Saturday, 06 March 2021


Selung Belum, dari Hutan Borneo untuk Gairah Pria

08 Feb 2021, 16:44 WIBEditor : Yulianto

Tanaman seluang belum dari hutan Kalimantan yang berkhasiat untuk gairah pria | Sumber Foto:Sitti Fatimah

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor---Nama tanaman seluang belum (Luvunga sarmentosa (Blume) Kurz.) mungkin belum banyak dikenal masyarakat Indonesia. Tapi, khusus bagi masyarakat Kalimantan, tanaman ini sudah cukup familiar sebagai tanaman obat yang berkhasiat meningkatkan stamina, gairah seksual dan kesuburan pria.

Sebagian masyarakat di Pulau Borneo menyebut tanaman ini dengan nama saluang belum. Bagian akar dan kayu dari seluang belum telah banyak digunakan masyarakat Dayak dan Banjar sebagai jamu. Biasanya akar dan kayu tanaman ini direbus dan air rebusannya diminum untuk meningkatkan kekuatan tubuh.

Selain digunakan sebagai afrodisiak (zat yang mampu meningkatkan gairah seksual), seluang belum juga dipakai masyarakat di Kalimantan Tengah untuk menyembuhkan sakit pinggang dan sakit ginjal. Tanaman ini juga memiliki khasiat sebagai antioksidan, anti bakteri dan anti biotik. Penggunaan ekstrak etanol batang seluang belum pada konsentrasi 0,5 persen mampu menghambat aktivitas bakteri Staphyllococcus aeoreus.

Seluang belum memiliki kandungan kimia antara lain flavonoid, steroid dan tannin. Ketiga senyawa tersebut berhubungan dengan aktivitas afrodisiak. Flavonoid dapat memperbaiki kualitas semen dan menghambat aktivitas phosphodiesterase yang mempengaruhi perilaku seksual pada tikus jantan.

Seluang belum awalnya ditemukan sebagai tanaman semak yang tumbuh di hutan hujan Vietnam. Di Indonesia masyarakat terbiasa memanfatkan getah tanaman ini sebagai obat sakit gigi. Getah yang keluar dari batang dipanaskan, selanjunya digosokkan pada gusi. Selain itu kulit dan daun untuk merawat sakit pada tungkai dan rematik.

Taksonomi saluang belum termasuk kedalam famili Rutaceae dengan klasifikasi sebagai Kingdom : Plantae; Divisio : Magnoliophyta; Kelas : Magnoliopsida; Ordo : Sapindales; Famili : Rutaceae; Genus : Lavanga; Spesies : Lavanga sarmentosa.

   

Perbanyakan tanaman

Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balitro) saat ini tengah memperbanyak seluang belum secara vegetatif dengan cangkok dan generatif menggunakan biji. Selama pertanaman di rumah kaca Balittro Bogor dalam waktu empat belas tahun, kondisi tanaman ini belum pernah menghasilkan bunga, sehingga tidak diketahui apakah bunganya dapat menghasilkan biji atau tidak. 

Daun seluang belum tergolong daun manjemuk, bertangkai pendek dengan bentuk agak bulat telur. Dalam satu tangkai terdiri dari tiga helaian daun. Ujung daun tumpul, dan pangkal daun meruncing. Sedangkan tepi daunnya rata, permukaan daun halus, dan tidak memiliki bulu.

Daun muda berwarna hijau agak kekuningan dan daun tua hijau. Daunnya memiliki aroma yang enak. Batang tanaman berkayu, memiliki cabang yang rapat. Dahan–dahannya kecil dan bersudut tajam. Arah tumbuh batang tegak lurus keatas dan percabangannya monopodial.

Tanaman memiliki sistem perakarannya tunggang yang memiliki banyak cabang akar. Selama dipelihara di rumah kaca, seluang belum belum pernah berbunga sehingga morfologi bunga belum dapat dikaraktersasi. 

Hasil pengamatan karakter kualitatif seluang belum di rumah kaca menujukkan bahwa warna daun muda yang hijau kekuningan), warna daun tua hijau. Warna batang muda hijau, dan warna batang tua coklat ke abu-abuan.

Pertumbuhan Tanaman

Pertumbuhan seluang belum saat dilakukan pengamatan di rumah kaca berumur 14 tahun. Karena koleksi dipelihara dalam lingkungan rumah kaca, pemeliharaan tanaman hanya dengan memangkas cabang, sehingga pertumbuhan tanaman menjadi kurang optimal dibandingkan kondisi alami bila dipelihara pada kondisi lapang.

Hasil pengamatan menujukkan bahwa tinggi tanaman mencapai 1,7 m, jumlah cabang 9 cabang, jumlah daun dalam satu cabang 50 helai, panjang daun 14.5 cm dengan lebar daun 6,6 cm. Pada kondisi normal tanaman di habitat aslinya bias mencapai 4-5 m. 

Seluang belum yang saat ini dikonservasi di rumah kaca Pemuliaan Balittro berasal dari hasil kegiatan eksplorasi plasma nutfah ke Kalimantan Selatan pada tahun 2014. Semenjak itu tanaman dipelihara di rumah kaca dengan prosedur standar yaitu penyiangan, penyiraman, pemupukan dengan pupuk kandang dua kali dalam satu tahun yaitu pada musim hujan di awal tahun sekitar Maret dan pada November.

Pemangkasan cabang dilakukan bila kondisi cabang sudah terlalu memanjang kesamping. Idealnya tanaman sudah dipindahkan ke Instalsi Penelitian, namun saat ini masih dipelihara di rumah kaca. Upaya perbanyakan seluang belum secara in vitro sedang dirintis di laboratorium Kultur Jaringan Balittro.

Sebagai sumber eksplan digunakan tunas terminal yang berasal dari pertanaman di rumah kaca. Untuk penyediaan sumber eksplan, seluang belum disemprot dengan gandasil seminggu sekali untuk memacu keluarnya tunas-tunas baru. Perbanyakan in vitro tergolong agak sulit karena tanaman memiliki jaringan kambium dan daya meristematis yang rendah. 

 

Reporter : Sitti Fatimah Syahid (Peneliti Balitro)
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018