Friday, 18 June 2021


Gadis Cantik Tak Tamat SMA Ini Rela Bantu Ibunya Bikin Emping Melinjo

08 Jun 2021, 15:00 WIBEditor : Ahmad Soim

Rani (paling kanan) Ibunya Habidah (tengah) dan sepupu ibunya Siti Aminah. | Sumber Foto:Abda

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Aceh -- Gadis cantik yang tidak sempat tamat SMA ini sering dipanggil Rani. Nama lengkapnya Saharani (18). Ia pemalu, tapi tidak mengurangi pertemanan, walau pergaulannya sangat berbeda dengan para remaja lain pada umumnya.

Anak ke empat dari 7 bersaudara pasangan Habidah dan Muhammad Yani ini, kondisi ekonomi dan biaya hidupnya pas pasan. Separuh waktu bermainnya digunakan untuk membantu ibundanya membuah Peh Keurupuk (Red. Kerajinan emping melinjo).

Ia tinggal dengan keluarga sederhananya di Desa Meucat Adan Kecamatan Mutiara Timur Kabupaten Pidie - Aceh .

Alasan membuat Peh Kerupuk katanya, hanya ingin membantu dan mengurangi beban ekonomi orangtua. ia mengaku ibunya sudah tua, dari gadis sampai kini terus berjibaku memporoduksi  emping melinjo. "Jadi kehadiran Rani semata - mata hanya ingin berbakti sehingga upahnya bisa untuk membeli lauk buat makan," lirihnya.

"Kalau tidak ada uang belanja, kami sering makan seadanya saja, tanpa lauk ikan," tambahnya.

Ayahnya yang bekerja sebagai sopir truk yang berpenghasilan tidak menentu, membuat dirinya rela berhenti dari sekolah. "Karena tidak ada biaya, jelang naik kelas 3 SMA, saya berhenti sekolah Pak," jawabnya pilu.

Pengalamannya Peh Keurupuk lanjutnya, dimulai sejak duduk di bangku SMP. Dari hasil kerajinan itulah Rani bisa mendapatkan uang jajan sekolah.

Obsesinya jika uangnya sudah terkumpul akan mengikuti kursus tata rias pengantin. Makanya, Rani selalu gigih bekerja. Hasil upah yang diterima katanya, hanya Rp 20.000/ bambu. Kalau sedang banyak melinjo per hari bisa dapat Rp. 40.000. Hasilnya ditabung untuk biaya kursus dan kalau ada lebih ingin membeli HP Android.

BACA JUGA:

Biasanya saat musim turun sawah, ibunya juga sering bantu ayah menanam padi pada lahan waqaf seluas 1/8 hektar, hasilnya cukup buat makan sehari - hari. "Namun kali ini kami tidak menanam padi, karena tidak ada modal, terutama beli pupuk dan obat hama," sambungnya.

Biasanya kalau ada modal, saat panen hasilnya kami bagi untuk empunya lahan milik desa.

Menurut peneliti BPTP Aceh, Dr Ir Basri A. Bakar MSi, melinjo merupakan salah satu tanaman khas di Kabupaten Pidie. Hampir setiap rumah masyarakat di Pidie katanya, memiliki tanaman tersebut. Sehingga Pidie lebih dikenal sebagai kabupaten penghasil emping/kerupuk melinjo di Aceh.

"Umumnya tanaman melinjo dapat berbuah sepanjang masa. Ketika panen buahnya dijadikan sebagai produk olahan (emping)," ujar Basri.

Kebiasaan perempuan di Pidie bekerja untuk mengambil upah membuat emping, bahkan hal ini sudah berlangsung lama dan menjadi kearifan lokal masyarakat setempat.

Kegiatan tersebut sebagian besar dilakukan bagi warga yang tidak memiliki kebun atau tanaman melinjo di kebun atau pekarangan rumah.

Ditambahkan, emping melinjo sangat digemari oleh semua lapisan masyarakat, mulai anak anak hingga orang dewasa. "Selain sebagai oleh-oleh, masyarakat di Pidie dan Aceh pada umumnya juga mengonsumsi emping melinjo bersama nasi sebagai penambah selera makan," cetusnya.

Program Cet Langet

Kehidupannya yang pas pasan keluarga ini, ternyata mendapat perhatian dari Program Cet Langet yang dikelola Edi Fadil. Karena rumahnya yang terbuat dari dinding tepas dan beratap rumbia, saat hujan sering bocor dan jika angin kencang menjadi kedinginan. Akhirnya mendapat program bantuan  rumah permanen.

Awalnya, karena merasa prihatin dengan kondisi rumah mereka, lantas Basri A. Bakar yang sekampung dengan keluarga miskin tersebut mengunggah foto kondisi tempat tinggal Habidah bersama keluarganya ke Facebook. Dari unggahan tersebut, sebagian netizen berkomentar terenyuh hati melihatnya. Sontak saja, Program Cet Langet bersama Pemkab Pidie dan Yayasan Pidie Mengajar turun tangan dan tiga bulan kemudian langsung membangun rumah ukuran tipe 36.

Saat menerima bantuan rumah tersebut, tak pelak seluruh keluarga sujud syukur kepada Allah, karena telah menerima rumah yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. "Jangankan bercita cita memiliki rumah sebagus ini, mimpi saja tak pernah," kenang ibunya terharu.

Kondisi ekonomi keluarga, tidak membuat Rani pasrah, bahkan dengan penuh keyakinan suatu saat akan berusaha mengubah nasib keluarga ke arah yg lebih baik. "Doakan kami ya pak, semoga kami bisa bangkit dari kondisi sekarang," pintanya lirih.

____

 Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/ 

Reporter : Abda
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018