Saturday, 06 March 2021


Berapa Pendapatan Pedagang Kue Putu: Sedih dan Senang?

09 Feb 2021, 18:13 WIBEditor : Ahmad Soim

Adriyanto Pedagang Kue Putu | Sumber Foto:Ahmad Soim

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor - Andriyanto (37) pedagang kue Putu dari Kersana,  Brebes, Jawa Tengah.

Setiap hari dia keliling jualan kue Putu. Suara khasnya terdengar dari kejauhan. Suara khas penjual kue Putu. "Ngiiiiingg,". 

"Suara ngiiingnya bisa kita matikan. Cukup kita tutup lubang samping ini dengan lidi bambu," kata Adriyanto pedagang kue Putu di Leuwiliang Bogor kepada Sinar Tani.

Lubang untuk suara khas pedagang putu dibuat dari besi berlubang berdiameter sekitar 2 cm. Ada lubang sempit, seperti lubang peluit. "Karena didorong uap panas maka peluitnya bunyi," jelas Adriyanto.

Ada dua lubang lainnya yang dia gunakan untuk memasak kue Putu.  Bisa untuk mematangkan putu selama 3 atau 4 menit.

"Ciri bahwa kue Putu sudah masak, adalah uapnya tembus ke permukaan kue Putu dan warna hijau basah secara merata," tambahnya.

Dalam sehari Adriyanto biasa membawa 3 kg bahan untuk kue putu. Bahannya berupa tepung beras, gula merah dan parutan kelapa.

Tepung berasnya dikasih warna hijau dari daun pandan. Daun pandan direbus, lalu diperas dan airnya untuk warna tepung beras. "Lalu tepung berasnya kita ayak atau saring hingga lembut," urainya.

Gula merahnya dilembutkan. Parutan kelapanya ditambah garam secukupnya.

Bila ada pembeli, ia ambil cetakan kue putu dari bambu, diisi tepung beras dan gula merah lalu di uap air panas. Tiga menit kemudian sudang matang.

Selanjutnya, kue kue Putu yang sudah matang itu dibungkus dan dicampur kelapa parut dan siap disantap.

Adriyanto, tinggal sendirian di Leuwiliang Bogor.  Istri dan dua anaknya tinggal di Brebes. Anak pertama kelas 6 SD dan anak keduanya kelas 2 SD.

Setiap tiga hari sekali, Adriyanto bisa kirim uang ke istrinya sekitar Rp 250 - 300 ribu rupiah. 

"Saya kirim lewat link BRI. Cukup nunjuki buku rekening istri. Istri bisa ambil pakai kartu ATM di Kersana Brebes," tuturnya.

Tidak ada libur kerja bagi Adriyanto. Kerja tiap hari. Hujan pun tetap kerja jualan. "Kalau ada sisa kita buang. Demikian juga bila kelapa parutnya ada sisa, kita buang, nggak bisa dipakai lagi," ceritanya sambil tersenyum walau agak sedih mimik mukanya.

Setiap hari ia menghabiskan 1,5 liter bahan bakar. Satu liter minyak tanah dan 0,5 liter solar. Keduanya dicampur untuk bahan bakar kompor minyak untuk menguapkan kue Putunya.

Reporter : Som
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018