Sunday, 17 January 2021


Rumus Jitu Jadi Pelaku Hidroponik Sukses

27 Dec 2020, 19:46 WIBEditor : Gesha

Horticulturist yang aktif berhidroponik di Yogyakarta, Ani Andayani dengan tomat Darajingga hasil hidroponik | Sumber Foto:Pribadi

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta – Trend Hidroponik memang tengah merambah masyarakat kota-kota besar. Ada yang hanya sekedar hobi, sampai yang ingin berbisnis. Tapi, tak banyak juga yang sukses menggelutinya.

“Karakter pelaku hidroponik sukses itu harus tekun, telaten dan paham nutrisi. Banyak pihak yang ber-hidroponik karena coba-coba tanpa belajar tapi maunya sukses,” tutur seorang Horticulturist yang aktif berhidroponik di Yogyakarta, Ani Andayani.

Diakuinya, sekarang ini banyak yang terjun ke hidroponik menggunakan formulasi instan. Padahal, fisiologi tanaman dan respon tanaman terhadap nutrisi itu penting untuk dipelajari, secara praktis dan sederhana. “Di paket-paket pelatihan hidroponik, jarang yang menjelaskan tentang oksigen bagi respirasi akar tanaman lho, padahal itu penting untuk keberhasilan dalam tanaman hidroponik,” tambahnya.

Larutan nutrisi instan yang kini sudah banyak beredar dan menjadi andalan pelaku hidroponik di Indonesia, dirasanya kurang optimal untuk memenuhi kebutuhan nutrisi berbagai tanaman. Karenanya, Ani lebih senang menggunakan larutan nutrisi racikan sendiri.

“Ilustrasinya, larutan siap pakai instan itu kan sama dengan bumbu rendang instan. Tapi, bagi orang tertentu yang lebih suka pedas atau lebih suka manis, tidak bisa menambahkan bumbu sendiri,” cerita Ani.

Dirinya mencontohkan, saat pertanaman melon secara hidroponik, larutan nutrisi instan tersebut tentunya tidak bisa mencukupi disaat aktivasi enzymatic saat berbunga dan berbuah, karena harus ada ketersediaan K dari K2SO4 dan nutrisi lainnya. Begitu juga dengan tomat yang sangat responsif dengan nutrisi.

“Respon tanaman terhadap nutrisi dan fungsinya serta gejala (jika kekurangan) secara fisiologis dan plant nutrition dari masing-masing tanaman buah/sayur hidroponik semua harus dipahami oleh pelaku hidroponik,” tambahnya.

Tak hanya kebutuhan nutrisi, sistem hidroponik juga harus disesuaikan dengan komoditasnya. Bagi pelaku hidroponik pemula, banyak pilihan sistem hidroponik yang bisa menjadi pertimbangan. Mulai dari Nutrient Film Technique (NFT), Deep Flow Technique (DFT), Wick, dan lainnya. “Kalau saya menggunakan DFT. Tapi ada juga yang pas untuk tomat misalnya dengan NFT atau dripped irrigation system,” tuturnya.

Mengapa memilih DFT?Ani menjelaskan untuk tanaman melon, tomat, paprika, cabai, semangka, terong, buncis, dan sayuran lainnya yang umur panen bisa mencapai 2-3 bulan, sistem DFT atau sistem dripped culture menggunakan Rockwool lebih pas. “Sistem Wick, cocok untuk tanaman leafy vegetable (sayuran hijau berdaun) yang umurnya pendek dan mudah diterapkan,” tambahnya.

Dalam menggunakan DFT, Ani menekankan pentingnya aerator, untuk memberikan oksigen dalam respirasi akar tanaman. “Kalau tidak, akarnya nanti busuk. Padahal, dalam DFT yang paling penting itu akar yang sehat sebagai sumber respirasi dan penyerapan nutrisi,” tuturnya.

Sumber Air

Karena menggunakan media air, sumber air yang digunakan juga harus diperhatikan. Diakuinya, ketersediaan air bersih di kota besar seperti Jakarta memang membutuhkan treatment khusus agar kebutuhan nutrisi bisa tersampaikan langsung ke tanaman. “Mungkin bisa terganggu dari ketersediaan nutrisi tertentu akibat polusi air yang mengandung metal Hazard,” jelasnya.

Sedangkan polusi udara di kota besar, Ani menjelaskan dapat mengganggu pertumbuhan tanaman hidroponik sendiri sebab proses asimilasinya terganggu dengan kemungkinan adanya metal Hazard dari polusi udara.

Meskipun demikian, Ani merasa perlu adanya penelitian lanjutan mengenai perbandingan urban farming khususnya hidroponik antar kota besar seperti Yogyakarta dan Jakarta, terkait polusi udara dan polusi air.

“Memang, urban farming skala rumah tangga, lokasi sangat mempengaruhi hasilnya. Di rumah saya (di Yogyakarta), saya menggunakan air pompa dan selalu saya analisis untuk kelayakan digunakan sebagai media hidroponiknya,” jelasnya.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018