 yang berjumlah 7,72 juta kunjungan.

Sekretaris Ditjen Hortikultura Kementan, Retno Sri Hartati Mulyandari, menambahkan, program agroeduwisata memiliki beberapa tujuan. Agroeduwisata akan menyasar optimalisasi pengelolaan sumber daya pertanian di wilayah pengembangan guna mewujudkan sistem pertanian berkelanjutan dengan cakupan komoditas unggulan setempat.

Dengan demikian, bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan petani, menjadi tempat pelatihan dan inkubasi bisnis, serta model diseminasi inovasi teknologi pertanian. “Kami memilih Agroeduwisata karena tergolong model bisnis yang terintegrasi, efisien, dan ekonomis mengingat seluruh upaya-upaya tersebut dilakukan dalam suatu wilayah dan dikemas sebagai wahana edukasi sekaligus wisata,” kata mantan Kepala Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian (Pustaka) Kementan ini.

Dalam pelaksanaannya, Ditjen Hortikultura menggunakan pendekatan pemberdayaan masyarakat dan menerapkan pengelolaan sumber daya berkelanjutan dalam melaksanakan program Agroeduwisata. Opsi tersebut dikedepankan lantaran pemberdayaan membangun rasa memiliki dan menghindari ketergantungan pada program sehingga petani selaku pengelola dapat mandiri.

Dengan demikian, kata Retno, pemerintah selaku katalisator dan motivator hanya memberikan dukungan mencakup aspek manajemen, pendampingan atau peningkatan kapasitas, fasilitasi peningkatan nilai tambah, akses pasar, kemitraan, dan teknologi. Adanya bantuan sarana dan prasarana hanya sebagai stimulus bagi pengelola.

Reporter : Kontributor
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018