Tuesday, 03 August 2021


Sensasi Menyedot Madu Linot di Sarangnya

14 Jun 2021, 07:56 WIBEditor : Gesha

Sedot madu linot | Sumber Foto:Istimewa

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Aceh -- Madu Linot (Red Kelulut) saat ini gencar dibudidayakan oleh masyarakat. Selain khasiatnya yang begitu banyak juga dapat menambah penghasilan. 

Pemilik sarang madu Linot asli, Iskandar yang tinggal di Banda Alam, Keude Geureubak idi, Aceh Timur, mengatakan 20 sarang madu belakang rumahnya selalu dijadikan ajang promosi.

"Kalau ada tamu, teman atau famili yang datang saya persilakan mereka untuk menikmati langsung dengan cara menyedot madu di sarang," bebernya.

Hal itu dilakukan agar masyarakat bisa mengenal lebih dekat serta melihat langsung madu yang dihasilkan. Termasuk juga saat guru mengajinya mampir ketempatnya, maka tak sungkan lagi disuguhkan madu tersebut."Semua itu dilakukan secara gratis dan tidak dipungut bayaran," ujarnya.

Tak terkecuali dengan Tgk. Abdullah H. Ahmad (48) yang akrab disapa Walid Lah kepada Sinar Tani, mengaku baru pertama kali menyedot madu langsung di sarang. "Rasanya sangat nikmat dan mantap seperti rasa buah buahan saja," ungkapnya.

Awalnya Walid Lah merasa enggan, tapi karena nikmat dan penuh khasiat maka dicoba juga. "Setelah saya coba malah ketagihan dan ingin menyedot lagi," simpulnya malu.

Menurutnya, dengan mengkonsumsi madu ini, badan yang sebelumnya lelah terasa segar dan fit kembali. Pasalnya dia mengemudikan mobilnya sendiri dari Krueng Geukuh, Aceh Utara ke Idi, Aceh Timur.

Sewaktu pulangnya juga saya yang nyetir, dan ketika sampai rumah tidurnya pun pulas dan nyenyak. "Bahka saat bangun pagi badan kita ringan dan segar bugar," imbuhnya.

Khasiat lainnnya, pernah beberapa waktu lalu di bagian tubuhnya terbakar api dengan anaknya, tapi dengan dioleskan madu bisa sembuh (tidak kembung dan berair).

Untuk itu pihaknya sangat tertarik mengkonsumsi terus menerus. Rencananya akan dikembangkan juga di balai pengajiannya.

Apalagi Camat di wilayahnya sangat mendukung. Budidayanya pun mudah tidak menyita waktu, dan bisa kita jadikan sebagai penghasilan tambahan serta tidak mengganggu lingkungan.

Walid Lah adalah Ketua Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Madinatuddiniyah NUR HIJRAH yang beralamat di jalan Banda Aceh - Medan KM. 255 Gampong Tambon Baroh, Krueng Geukueh Aceh Utara. 

Balai pengajian yang dipimpinnya berdiri di atas lahan seluas 2.000 meter. Jumlah santri ada seratusan, waktu belajarnya sore dan malam hari. "Di lokasi tersebut itu juga mengelola Taman Kanak kanak Swasta (TKS) dengan 30 murid, sedangkan TPQ muridnya sekita 40 orang," sebutnya. 

Kalau diajak berkunjung kerumah sudah biasa, tapi "karena dibawa ke sarang madu dan menyedot langsung, ini hal yang luar biasa," kenangnya. 

Walid Lah yang baru saja terpilih sebagai Imum Mukim Krueng Geukueh, berniat memelihara madu Linot di lahannya. Karena di lahan yang sempit masih bisa juga dibudiddayakan. Sehingga nanti menjadi contoh dan dapat ditiru oleh masyarakat di kemukimannya. 

Apalagi dalam lembaga yang dipimpinnya memiliki sejumlah santri, jadi kalau ada budidaya madu Linot mereka bisa belajar langsung. 

Suami Yuslinawati dan Ayah dari lima orang anak ini, walau saat kunjungan sebelumnya kurang tertarik. Namun dirinya sekarang menjadi yakin. "Apalagi kalau dikembangkan secara agrobisnis, budidaya madu Linot memiliki prospek yang sangat menjanjikan. Walaupun ini dijadikan usaha sampingan, tapi penghasilannya utama," timpalnya. 

Reporter : AbdA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018