Friday, 07 May 2021


Boleh Ditiru, KWT Assalam Sulap Minyak Jelantah jadi Sabun

13 Apr 2021, 12:52 WIBEditor : Yulianto

KWT Assalam menyulap minyak jelantan menjadi sabun | Sumber Foto:echa

TABLOIDSINARTANI.COM, Depok--- Banyak ibu rumah tangga yang kerap membuang begitu saja minyak goreng bekas (jelantah). Tapi di tangan Kelompok Wanita Tani (KWT) Bank Sampah Assalam, justru minyak jelantah disulap menjadi sabun yang bernilai tinggi.

Limbah minyak goreng ternyata bisa didaur ulang menjadi bahan bakar biodiesel, bahkan sabun. Mulai dari masyarakat rumahan, mahasiswa hingga komunitas berhasil membuat sabun dari limbah minyak jelantah ini.

Seperti Lilis Herdina bersama anggota KWT Bank Sampah Assalam berhasil membuat dan menjual sabun minyak jelantah. Lilis yang tinggal di Wismamas Pondok Cabe Depok, mengaku, ide membuat sabun dari jelantah muncul dari banyaknya warga yang membuang minyak jelantah ke got atau ke tempat sampah meskipun memakai plastik.

“Membuang limbah minyak itu tetap saja akan menjadi pencemaran lingkungan,  karena minyak tidak bisa terurai dan akan menjadi lemak di dalam saluran air hingga membuat saluran air tidak lancar,” tuturnya.

Lilis awalnya menawarkan kepada warga untuk menukar 5 liter minyak jelantah dengan 1 liter minyak bersih yang bermerk, ternyata banyak sekali warga yang memberikan respon. Minyak jelantah oleh KWT Bank Sampah Assalam diolah menjadi biodiesel.

Namun akhirnya Lilis dan ibu rumah tangga lainnya berpikir bagaimana caranya memanfaatkan minyak jelantah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Pertama kali, ia membuat sabun untuk kalangan sendiri dan responnya positif.

“Hasilnya sangat memuaskan, baju putih yang sudah kumal kembali bersih menggunakan sabun batang minyak jelantah, terutama yang terkena noda, noda bisa hilang,” tuturnya.

Akhirnya produk sabun tersebut sebagai sabun ajaib. Kemudian, KWT Bank Sampah Assalam membuat sabun mijan (minyak jelantah) lebih banyak lagi. Hasil produksi kemudian diposting di sosial media. “Alhamdulillah laku keras dan repeat order, tapi sejak pandemi kami memang belum bisa kumpul bersama lagi jadi produksinya masih kami batasi,” ujarnya.

Untuk penjualan Lilis mengakui tidak menentu. Ada yang membeli lebih 20 batang untuk dijual lagi. Untuk harganya, KWT Assalam menjuak dengan harga Rp 10 ribu/pcs. “Kalau belinya 2 kami diskon jadi Rp 15 ribu per pcs. Selain untuk dijual, sabun mijan itu bisa ditambahkan hiasan untuk souvenir,” katanya/

Mudah membuatnya

Disamping mudah untuk membuat, menurut Lilis, bahan-bahannya pun gampang ditemukan di pasaran. Pembuatan sabun ramah lingkungan ini dimulai dengan proses penjernihan minyak jelantah. Saring dengan kain dan tampung minyak dalam wadah.

Saat proses penjernihan ini, KWT Assalam menggunakan arang untuk menyerap kotoran. Caranya dengan menaruh dalam wadah hasil saringan minyak.  Setelah itu, minyak jelantah yang sudah murni dicampur dengan larutan soda api (NaOH), minyak kelapa, cuka apel, fragrance oil atau jeruk nipis, pewarna makanan, serta ekstrak daun binahong sebagai bahan anti bakteri. Bahan-bahan tersebut dituang ke dalam cetakan dan biarkan 3-5 hari hingga padat.

Hasilnya, sabun ini bisa digunakan untuk mencuci baju, alat dapur, menyikat kamar mandi, bahkan mencuci kendaraan bermotor. Sabun ini diklaim sangat efektif menghilangkan kotoran berlemak, minyak dan noda yang membandel.

Sabun cuci dari minyak jelantah juga tidak pedih di tangan karena tidak menyertakan bahan deterjen dan pemutih dalam proses pembuatannya. Kelebihan lainnya adalah, sabun ini dapat dibuat sendiri di rumah dan yang pasti jauh lebih murah.

Lilis mengungkapkan, kendala ketika proses pembuatan adalah karena menggunakan soda api jadi harus hati-hati, jangan sampai kena tangan. Bahkan jika takaran tidak pas bisa membuat gagal.

“Harapan saya ingin mengenalkan secara lebih luas lagi pada masyarakat bahwa barang yang sudah tidak bermanfaat bisa dimanfaatkan menjadi sesuatu yang bernilai jual,” katanya.

---

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/

Reporter : Echa
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018