Sunday, 17 January 2021


Hobi Hidroponik Asyik untuk Segala Usia

27 Dec 2020, 20:07 WIBEditor : Gesha

Hidroponik hasil pertanaman Ani Andayani, ternyata meenjadi kegiatan asyik di kala pensiun | Sumber Foto:Pribadi

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta – Memasuki usia pensiun, yang biasanya aktif berkegiatan di luar rumah, harus mulai berkegiatan di rumah saja. Padahal, ada cara asyik lho untuk mengisinya salah satunya dengan berhidroponik. Tak hanya pensiunan, usia muda juga bisa lho memulainya dari sekarang.

Seperti yang dilakukan oleh pensiunan Eselon 1, Staff Ahli Menteri Bidang Infrastruktur Pertanian, Kementerian Pertanian periode 2015-2018, Ani Andayani yang kini bermukim di Umbulhardjo, Yogyakarta.

Di lahan rooftop (atap dak) rumahnya, Ani mulai aktif menggeluti hobinya dengan berbekal pengetahuan selama sekolah Pascasarjana (S2 dan S3) di Jepang. “Selama 6 tahun disana (Jepang), saya hanya belajar hidroponik terkait penelitian tentang tomat hibrida,” ungkap peneliti dan inventor Tomat Hibrida varietas Darajingga ini.

Ani menuturkan hobi Hidroponik ini bukan baru digelutinya selepas pensiun, tetapi sudah dilakukannya sejak masa bakti di Kementan dan sepulang studi di Jepang. “Kalau kali ini secara khusus di rooftop dengan ukuran hanya 5x7 meter persegi saja,” tambahnya.

Dari hasil hidroponiknya itu, Ani sudah bisa memanen beberapa kali tanaman sayuran, September 2020 hingga awal Desember 2020, dirinya sudah panen sawi 3 kali, tomat 1 kali panen, dan melon. “Awal Desember 2020 ini mulai tanam cabai rawit, kangkung, tomat (varietas Glory dan Darajingga) hingga baby buncis,” jelasnya. Hasil tanaman hidroponiknya pun sebagian besar dikonsumsi sendiri oleh keluarga dan dibagi-bagi kepada tetangga, saudara dan kerabatnya.

Diantara semua sistem hidroponik, Ani menggunakan sistem Deep Flowing Culture atau lebih dikenal Deep Flowing Technique (DFT). Sistem ini menggunakan genangan pada instalasi dan menggunakan sirkulasi dengan aliran pelan. DFT hampir sama dengan sistem NFT yaitu mensirkulasi namun, pada sistem ini instalasi yang digunakan tidak menggunakan kemiringan. “Saya buat sendiri dengan kayu dan besi penyangganya, kemudian dilapisi plastik terpal/tenda tebal,” tuturnya.

Mengapa memilih DFT?Ani menjelaskan untuk tanaman melon, tomat, paprika, cabai, semangka, terong, buncis, dan sayuran lainnya yang umur panen bisa mencapai 2-3 bulan, sistem DFT atau sistem dripped culture menggunakan Rockwool lebih pas.

Diakui Ani, trend hidroponik kini memang tengah menjamur dan diminati semua usia, tak terkecuali pemula usia muda. Namun, tak jarang mereka akhirnya gagal di tengah jalan karena kurangnya pengetahuan tentang fisiologi tanaman yang dijadikan komoditas hidroponiknya.

“Saran saya, benih yang sehat dan kualitas baik adalah kunci keberhasilan. Sistem yang digunakan pun harus tepat, ada banyak cara hidroponik yang bisa ditiru. Tetapi, nutrisi, formula, dosis, pH dan kepekatan larutan (EC), air serta media yang digunakan harus disiapkan dan dipahami dengan baik,” sarannya.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018