Friday, 07 May 2021


Menu Buka Puasa Ramadan di Qatar Ala Orang Aceh

01 May 2021, 08:15 WIBEditor : Ahmad Soim

Tinggal di Qatar. Bagaimana buka puasanya | Sumber Foto:Dok Pribadi

 

TABLOIDSINARTANI.COM, QATAR -- Tinggal di negara kaya seperti Qatar, Anna Marniaty dan Suami Muhammad Bin Yusuf asal Aceh memilih investasi untuk kuliahkan anaknya di tiga negara yaitu Indonesia, Jepang dan Jerman, ketimbang menumpuk materi.  Bagaimana kisah sosok ibu lima anak ini   berbuka puasa selama bulan Ramadhan di Qatar.

Selama Covid semua Cafe dan restoran di Qatar tutup. "Layanan untuk pembeli dan transaksi hanya boleh melalui order/delevery serta tidak boleh makan minum di tempat", jawabnya melalui pesan WA.

Suaminya yang bekerja di Qatargas sejak 15 tahun lalu. Berawal ikut training selama 6 bulan dan dilatih oleh Bule dalam Apprentice Program VIII, untuk diterima di EMOI, walaupun bermodal ijazah SMA dan bahasa Inggris yang pas pasan. "Dengan pengalaman tersebut Ia beranikan diri ke Qatar, karena jelang tsunami akhir tahun 2004, terjadi pengurangan karyawan di EMOI", kenangnya haru.

Untuk tahun ini katanya karena alasan Corona lebih memilih tidak mudik, terakhir pulang kampung tahun 2018. Selain itu lanjutnya, perusahaan tempat suaminya bekerja masih memberlakukan karantina. "Jadi kalaupun mudik nanti masa cutinya hanya habis untuk karantina saja", sambungnya.

 Dimasa pandemi ini katanya banyak kegiatan dan even besar tertunda, termasuk piala dunia yang semula akan digelar bulan July 2022 terpaksa digeser ke awal tahun 2023. Karena pada bulan tersebut di Qatar sedang musim panas.

Untuk mengisi kesibukannya sehari hari sebagai ibu rumah tangga, kesempatan dan waktu luang dimanfaatkan membuat makanan Indonesia dan dijadikan bisnis rumahan sehingga bisa mengatasi rasa jenuh masa Pandemi.

Anna Marniaty kelahiran Banda Aceh 51 tahun lalu. Sejak memutuskan untuk mendampingi suami tercinta di negara minyak Qatar, tekadnya sudah bulat akan selalu setia baik suka maupun duka...Dulu sekitar tahun 1992 - 1996 Anna pernah bekerja sebagai staf honorer di Balai Informasi Pertanian Aceh dan memutuskan resign dari pekerjaannya menikah dengan Muhammad bin Yusuf tahun 1994, yang kala itu dari 1991 - 2006  sebagai karyawan Mobil Oil Indonesia (sebelum merger menjadi Exxon Mobil/EMOI) di kota Lhokseumawe. Agustus tahun 2006 ikut suami bekerja di Qatar.

Dari perkawinannya itu sekarang keluarga mereka dikaruniai 4 putra ganteng dan 1 putri cilik nan cantik. Di rumah, dalam berkomunikasi dengan anak-anak selain menggunakan bahasa Indonesia, Pak Memed (Red suaminya) juga sering bertutur kata dengan bahasa Aceh. "Tujuannya agar supaya mereka bisa mengerti kalau suatu saat pulang dan bersilaturrahmi dengan saudara di kampung, walaupun tidak bisa berbicara, paling tidak mereka paham", celutuknya. Bahasa Indonesia sangat penting jawab Anna, karena itu merupakan bahasa Ibu Pertiwi. Jangan sampai kelak, waktu pulang ke Indonesia berbicara sama neneknya di kampung dengan bahasa Inggris.

Di Qatar kisahnya juga ada kelapa muda yang dipasok dari negara Thailand. Harga satu buahnya dibandrol tinggi  yaitu 11 Riyal atau Rp 44.000. Ada juga kelapa muda yang dalam kemasan harganya lebih murah hanya 4 riyal (Rp 16.000). Sementara untuk kelapa sayur/tua lebih murah lagi sekitar 3 riyal dan air tebu 6 riyal. "Kalau kepingin tebu yang sudah dipotong kecil- kecil harganya 7 riyal", bebernya.

Selama Ramadhan ada juga warga komplek yang menitip menu dagangan khas Indonesia dan Aceh. Untuk lauk dan sayur mayur harga 25 riyal serta kue 15 riyal per porsi.

Dia sempat terkenang bila mengingat dan melihat suasana beribadah puasa Ramadhan di Aceh, hatinya jadi rindu dengan kampung halamannya. "Kami di Qatar berpuasa lebih lama hinga 18 jam", cetusnya.

 Warga Indonesia banyak tersebar di beberapa wilayah, seperti di Doha, Wakra dan Umsaid. Kalau kami tinggal di Alkhor, jawab Memet yang saat dihubungi sedang Off kerja. Sekitar tahun 2007 - 2008 kata Memet, ada sekitar 300 orang yang berasal dari Aceh. Karena ada yang pensiun, pindah kerja ke luar dan terkena PHK, sekarang kalupun ada hanya 150an orang saja yang tersisa. "Kalau warga Indonesia di komplek tempat kami tinggal jumlahnya sekitar 150 KK", ujarnya.

Pada tahun 2005, Memet pernah tes interview pada empat perusahaan berbeda (Qafco, RasGas,   Dolphin energy dan Qatargas) di Jakarta mulai May - September - October dan November, dan akhirnya diterima di Qatargas...Sebelum diterima di Mobil oil dia sempat test di Garuda Indonesia sebagai pramugara, hingga lolos ke 5 besar dari 650 peserta.

Sembari menunggu  pengumuman, pria supel kelahiran November 1970, yang menempuh pendidikan SMP Negeri 1 Samalanga dan SMPN 3 Banda Aceh serta SMA Negeri 3 Banda Aceh berjuang ikut test di Mobil Oil. Dari situlah bertemu dengan mantan pacar yang sekarang menjadi isterinya.

"Pada saat liburan waktunya dimanfaatkan bersama keluarga mengendarai mobil untuk menunaikan ibadah umroh bahkan jalan jalan ke Dubai", pungkasnya.

Reporter : Abda
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018