Sunday, 17 January 2021


Cerdik Sehat: Yuk Hidup Sehat Tanpa BPA

15 Dec 2020, 12:55 WIBEditor : Yulianto

BPA menjadi bahan plastik yang kerap digunakan sebagai bahan baku kemasan makanan | Sumber Foto:Dok. Cerdik Sehat

TABLOIDSINARTANI.COM,Jakarta---Kesehatan selalu menjadi bahasan menarik dari waktu ke waktu. Pasalnya, kesehatan merupakan investasi seumur hidup dan ada begitu banyak informasi baru yang bisa didapatkan dari bahasan tersebut.

Cerdik Sehat sebagai sebuah organisasi yang peduli dan berfokus pada bidang kesehatan masyarakat mengingatkan masyarakat terhadap bahaya BPA. Apa itu BPA? Bisphenol-A atau BPA merupakan zat kimia yang sering digunakan dalam banyak produk plastik. Biasanya sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari seperti wadah atau kemasan plastik, botol bayi, mainan anak-anak dan masih banyak lainnya.

Ternyata, BPA dikabarkan memiliki dampak buruk yang dapat mengganggu kesehatan tubuh manusia. Selama ini banyak masyarakat kurang menyadari kandungan BPA, padahal produk tersebut sering ditemukan dalam peralatan sehari-hari.

“Sebagai organisasi yang peduli pada kesehatan, kami ingin terus mengajak masyarakat untuk cerdik menjalani kehidupan. Salah satunya menjaga kesehatan dengan hidup sehat tanpa BPA,” kata Founder Cerdik Sehat, Desak Made Lidya Metasari dalam satu webinar “Dari Rumah Mengenal BPA pada Kemasan Makanan.”

Desak mengungkapkan, dengan webinar ini dapat mengajak masyarakat terutama orang tua milenial lebih memperhatikan kesehatan keluarga yang dimulai dari pemilihan kemasan makanan dan minuman. Para orang tua bisa memulainya dengan menghindari penggunaan barang-barang berbahan plastik, memperhatikan kode resin atau kode plastik pada kemasan. Selain itu, menghindari memanaskan makanan yang dikemas dalam wadah plastik dan menghindari makanan dan minuman dalam kemasan kaleng.

Berdasarkan informasi yang ditemukan, dampak BPA dapat dialami semua orang, mulai dari bayi hingga lansia. BPA diduga menjadi zat yang dapat mengganggu sistem endokrin atau hormonal dalam tubuh. Hal ini memicu perubahan metabolisme tubuh dan berkaitan dengan resiko terjadinya masalah reproduksi, penyakit jantung, kanker, gangguan perilaku pada anak, hiperaktivitas dan gangguan lainnya.

Sementara itu, dr. Daulika Yusna, SpA, Dokter Spesialis Anak Neonatologist menyarankan bagi ibu yang memiliki anak balita, sebaiknya mulai selektif dalam memilih kemasan makanan dan minuman, terutama untuk anak-anak. Mulai dihindari dan dikurangi penggunaan plastik sebisa mungkin.

Produk berbahan dasar plastik menurutnya, jika terkena panas atau dicuci berulang kali bisa memicu luruhnya zat kimia berbahaya yang akan mencemari makanan atau minuman anak-anak. “Karena itu, kita bisa mulai memikirkan alternatif peralatan lain seperti menggunakan bahan kaca, stainless steel atau silicone,” ujarnya.

Adapun, dr. Darrell Fernando, SpOG, Dokter Spesialis Kandungan menambahkan, meski konsumsi BPA dalam dosis tertentu masih aman, namun ada baiknya untuk menghindari bahan-bahan yang mengandung BPA. Dalam kehamilan, BPA dapat menyebabkan berbagai komplikasi kehamilan dan gangguan pertumbuhan janin. Tak hanya itu, paparan BPA sejak dalam kandungan dikhawatirkan memiliki dampak jangka panjang terhadap perkembangan anak, tegasnya.

Agar penggunaan BPA masih dalam batas wajar dan menghindari dampak yang berarti, ternyata beberapa negara telah menetapkan regulasi mengenai Tolerable Daily Intake (TDI) dan batas Specific Migration Limit (SML). Regulasi ini berguna untuk mengatur jumlah maksimum kontaminasi BPA setiap harinya.

Beberapa negara tersebut antara lain seperti Eropa, Amerika Serikat, Korea Selatan, Jepang, China dan Indonesia. Dalam pelaksanaannya, mereka memiliki kebijakan masing-masing.

Sebagai dukungan atas kebijakan TDI dan SML, kini banyak produsen kemasan telah menggunakan alternatif bahan yang lebih aman. Saat ini sudah banyak ditemukan peralatan sehari-hari yang berlabel BPA Free atau Food Grade.

Adanya label tersebut menandakan kemasan tersebut aman jika harus berkontak langsung dengan makanan atau minuman. Meski demikian, kemasan dengan label tersebut dikatakan masih bisa mengandung zat BPS atau Bisphenol-S yang sama buruknya dengan BPA.

Nucha Bachri sebagai Ibu Rumah Tangga Milenial mengatakan, sebagai seorang ibu rumah tangga, dirinya berupaya selektif memilih kemasan untuk anak-anak. Hal ini dimulai dari peralatan makan hingga barang yang digunakan untuk beraktivitas sehari-hari. Selama di rumah, biasanya kami lebih sering menggunakan peralatan yang memiliki label BPA Free atau alternatif bahan lain seperti stainless steel, ujarnya.

Apa itu BPA?

BPA adalah monomer yang digunakan dalam pembuatan polikarbonat dan resin epoksi. Polikarbonat sendiri dikenal memiliki sifat yang kaku dan transparan. Berdasarkan sifat bawaannya tersebut, polikarbonat seringkali digunakan sebagai bahan atau wadah yang akan berkontak langsung dengan makanan atau minuman.

Dr.-Ing. Azis Boing Sitanggang, S.TP, MSc, pakar teknologi pangan IPB University mengatakan, polikarbonat biasanya untuk barang-barang seperti peralatan makan, botol susu bayi, mainan bayi bahkan hingga empeng. Selain itu, digunakan juga untuk peralatan medis, tinta cetak, CD maupun DVD.

Sedangkan paparan BPA paling sering terjadi melalui migrasi dari bahan kemasan yang mengalami kontak langsung dengan makanan. Dalam hal ini adalah kemasan atau barang berbahan plastik dari polikarbonat maupun kemasan kaleng, khususnya untuk mengemas produk infant formula.


Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018