Sunday, 09 May 2021


Solusi Harga Meroket, KWT di Kota Batu Belajar Olahan si Pedas

19 Apr 2021, 15:07 WIBEditor : Yulianto

KWT di Kota Batu belajar olahan cabai | Sumber Foto:BBPP Ketindan

TABLOIDSINARTANI.COM, Kota Batu---Cabai menjadi salah satu komoditas hortikultura ini memiliki nilai ekonomi tinggi, bahkan gonjang-ganjing harganya bisa membuat inflasi. Untuk mengurangi dampak fluktuasi harga cabai, emak-emak di Kota Batu diajarkan olahan cabai.

Cabai juga menjadi tanaman yang banyak dibudidayakan petani di dataran rendah sampai dataran tinggi. Dari mulai lahan sawah maupun lahan kering. Nilai gizi yang terkandung dalam cabai pun tinggi, selain mengandung vitamin A, vitamin C dan vitamin D.

Cabai juga mengandung senyawa aktif capsaicin. Capsaicin secara alami banyak ditemukan pada biji buah cabai dan zat ini sering untuk mengurangi nyeri, karena khasiatnya sebagai antinyeri. Dengan manfaatnya yang beragam dan seiring kebutuhan cabai juga terus meningkat sejalan tingginya permintaan masyarakat.

Balai Penelitian Tanaman Sayuran melaporkan, prediksi kebutuhan dalam negeri akan cabai merah sebesar 720.00 – 840.000 ton/ha, sedangkan produksi nasional dengan luas panen 126.790 ha sebanyak 1.061.428 ton/ha.

Namun tanaman cabai memiliki masa kesegaran yang pendek dan mudah mengalami kebusukan. Untuk itu, diperlukan cara penanganan panen cabai yang baik hingga proses pengolahan hasil cabai.

Dengan demikian, cabai tidak hanya dikonsumsi dalam bentuk segar. Tapi juga berupa produk olahan yang memiliki masa simpan panjang, nilai tambah dan daya saing.

Untuk membantu masyarakat membuat cabai olahan, Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan bekerja sama dengan Dinas Pertanian Kota Batu menyelenggarakan Pelatihan Tematik Pengolahan Hasil Cabai. Kegiatan diikuti 30 anggota kelompok wanita tani (KWT) dari Kecamatan Bumiaji, Pujon dan Kota Batu.

Melalui metode Focus Disscusign Group (FGD) dan berdasarkan hasil skala prioritas masalah yang teridentifikasi menunjukkan teknologi pengolahan cabai menjadi alternatif pemecahan masalah cabai yang awet, memiliki nilai tambah dan nilai jual yang tinggi.

Lina Novi Ariani, widyaiswara BBPP Ketindan yang turut mendampingi dan melatih peserta mengatakan, olahan berbahan dasar cabai saat ini sangat diminati masyarakat. Wajar jika teknologi pengolahan cabai menjadi alternatif pemecahan masalah cabai, terutama saat harga anjlok,” ujarnya.

Untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan olahan cabai, peserta FGD melakukan praktek pembuatan bubuk, saos, pasta dan keripik cabai di Gapoktan Mitra Arjuna Kacamatan Bumiaji Kota Batu.

"Dimulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan sampai pengemasan, menjadi titik kritis keberhasilan produk," jelas Luki Budiarti dan Joni fasilitator Gapoktan Mitra Arjuna.

Dengan menggunakan prinsip pengeringan, cabai segar dikeringkan menggunakan food dehydrator menjadi simplisia cabai. Prinsip pengeringan ini efektif untuk memperpanjang daya simpan karena kandungan air cabai teruapkan oleh suhu panas.

Selanjutnya, menghasilkan simplisia dengan masa simpan yang lama yaitu satu tahun. Hal ini tentunya, dapat mengantisipasi turunnya harga cabai selama panen raya dan menjamin permintaan masyarakat tentang kebutuhan cabai.

Simplisia cabai yang sudah dikeringkan selanjutnya dapat ditepungkan menjadi bubuk cabai yang bisa langsung dikonsumsi dalam campuran makanan maupun menjadi produk yang masih dapat diolah. Jika ditambah aneka bumbu, maka nilainya tambahnya meningkat menjadi bon cabai.

Dengan pengemasan yang menarik, tujuan diversifikasi pangan dan ketersediaan pangan tercapai dan bisa menambah penghasilan petani dari kegiatan off farm,” kata Lina.

Tidak hanya belajar mengenai aneka olahan produk cabai, peserta juga belajar secara nyata kasus riil di lapangan beserta solusinya. “Kami harapkan nantinya ditindaklanjuti dengan jejaring kerjasama pemasaran antar KWT Kota Batu untuk memperkokoh kelembagaan dan kemitraan, ungkap Kepala BBPP Ketindan, Sumardi Noor.

Hal ini sejalan pernyataan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) yang  mengatakan bahwa dalam menghadapi wabah Covid-19, pertanian tidak berhenti dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional serta meningkatkan kesehatan masyarakat Indonesia agar lebih baik. “Sektor pertanian memiliki potensi yang sangat besar dalam menumbuhkan ekonomi nasional," ujar SYL

Sementara itu Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi mengatakan, pangan adalah masalah yang sangat utama. Pangan adalah masalah hidup matinya suatu bangsa.

Sudah waktunya petani tidak hanya mengerjakan aktivitas on farm, tapi mampu menuju ke off farm, terutama pasca panen dan olahannya. Banyak yang bisa dikerjakan untuk menaikkan nilai pertanian, khususnya pasca panen,” tegas Dedi.

Reporter : Lina Novi /Yeniarta (BBPP Ketindan)
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018