Friday, 16 April 2021


KWT Berkarya, Ajak Emak-emak Berkarya di Pekarangan

05 Apr 2021, 16:40 WIBEditor : Yulianto

Mulyani (baju batik) ajak kaum ibu bangun KWT untuk berkarya di pekarangan | Sumber Foto:Echa

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor---Pandemi Covid-19 membuat kalangan ibu rumah tangga memiliki kesibukan lain. Salah satu kegiatan yang kini menjadi favorit adalah bertanam sayuran di pekarangan.

Nah, kesibukan ini juga dilakukan Kelompok Wanita Tani (KWT) Berkarya yang berlokasi di Cilendek Barat, Bogor, Jawa Barat. Kumpulan emak-emak ini menanam buncis. Bahkan kini mereka telah panen dengan hasil yang cukup memuaskan.

Adalah Mulyani ibu berusia 50 tahun ini yang merupakan pendiri KWT Berkarya. Awalnya Mulyani mengajak ibu-ibu di daerah rumahnya membentuk KWT untuk mengisi kesibukan dengan aktivitas yang bermanfaat.

“Saya bentuk KWT karena selama ini banyak ibu-ibu yang ngerumpi disamping rumah, dari pagi sampai malam bergantian.  Nah, dari pada ngerumpi lebih baik saya ajak bikin KWT,” tuturnya.

"Saya bersama ibu ibu binaan  ingin melakukan kegiatan positif walaupun dengan lahan yang sangat terbatas. Kita concern dengan budidaya komoditas hortikultura, terutama sayuran dan tanaman obat," ujarnya.

Mulyani bercerita, awalnya mereka bertanya apa KWT itu? “Saya jawabnya cukup simpel, kita tanam sayuran di kebon ibu-ibu, kemudian kita kerja bakti dan Alhamdulillaah dibantu juga bapak-bapaknya,” katanya pada Sinartani.

Mulyani bersama anggota KWT memanfaatkan lahan seluas 500 meter persegi untuk menanam sayuran dengan sistem hidroponik. Tanamnya yang bisa dipanen dalam waktu 2 minggu sampai satu bulan, seperti pakcoy, kale dan baby kailan.

“Itu semua hidroponik. Sementara yang kami tanam di pot dan polibag ada cabe, terong, seledri, bakung, kembang kol, tomat, talas, pohon pisang, baby buncis kenya dan sedikit tanaman toga,” ungkapnya.

Baby  buncis kenya menjadi salah satu komoditas unggulan yang dikembangkan KWT yang beralamat di Kampung Karya Bakti RT 03 RW 04 Kelurahan Cilendek Barat Kab. Bogor. “Alhamdulillah kami bisa panen 2 hari sekali untuk baby buncis, sementara kalau ingin buncis yang besar kami panen 3 hari sekali,” katanya.

Mulyani yakni, sayur buncis ini menjanjikan untuk dibudidayakan kaum ibu rumah tangga. Selain hasil panen bagus, harganya juga cukup tinggi, sehingga dapat menambah penghasilan ibu yang tergabung dalam KWT. saat ini harga buncis di tingkat petani mencapai Rp8.000-9.000/kg.

Tanaman lainnya adalah labu siam, daun bawang, tomat dan cabai. Ada juga aneka tanaman obat seperti jahe, kunyit, kencur, sereh dan lainnya. Selain membudidayakan tanaman sayuran, KWT Berkarya juga membangun kolam ikan nila dan tambakang.

Anggota KWT Berkarya menurut Mulyani saat ini ada 25 orang. Sebelumnya mencapai 30 ibu rumah tangga. “Mereka lebih banyak mengurus kebun sayuran di halamannya masing-masing, tapi kami terapkan sistem piket untuk mengurus kebun bersama,” tambahnya.

Harapan Mulyani untuk anak muda atau masyarakat luas adalah makin banyak yang memanfaatkan lahan pekarangan untuk kegiatan budidaya sayuran. Berkebun itu tidak harus kotor dan bisa bersih dengan cara hidroponik.

Apalagi jika ditekuni, Mulyani yakin, berkebun bisa menjadi peluang bisnis. Contoh dengan budidaya hidroponik yang waktu panen lebih singkat, polibag ataupun pot juga mudah aplikasinya.

“Tidak seperti dulu yang harus belepotan dengan tanah. Cita-cita saya lahan yang ditanam ini menjadi tempat edukasi bagi masyarakat sekitar, baik orang tua, anak anak kecil ataupun muda agar bisa menambah penghasilan bagi ibu ibu yang tergabung didalam KWT. Ayolah kita berkebun,” tuturnya.

---

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/

 

 

Reporter : Echa
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018